Puputan Badung Hidup Kembali di Atas Kanvas, Karya Monumental Dokter Bagus Menggugah Ingatan Sejarah Bali

Denpasar, PancarPOS | Sejarah kelam sekaligus heroik Bali kembali dihidupkan melalui kanvas raksasa. Sebuah lukisan monumental bertema Perang Puputan Badung karya dr. Gede Bagus Darmayasa, MM., M.Repro., Direktur Utama RSU Puri Raharja, belum lama ini menyedot perhatian publik karena kekuatan visualnya yang tajam serta kedalaman pesan sejarah yang disampaikannya.
Lukisan hitam-putih berukuran besar tersebut menampilkan suasana mencekam saat pasukan kolonial Belanda berhadapan langsung dengan para pejuang Badung. Adegan meriam siap ditembakkan, prajurit bersenjata, kuda perang, hingga rakyat yang memilih jalan puputan digambarkan dengan detail yang kuat dan emosional. Komposisi visualnya membawa penikmat seolah masuk ke detik-detik paling menentukan dalam sejarah Bali, ketika keberanian dan kehormatan menjadi harga mati.
Nuansa tragis berpadu dengan semangat heroik dalam setiap goresan. Ekspresi wajah para pejuang, sikap tubuh rakyat yang pasrah namun bermartabat, serta latar kehancuran yang mengitari medan pertempuran memperkuat pesan tentang pengorbanan besar yang pernah terjadi. Lukisan ini tidak hanya bercerita tentang perang, tetapi tentang pilihan hidup dan mati demi harga diri.
Dokter Bagus, sapaan akrab dr. Gede Bagus Darmayasa, menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar ekspresi seni, melainkan media refleksi sejarah dan perenungan nilai-nilai luhur. Ia ingin generasi masa kini tidak sekadar mengenal Puputan Badung sebagai catatan sejarah, tetapi memahami makna filosofis di balik peristiwa tersebut.
“Puputan Badung bukan hanya peristiwa perang, tetapi simbol perlawanan total demi kehormatan dan martabat. Nilai inilah yang ingin saya sampaikan lewat lukisan ini,” ungkap dokter Bagus yang pernah menjabat sebagai Dirut RS Bali Mandara ini.
Sebagai pimpinan rumah sakit swasta ternama di Bali, dr. Gede Bagus Darmayasa dikenal memiliki sisi lain sebagai seniman yang konsisten berkarya. Di tengah kesibukannya memimpin RSU Puri Raharja dan mengelola dunia medis yang sarat dengan rasionalitas, melukis menjadi ruang kontemplasi sekaligus penyeimbang batin. Seni ia jadikan medium untuk berbicara tentang kemanusiaan, sejarah, dan identitas budaya Bali.
Tema-tema sejarah dan perjuangan memang kerap hadir dalam karya-karyanya. Bagi Dokter Bagus, seni memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan yang tidak selalu mampu diwakili oleh kata-kata. Melalui visual, emosi dan ingatan kolektif dapat dibangkitkan secara lebih dalam dan personal.
Kehadiran lukisan Perang Puputan Badung ini sekaligus menegaskan bahwa seni rupa dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Tidak hanya menyentuh rasa, tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif tentang jati diri dan perjalanan panjang sebuah bangsa. Di tengah arus modernisasi dan budaya instan, karya ini hadir sebagai pengingat keras bahwa kemerdekaan dan martabat dibangun di atas pengorbanan besar para leluhur.
Melalui kanvas ini, dr. Gede Bagus Darmayasa seolah mengajak masyarakat untuk kembali menengok sejarah, bukan untuk meratapi masa lalu, tetapi untuk memetik nilai-nilai keberanian, solidaritas, dan keteguhan prinsip yang tetap relevan hingga hari ini. ama/ksm









