Pariwisata

Pariwisata Bali Dibuka Tanpa Swab dan Rapid Test, Gek Inda: Untuk Apa Vaksin?


Denpasar, PancarPOS | Rencana pariwisata Bali dibuka untuk wisatawan mancanegara (Wisman) sekitar bulan Juni atau Juli 2021 mendatang, menjadi angin segar bagi para pelaku pariwisata Bali. Salah satunya kalangan pelaku usaha taman rekreasi menyambut baik rencana tersebut. Namun menurut Ketua DPD Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia ( PUTRI) Bali I Gusti Agung Ayu Inda Trimafo Yudha masih mempertanyakan kembali komitmen rencana dibuka pariwisata Bali di tengah-tengah upaya pemerintah pusat dan daerah menyukseskan program vaksinasi massal ke seluruh wilayah. Terbukti saat libur panjang tahun ini, kembali melarang kegiatan mudik Lebaran.

1bl#ik-15/4/2021

“Sebagai pelaku pariwisata dan asosiasi PUTRI menganggap hal itu sebagai keputusan delematis, seperti dilarang Mudik Lebaran. Apapun memang akan dilakukan pemerintah menekan pandemi Covid-19, tapi supaya tidak dilakukan pengetatan loacdown atau PPKM dan lainnya. Karena pemerintah ada target bulan Juni- Juli, jadi larangan mudik menekan pandemi agar Juni-Juli ini bisa dibuka. Jika naik (angka positif Covid-19, red) kan bisa menggagalkan dibukanya pariwisata. Ini yang dikhawatirkan oleh pelaku pariwisata,” beber Gek Inda sapaan akrab Owner POD Chocolate ini, ketika ditemui di Urban Lane Bali, Jalan Diponogoro 150 B-12, Genteng Biru, Denpasar, Selasa (20/4/2021).

1bl#ik-11/4/2021

Pihaknya mengakui tujuan program vaksinasi hanya untuk meningkatkan imun tubuh agar memiliki kekebalan terhadap virus Covid-19. Namun untuk mengindikasikan divaksin atau tidak, agar sertifikat vaksin bisa jadi passport traveling untuk lintas daerah dan negara. “Kita mengapresiasi pemerintah Jokowi dapat lebih dulu vaksin dari negara lain. Tapi gunanya untuk apa? Jika tidak bisa dijakdikan keamanan dan kesehatan masyarakat dan mempermudah kita traveling, sehingga tidak diperlakukan sama dengan yang belum divaksin. Jadi tidak perlu lagi ada swab atau rapid test, sehingga semuanya bisa melakukan perjalanan seperti sedia kala, karena tidak lagi membutuhkan biaya untuk swab atau rapid test maupun biaya lainnya,” harap Anggota DPRD Badung dari Fraksi PDI Perjuangan ini.

1bl#ik#13/4/2021

Apalagi menurutnya, para pelaku pariwisata di Bali saat ini, kondisinya ibarat sedang freediving, karena saat menyelam ke dalam air harus bisa menahan nafas. Seperti selama liburan weekend atau mudik sebenarnya sedikit bisa bernafas sejenak, karena ada pemasukan dari wisatawan lokal yang berlibur ke Bali saat liburan panjang. Namun, ketika tidak ada lagi seperti itu, akan menahan nafas kembali. “Pertanyaannya, jika Juni-Juli komemen pariwisata Bali akhirnya juga tidak dibuka? Padahal kita sudah dipangkas dari long weekend, juga tidak ada mudik. Coba bayangkan! Jadi jika bener ingin meredam kegiatan pariwisata tidak apa, asal Juni-Juli beneran dibuka,” tandas mantan Ketua Umum HIPMI Bali itu.

1bl#ik-13/4/2021

Selain itu, Gek Inda meminta agar juga dipastikan terjalin kerjasama yang baik antara semua komponen pemerintah, baik Kemempar, Kemenlu dan Kemenkumham, termasuk Kemenkes. Kebijakan lintas kementerian tersebut harus seragam dan dtujuannya juga sama untuk membuka pariwisata. “Agar kami juga ada kepastian dan bisa meyakinkan orang bisa datang ke Bali. Terutama Menkes dan Kementerian Pariwisata harus ada satu kesepakatan. Karena memang tidak salah Menkes menekan angka Covid-19, karena untuk kesehatan, tapi Kemenpar juga wajib membuka pariwisata, karena Bali tulang punggung pariwisata agar ekonominya tidak tersiksa seperti ini. Untuk itu lintas Kementerian dan level pemerintah harus bisa memberi kejelasan untuk membuka pariwisata. Karena kita tidak mencari keuntungan, tapi hanya ingin menyambung hidup,” beber Putri Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai itu. ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close