Generasi Muda Kunci Keutuhan NKRI, Kesuma Kelakan Paparkan Strategi Empat Pilar di Gianyar

Gianyar, PancarPOS | Generasi muda Indonesia kembali diingatkan akan peran strategisnya dalam menjaga keutuhan bangsa. Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan sekaligus Anggota Badan Pengkajian MPR RI, I.G.N. Kesuma Kelakan, S.T., M.Si., menegaskan bahwa pengamalan Empat Pilar Kebangsaan adalah kunci untuk memastikan persatuan dan kesatuan Indonesia tetap utuh. Sosialisasi yang digelar pada tanggal 20 Desember 2025 di Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Gianyar, menempatkan generasi muda sebagai garda terdepan dalam menghadapi tantangan global, digitalisasi, dan dinamika sosial yang semakin kompleks.
Dalam paparannya, Kesuma Kelakan menekankan bahwa Indonesia adalah negara yang unik dan majemuk, dengan lebih dari 17.000 pulau, ratusan suku bangsa, bahasa daerah, serta keberagaman agama dan budaya. Keberagaman ini, jika tidak diiringi pemahaman dan internalisasi nilai kebangsaan, dapat menjadi titik rawan bagi disintegrasi. Oleh karena itu, empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi fondasi yang kokoh bagi generasi muda untuk menjaga persatuan bangsa.
Ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda saat ini. Di era digital dan globalisasi, mereka memiliki akses luas terhadap informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Namun di sisi lain, arus informasi yang tidak terfilter, penyebaran hoaks, radikalisme berbasis digital, serta konten yang merusak moral dan nilai kebangsaan, menjadi ancaman nyata yang dapat melemahkan rasa nasionalisme. Kesuma Kelakan menekankan bahwa internalisasi empat pilar bukan hanya menjadi kewajiban moral, tetapi juga strategi untuk mencetak generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan memiliki komitmen kuat terhadap bangsa.

Pancasila sebagai pilar pertama, menurutnya, merupakan pedoman moral dan ideologi bangsa yang menjadi kompas bagi generasi muda. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial harus dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertindak. Kesuma Kelakan mencontohkan, pengamalan Pancasila dapat diwujudkan melalui sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari, membantu sesama yang membutuhkan, serta menjauhi perilaku merugikan orang lain. Di era digital, pengamalan Pancasila juga berarti menolak penyebaran hoaks, menghargai perbedaan pendapat, dan menjaga perilaku yang santun di media sosial.
Selain itu, pemahaman UUD 1945 menjadi fondasi bagi generasi muda untuk memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kesadaran konstitusional memungkinkan generasi muda berpartisipasi aktif dalam proses demokrasi, mengikuti organisasi sosial atau kemasyarakatan, dan mengedukasi masyarakat melalui kegiatan yang bermanfaat. Kesuma Kelakan menekankan bahwa warga negara yang sadar hukum adalah benteng utama dalam menjaga stabilitas dan ketertiban nasional.
Pilar NKRI menegaskan pentingnya rasa nasionalisme dan komitmen terhadap keutuhan wilayah. Generasi muda harus bangga terhadap tanah airnya, melestarikan budaya lokal, menggunakan produk dalam negeri, serta aktif dalam kegiatan sosial yang memperkuat solidaritas. Di ranah digital, peran ini diwujudkan dengan melawan propaganda negatif, menyebarkan konten edukatif, dan membangun semangat persatuan melalui kreativitas. Kesuma Kelakan menegaskan bahwa sikap nasionalisme yang kuat akan menjadi benteng utama bangsa dari ancaman disintegrasi dan konflik horizontal.

Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar keempat menegaskan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang. Generasi muda harus mampu menjadi agen kerukunan yang menjembatani perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya. Kesuma Kelakan menekankan pentingnya membangun komunitas yang inklusif, menghargai perbedaan, dan menolak segala bentuk intoleransi, baik di lingkungan nyata maupun digital. Melalui pengamalan Bhinneka Tunggal Ika, generasi muda akan menjadi penguat harmoni sosial dan penopang persatuan bangsa.
Lebih jauh, Kesuma Kelakan menekankan peran strategis generasi muda dalam literasi digital. Media sosial dan teknologi informasi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat identitas bangsa, menyebarkan nilai kebangsaan, sejarah, dan budaya, serta melawan hoaks dan radikalisme daring. Generasi muda diharapkan menjadi kreator konten positif yang tidak hanya mengedukasi, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta tanah air di masyarakat luas.
Kesuma Kelakan menegaskan bahwa pembangunan karakter generasi muda tidak cukup hanya melalui pendidikan formal. Pendidikan nonformal, keluarga, masyarakat, dan media juga harus bersinergi dalam menanamkan nilai Empat Pilar Kebangsaan sejak dini. Generasi muda yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki nasionalisme tinggi akan mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas bangsa.

Menutup sosialisasinya, Kesuma Kelakan menekankan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda. Dengan memahami dan mengamalkan Empat Pilar Kebangsaan secara konsisten, generasi muda akan menjadi agen perubahan, penjaga moral bangsa, pelopor pembangunan, dan garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI. Keberhasilan menjaga persatuan bangsa bukan hanya tergantung pada struktur pemerintahan atau hukum semata, tetapi juga pada kemampuan generasi muda untuk menegakkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. ama/ksm














