Diungkapkan Dwita, Party Id tinggi menurutnya bukan satu hal yang salah. Di Amerika Serikat sekalipun party id ini terjadi. “Ungkapan khasnya I’m a Republican. Yang dipercaya itu nilai-nilai partainya. Party id kata peneliti voting mirip seperti agama. Sulit berubah kalau tidak ada goncangan besar dalam hidup seseorang. Party id ini umumnya merupakan warisan dari orang tua ke anaknya. Di Bali, mekanisme rekruitmen calon di internal partai yang bermasalah sehingga party id ini acapkali berdampak buruk,” beber jebolan SMA Negeri 1 Denpasar tersebut.

Dwita menggarisbawahi tidak ada yang salah dengan pemilih yang berparty id. Yang salah bila partai politik tidak menjalani fungsinya dengan baik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya konstituen alias pemilihnya. “Pemilih bisa kita kategorikan sebagai pemilih tradisional dan pemilih rasional. Pemilih rasional khususnya kaum terdidik, menengah perkotaan cirinya berbeda. Si rasional umumnya mempertimbangkan untung rugi, program kerja, visi-misi, track record kandidat. Sebaliknya, si tradisional umumnya pertimbangannya partai, tokoh agama, puri, ormas, dan sejenisnya,” tandasnya sembari mengajak masyarakat untuk menjadi pemilih rasional dan mempertimbangkan track record dan tawaran kandidat via visi-misi dan program. ija/jmg/ksm






