Bawang Putih Bali Jangan Terus Bergantung Impor, Rektor Dwijendra Dorong Bangkitkan Sentra Produksi Lokal

Denpasar, PancarPOS | Ketergantungan terhadap bawang putih dari luar daerah dan impor dinilai harus segera diputus. Bali memiliki sejumlah wilayah yang berpotensi dikembangkan menjadi sentra bawang putih, namun pengembangannya membutuhkan ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir.
Rektor Dwijendra University, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., MMA., mendorong agar pengembangan bawang putih lokal kembali digencarkan sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan pangan Bali.
Hal itu disampaikan Gede Sedana di sela kegiatan penanaman bawang putih serentak di 17 provinsi, panen raya bawang putih serta groundbreaking gudang ketahanan pangan Polri di Subak Kumba, Desa Tampaksiring Kelod, Gianyar, Rabu (19/8/2026).
“Bawang putih merupakan salah satu komoditas pangan yang sangat penting dalam pemenuhan permintaan atau konsumsi dan juga memiliki pengaruh terhadap inflasi daerah. Oleh karena itu, pengembangan bawang putih lokal harus didorong dan dibangkitkan kembali pada wilayah-wilayah yang berpotensi di Bali,” ujar Gede Sedana.
Kegiatan penanaman serentak tersebut dipimpin langsung Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Di Bali, kegiatan dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya, S.H., S.I.K., M.Si., jajaran Polda Bali, Pemprov Bali, Pemkab Gianyar serta masyarakat Subak Kumba.
Koster sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap gerakan penanaman bawang putih yang diinisiasi Polri. Menurutnya, gerakan tersebut penting untuk memperkuat produksi dari sektor hulu hingga hilir, mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat swasembada pangan daerah.
Kapolda Bali juga berharap penanaman di Gianyar menjadi pemicu bagi daerah lain di Bali untuk mengembangkan komoditas serupa.
Gede Sedana yang didampingi Wakil Rektor I Dr. Ir. Frysa Wiriantari, S.T., M.T., dan Wakil Rektor II Dr. Ir. Arya Bagus Mahadwijati Wijaatmaja, S.T., M.T., mengatakan pengembangan bawang putih tidak cukup hanya dengan memperluas lahan.
Ada sejumlah pekerjaan mendasar yang harus disiapkan sejak awal, mulai dari ketersediaan benih, pupuk, irigasi hingga alat dan mesin pertanian.
“Harus diawali dengan penetapan lokasi-lokasi yang memiliki potensi untuk penanaman bawang putih dan penyiapan para petani yang akan mengelolanya,” jelasnya.
Menurutnya, petani yang tergabung dalam kelompok tani maupun subak harus mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan. Pendampingan tersebut mencakup praktik budidaya atau Good Agricultural Practices (GAP) hingga penanganan pascapanen atau Good Post-harvest Practices (GPP).
Peran penyuluh pertanian lapangan juga dinilai sangat penting agar teknologi dan praktik budidaya yang diterapkan petani mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Namun, persoalan bawang putih tidak berhenti di lahan. Setelah panen, petani harus memiliki kepastian bahwa hasil produksinya terserap pasar.
Karena itu, Gede Sedana menekankan pentingnya kehadiran off-taker atau pihak yang menjamin penyerapan hasil produksi.
“Adanya jaminan pasar atau off-taker produk bawang putih sangat penting guna memberikan keuntungan ekonomis bagi para petani,” katanya.
Menurutnya, kepastian pasar akan menjadi insentif bagi petani untuk terus menanam bawang putih. Tanpa pasar yang jelas, peningkatan produksi justru berisiko tidak memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi petani.
Ia mengingatkan Bali sebenarnya telah memiliki landasan kebijakan untuk memperkuat pemasaran dan pemanfaatan produk pertanian lokal.
Salah satunya Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan, dan Industri Lokal Bali.
Kebijakan tersebut, kata Sedana, dapat menjadi salah satu pijakan untuk membangun pasar bagi produk bawang putih lokal.
“Ekosistem produksi bawang putih dari hulu sampai ke hilir diharapkan dapat berjalan secara bagus dan berkelanjutan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, khususnya bawang putih di Bali, serta memberikan kesejahteraan bagi para petani,” tegasnya.
Dengan demikian, pengembangan bawang putih tidak boleh berhenti sebagai gerakan tanam serentak. Gerakan tersebut harus dilanjutkan dengan penyediaan benih berkualitas, dukungan sarana produksi, teknologi, irigasi, pendampingan petani, penguatan pascapanen dan yang paling penting kepastian pasar.
Jika seluruh mata rantai tersebut terhubung, Bali tidak hanya mampu meningkatkan produksi bawang putih, tetapi juga membangun sistem pangan lokal yang lebih mandiri.
Bawang putih pun diharapkan tidak lagi sekadar menjadi komoditas yang didatangkan dari luar, melainkan menjadi salah satu kekuatan pertanian Bali yang mampu menekan ketergantungan pasokan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. ama/ksm









