Nasional

Bali Mayoritas Hindu, Wagub Giri Prasta Ingatkan Umat Muslim Jaga Toleransi


Denpasar, PancarPOS | Pernyataan Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, saat menghadiri acara buka puasa bersama Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (FOKAL IMM) Provinsi Bali di Aula ITB STIKOM Bali, Kamis (12/3/2026), memantik perhatian. Di hadapan umat Muslim yang hadir, ia secara terbuka menekankan pentingnya menjaga toleransi sebagai kekuatan utama dalam menjaga stabilitas negara.

Dalam sambutannya, Giri Prasta menyebut kegiatan buka puasa bersama tersebut bukan sekadar agenda rutin Ramadan, melainkan sebuah laku peradaban yang menunjukkan komitmen kontribusi umat terhadap daerah. Namun di balik itu, ia juga menegaskan bahwa stabilitas sosial dan nasionalisme harus terus dijaga bersama.

Menurutnya, kegiatan yang digelar FOKAL IMM tersebut tidak hanya mencerminkan kepedulian sosial, tetapi juga menjadi momentum merawat nilai-nilai kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Bali. Ia menilai toleransi antarumat beragama menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat di Pulau Dewata.

“Semangat inilah yang menjadi landasan penting dalam membangun masyarakat yang berkeadilan, penuh kasih sayang, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Giri Prasta juga menyinggung sejarah panjang peran Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang menurutnya selama ini dikenal sebagai kelompok intelektual religius sekaligus nasionalis. Ia menyebut visi IMM untuk melahirkan akademisi Islam yang berakhlak mulia memiliki keselarasan dengan visi pembangunan Bali.

Visi pembangunan daerah yang dimaksud adalah Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Konsep ini, menurutnya, mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta seluruh isinya demi mewujudkan kehidupan masyarakat Bali yang sejahtera dan bahagia secara niskala–sakala.

Dalam pemaparannya, Giri Prasta bahkan mengaitkan aktivitas sosial dan spiritual umat Muslim dengan filosofi Sad Kerthi yang menjadi dasar pembangunan Bali.

Ia menjelaskan bahwa praktik menahan hawa nafsu selama Ramadan serta kegiatan tausyiah kebangsaan merupakan bentuk Atma Kerthi, yakni penyucian batin manusia. Sementara kegiatan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin yang dilakukan dalam acara tersebut disebutnya sebagai wujud Jana Kerthi, yaitu upaya meningkatkan kualitas manusia dan merawat keadilan sosial.

“Seluruh kesalehan sosial dan spiritual itu pada akhirnya bermuara pada Jagat Kerthi, yakni menjaga harmoni alam semesta demi keberlanjutan hidup lintas generasi,” katanya.

Menurutnya, gerakan pelayanan sosial yang dilakukan FOKAL IMM pada dasarnya merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup sebagaimana semangat utama visi pembangunan Bali.

Dalam kesempatan itu juga digelar tausyiah kebangsaan bertema Meneguhkan Spirit Nasionalisme demi Stabilitas dan Keadilan Sosial. Giri Prasta menegaskan bahwa nasionalisme dan keadilan sosial merupakan dua pilar yang tidak bisa dipisahkan dalam menjaga keberlangsungan bangsa.

“Tanpa keadilan sosial, nasionalisme hanya akan menjadi jargon. Sebaliknya, tanpa nasionalisme, stabilitas daerah tidak akan pernah terwujud,” tegasnya.

Ia pun mengajak umat Muslim di Bali, khususnya kalangan intelektual, untuk ikut memikirkan kemajuan daerah serta menjaga stabilitas keamanan bersama aparat penegak hukum.

“Melalui kebersamaan dan persatuan, kita dapat memperkuat fondasi pembangunan Bali yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan ekonomi, tetapi juga pada keluhuran budaya, kekuatan spiritual, serta kesejahteraan sosial masyarakat,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan santunan kepada anak yatim sebagai bagian dari kepedulian sosial. Acara itu diharapkan mampu memperkuat persaudaraan dan toleransi antarumat beragama di Bali.

Rektor ITB STIKOM Bali, Dadang Hermawan, selaku tuan rumah, menyampaikan rasa bangga karena kampusnya dipercaya menjadi tempat pelaksanaan kegiatan. Ia berharap kegiatan seperti ini mampu memperkuat kebersamaan serta memperkokoh toleransi beragama di Bali.

Ketua PW FOKAL IMM Bali, Miftahnurrahman, juga menyampaikan harapan agar Ramadan menjadi momentum memperkuat kepedulian sosial sekaligus mempererat persaudaraan dalam merawat persatuan dan kesatuan bangsa.

Sementara itu, Wakapolda Bali Brigjen Pol. I Made Astawa menilai kegiatan buka puasa bersama tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan tidak hanya berhenti pada ibadah ritual, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian sosial dan penguatan semangat kebangsaan.

Ia menegaskan bahwa Bali sebagai rumah bersama bagi berbagai suku, agama, dan budaya hanya akan tetap harmonis apabila seluruh masyarakat menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghormati. mas/ama/* 


Back to top button