Daerah

Made Sada “Dego” Minta Kaji Ulang Pemberlakuan Kendaraan Ganjil Genap


Badung, PancarPOS | Kabar pemberlakukan kebijakan lalu lintas ganjil genap di Bali mengundang pro dan kontra di masyarakat. Aturan baru yang menerapkan aturan kendaraan berplat ganjil genap di sejumlah wilayah Bali, seperti Daerah Tujuan Wisata (DTW) Pantai Sanur, di Kota Denpasar dan Pantai Kuta di Kabupaten Badung di masa pandemi dianggap mengada-ngada. Meskipun penerapan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gelombang kejut (shock wave) sejalan dibukanya kembali daerah tujuan wisata ke Bali, namun aturan ini dianggap belum perlu dilakukan. Dimana pengaturan dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu, Hari Libur Nasional, dan Hari Libur Fakultatif daerah, pukul 06.30-09.30 dan pukul 15.00-18.00 Wita.

1bl#ik-21/8/2021

Seperti diungkapkan, salah satu tokoh masyarakat dari Desa Legian, Kuta, Badung, I Made Sada Dego menjelaskan, pemberlakuan aturan ganjil genap dinilai kurang efektif. Pasalnya, masyarakat Legian Kuta sangat bergantung dengan adanya pariwisata, dan dengan adanya pemberlakuan kendaraan ber plat ganjil genap dikhawatirkan membuat enggan wisatawan berkunjung ke daerah tempat wisata, yang efeknya masyarakat Legian semakin sulit lagi mencari pendapatannya. Padahal dengan Bali sudah mendapatkan level penurunan PPKM serta mulai ada kelongggaran kebijakan untuk para UKM yang bisa berjualan hingga Pukul 21.00 Wita, dan baru dibukanya pantai begitu juga delapan bandara masyarakat Legian sangat berterimakasih kepada pemerintah pusat, jelas hal ini merupakan angin segar untuk masyarakat Legian dan ada harapan mereka dalam mencari rejeki ditengah PPKM level III.

1bl#il-10/9/2021

“Harapan hidup masyarakat Legian bergantung pada pariwisata, apalagi masyarakat Legian sangat terpukul akibat ditinggal para pengusaha pariwisata begitu saja, jadi saya harapa kebijakan kendaraan ganjil genap mohon di kaji kembali,” harap Bendahara DPD Partai Demokrat Bali ini, ketika ditemui pada Sabtu malam (18/9/2021). Sada Dego melanjutkan, pemberlakuan kendaraan berplat ganjil genap di era pandemi dirasakan kurang tepat, dan memang belum saatnya penerapan tersebut diberlakukan. Sebab pihaknya menilai kondisi lalulintas di area Legian-Kuta masih dikendalikan oleh para petugas. Lagipula, dengan dibukanya border belum tentu pariwisata Bali langsung ramai, pastinya wisatawan akan mempersiapkan diri dulu untuk berwisata ke Bali, dan pelaku pariwisatapun sudah pasti juga akan berbenah dulu mempersiapkan prokes demi mencegahnya penyebaran virus.

1th-ksm#5/2/2021

“Kita di Desa Legian pun mempunyai kebijakan khusus bagi pengunjung pantai harus memiliki QR code aplikasi pedulilindungi. Hal ini sebagai bentuk dukungan kita dalam mendukung pemerintah sekaligus juga melindungi masyarakat kami dari tertularnya virus covid-19, bahkan kesiapan para pelaku pariwisata di Legian rata-rata sudah mengantongi Sertifikat CHSE, artinya mereka sudah siap buka,” ungkap Kelian Adat Banjar Legian Kaja itu. tra/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close