Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Sudirta Ajak Mahasiswa UHN Sugriwa Memaknai Pancasila dari Bhagawad Ghita

Denpasar, PancarPOS | Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di hadapan mahasiswa PGSD Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa berlangsung reflektif dan sarat nilai filosofis. Dalam forum yang digelar di Gedung PHDI Bali, Sabtu, 13 Desember 2025, anggota MPR RI Dr. I Wayan Sudirta, SH, MH mengajak mahasiswa menimba pelajaran kebangsaan dari epos Mahabharata, khususnya kisah perjuangan Pandawa.
Sudirta menuturkan, kemenangan Pandawa atas Korawa dalam perang Bharatayudha bukanlah kemenangan instan, melainkan hasil dari proses panjang penuh penderitaan, pengasingan, dan ujian moral. Ia menekankan, kemenangan hanya mungkin diraih melalui kejujuran, keberanian, pengetahuan, kerja sama, serta dukungan logistik yang kuat.
“Pandawa kalah, tertipu dalam perjudian, kehilangan kerajaan, dan harus hidup di hutan selama 13 tahun. Namun mereka akhirnya menang karena nilai-nilai itu, serta karena kepemimpinan Yudistira, keberanian Bhima, ketangguhan Arjuna, kesetiaan Nakula-Sahadewa, dan kebijaksanaan Kresna,” ujar Sudirta.
Menurutnya, nasihat Kresna kepada Arjuna di medan Kuruksetra yang kemudian dikenal sebagai Bhagawad Ghita bukan sekadar ajaran spiritual, tetapi filsafat hidup dan kepemimpinan. Sudirta mengaku nilai-nilai itulah yang ia pegang dalam perjalanan hidup dan kariernya, termasuk dalam dunia advokasi dan politik.
“Kalau ditilik secara mendalam, nilai-nilai dalam Mahabharata dan Bhagawad Ghita sejatinya hidup dalam Pancasila. Karena itu tidak mengherankan jika Bung Karno membaca dan menghayati Bhagawad Ghita,” katanya.
Dalam berbagai literatur, hubungan ideologis Bung Karno dengan Bhagawad Ghita memang sangat kuat. Presiden pertama RI itu menginternalisasi ajaran tentang dharma, keberanian moral, dan pengabdian tanpa pamrih ke dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Konsep Karma Yoga—melaksanakan kewajiban tanpa terikat pada hasil—menjadi landasan Bung Karno dalam memimpin perjuangan bangsa.
Sudirta menjelaskan, ajaran dharma dalam Bhagawad Ghita mempengaruhi cara pandang Bung Karno bahwa kemerdekaan adalah kewajiban moral bangsa Indonesia. Penolakan untuk berjuang sama artinya dengan menyerah pada ketidakadilan kolonial, sebuah pandangan yang kemudian melahirkan kepemimpinan revolusioner.
Konsep keberanian ksatria, pluralisme, serta pandangan bahwa semua jalan menuju Tuhan pada hakikatnya satu, juga dinilai Sudirta selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bhagawad Ghita, menurutnya, menjadi jembatan antara agama, budaya, dan nasionalisme.
Nilai-nilai itu, kata Sudirta, tidak berhenti pada tataran wacana. Ia menceritakan pengalaman advokasi bersama rekan-rekannya dalam membela pengungsi Timor Timur eks transmigran Bali pascareferendum 1999. Saat itu, memperjuangkan hak tanah bagi para pengungsi nyaris dianggap mustahil.
“Belum ada contoh di dunia pengungsi mendapat tanah dari negara. Tapi perjuangan itu berhasil,” ujarnya.
Moderator kegiatan, Putu Wirata Dwikora, menambahkan bahwa Sudirta bahkan turun langsung membuka semak belukar bersama para pengungsi di Desa Sumberkelampok, Buleleng. Kini, dusun tersebut dikenal sebagai permukiman pengungsi Timtim, dan banyak warganya telah hidup mandiri dan sukses.
“Di tahun 2025 ini, ada anak-anak pengungsi yang sudah menjadi mahasiswa UHN Sugriwa dan aktif di BEM,” jelas Putu Wirata.
Sebagai anggota MPR RI dua periode, Sudirta telah melakukan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ke berbagai lapisan masyarakat, mulai dari desa adat, pemangku, pengurus PHDI, hingga mahasiswa. Ia secara konsisten menekankan pentingnya Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi bangsa, di tengah tantangan korupsi dan krisis etika elite.
“NKRI tetap berdiri sampai hari ini karena fondasi itu. Perjuangan melawan korupsi dan ketidakadilan tidak boleh berhenti,” tegasnya.
Paparan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut juga diisi dengan dialog interaktif. Sudirta membagikan pengalamannya berproses di dunia aktivisme, mulai dari LBH Jakarta di bawah Adnan Buyung Nasution, mendirikan Pemuda Hindu, Bali Corruption Watch, hingga berbagai tim advokasi rakyat marjinal di Bali.
“Kami berjuang dengan landasan Pancasila sebagai nilai negara, dan nilai-nilai Hindu serta kearifan lokal Bali sebagai fondasi moral. Jangan berkecil hati. Belajarlah dari Pandawa, terus berjuang,” tutupnya.
Di akhir kegiatan, mahasiswa peserta sepakat membentuk ikatan alumni Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan tanggal 13 Desember 2025, dengan penasihat I Nyoman Kenak, SH, Ir. Putu Wirata Dwikora, SH, MH, dan I Nyoman Artana, S.Pd, M.Pd. ora/ama














