Penomena ini memang wajar terjadi setiap hajatan politik mendekat. Namun, di sisi pandangan pengamat politik muda ingin angkat bicara menyikapi perilaku pemilih yang mempunyai hak suara yang asal mencoblos calon pemimpin dari penguasa yang mengendong bansos ternyata makin marak terjadi di Bali. Dosen Program Studi Ilmu Politik Universitas Udayana, Dr. Kadek Dwita Apriani, S.Sos, MIP menyebut fenomena politik itu bisa ditinjau dengan menggunakan teori voting behavior, pemilih tersebut tergolong kelompok dengan party-identification (party id) tinggi. Party id dimaksud merupakan derajat kedekatan warga dengan partai yang diyakininya.

Doktor politik perempuan pertama di Bali itu, menjelaskan rata-rata angka party id di Indonesia pada tahun 2014-2019 adalah 14%. Tapi Bali punya angka jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional, yaitu di kisaran angka 24%. Dengan kata lain, mereka akan memilih siapapun yang dicalonkan. Misalnya saja sekarang kandidat PDI Perjuangan yang saat ini mayoritas menjadi partai penguasa. “Sebagai pemilih loyal dan di Bali jumlahnya di kisaran 1/4 dari total pemilih,” jelas Dwita. Apalagi ada istilah memilih siapapun yang dicalonkan pasti menang inilah yang sering diplesetkan oleh masyarakat.






