Minggu, April 19, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalGubernur Koster Revolusi Sampah Bali, Hampir 70 Persen Warga Sudah Pilah

Gubernur Koster Revolusi Sampah Bali, Hampir 70 Persen Warga Sudah Pilah

Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan revolusi pengelolaan sampah di Bali mulai menunjukkan hasil konkret. Di tengah tekanan persoalan sampah yang sempat memuncak, perubahan perilaku masyarakat kini menjadi fondasi utama menuju sistem pengelolaan modern berbasis teknologi.

Penegasan tersebut semakin diperkuat saat Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq turun langsung meninjau TPST Kesiman Kertalangu, Jumat (17/4/2026). Dalam kesempatan itu, pemerintah pusat memberikan sinyal kuat bahwa Bali berada di jalur yang tepat dalam reformasi pengelolaan sampah.

Hanif mengungkapkan bahwa capaian pemilahan sampah di Bali sudah melampaui 60 persen, bahkan mendekati 70 persen, khususnya di wilayah Denpasar dan Badung. Menurutnya, angka tersebut bukan capaian biasa, melainkan hasil kerja kolektif lintas sektor yang jarang terjadi di daerah lain.

“Lebih dari 60 persen masyarakat sudah memilah sampah, bahkan mendekati 70 persen. Ini bukan pekerjaan mudah, tapi Bali berhasil melakukannya,” tegasnya.

Ia menilai keberhasilan ini merupakan manifestasi kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, aparat keamanan, hingga desa adat. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci perubahan mindset masyarakat terhadap sampah.

Namun di balik apresiasi itu, Hanif juga melontarkan peringatan tegas. Ia mendorong agar capaian ini tidak berhenti sebagai gerakan moral semata, tetapi diperkuat dengan penegakan hukum.

“Kalau sudah 65 sampai 70 persen masyarakat patuh, maka yang tidak patuh harus diberikan sanksi. Bisa melalui tindak pidana ringan (tipiring),” ujarnya.

Pernyataan ini sejalan dengan arah kebijakan Wayan Koster yang sejak awal menempatkan pemilahan sampah berbasis sumber sebagai pilar utama reformasi. Bagi Koster, disiplin masyarakat dalam memilah sampah bukan lagi sekadar imbauan, tetapi menjadi kewajiban kolektif.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang Bali tidak hanya bergantung pada perubahan perilaku, tetapi juga pada kesiapan teknologi, khususnya pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

Namun, baik Koster maupun Hanif sepakat bahwa teknologi tidak akan bekerja optimal tanpa kualitas input yang baik. Dalam konteks ini, kualitas berarti sampah yang sudah dipilah sejak dari sumber.

“Waste to energy memerlukan sampah berkualitas. Artinya sudah dipilah, kadar airnya rendah, dan nilai kalorinya stabil,” jelas Hanif.

Ia menambahkan, meskipun PSEL secara teknis mampu mengolah sampah campuran, namun efisiensinya akan jauh menurun jika sampah tidak dipilah. Kandungan air tinggi dari sampah organik dapat mengganggu proses pembakaran, menurunkan produksi energi, serta meningkatkan biaya operasional.

Dampaknya tidak hanya teknis, tetapi juga finansial. Sistem yang tidak efisien berpotensi meningkatkan beban subsidi dan tipping fee yang harus ditanggung pemerintah melalui APBN maupun APBD.

Di sinilah Koster melihat urgensi menjaga disiplin masyarakat. Ia menegaskan bahwa keberhasilan PSEL tidak hanya ditentukan oleh investasi infrastruktur, tetapi juga oleh konsistensi perilaku masyarakat.

“Kalau sampah tidak dipilah, maka teknologi sehebat apa pun tidak akan maksimal. Ini soal sistem yang harus berjalan dari hulu ke hilir,” tegasnya.

Selain itu, Koster juga terus mendorong penguatan fasilitas pengolahan di tingkat lokal seperti TPST dan TPS3R, agar sistem pemilahan memiliki dukungan hilir yang memadai. Langkah ini penting untuk memastikan tidak terjadi bottleneck dalam rantai pengelolaan sampah.

Kunjungan ke TPST Kesiman Kertalangu menjadi bukti bahwa Bali tidak lagi berjalan di tempat. Sistem mulai dibangun secara terintegrasi, dari perubahan perilaku masyarakat hingga kesiapan teknologi pengolahan.

Namun pekerjaan belum selesai. Masih ada sekitar 30 persen masyarakat yang belum disiplin memilah sampah. Angka ini menjadi tantangan serius yang harus segera dituntaskan.

Baik pemerintah pusat maupun daerah sepakat bahwa momentum ini tidak boleh hilang. Revolusi sampah di Bali harus dijaga konsistensinya agar benar-benar menghasilkan perubahan permanen.

“Ini bukan hanya soal sampah, tapi soal masa depan lingkungan Bali,” tegas Koster. Dengan capaian yang ada saat ini, Bali mulai menunjukkan arah baru: dari krisis menuju transformasi. Namun keberhasilan akhir tetap bergantung pada satu hal sederhana, namun krusial—kedisiplinan semua pihak. mas/ama/*

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img