Minggu, April 26, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalAjak Semua Desa Adat Bergabung, Made Wena Dorong Transportasi Desa Adat di...

Ajak Semua Desa Adat Bergabung, Made Wena Dorong Transportasi Desa Adat di Bali Berbasis Tri Hita

Denpasar, PancarPOS | Inisiasi aplikasi transportasi online berbasis Desa Adat “Tri Hita Karana” yang digagas oleh PT Sentrik Persada Nusantara menjadi salah satu contoh konkret bagaimana teknologi dapat dirancang selaras dengan nilai lokal. Gagasan ini mendapat sambutan positif dari tokoh adat Bali, Dr. Drs. I Made Wena, M.Si., yang secara terbuka mengajak seluruh desa adat di Bali untuk tidak ragu bergabung dan mengambil peran aktif dalam inovasi tersebut. Bagi Made Wena, langkah ini bukan semata urusan transportasi, melainkan menyangkut masa depan kemandirian ekonomi dan eksistensi desa adat di era digital.

Sebagai tokoh adat Bali yang lama berkecimpung dalam penguatan kelembagaan desa adat, Made Wena memandang bahwa tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat adat hari ini bukan hanya tekanan ekonomi atau perubahan sosial, tetapi ketertinggalan dalam penguasaan teknologi. Jika desa adat tidak segera mengambil posisi strategis, maka ruang-ruang ekonomi digital yang berkembang pesat di Bali akan sepenuhnya dikuasai oleh pihak luar, sementara krama adat berpotensi kembali menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Menurut Made Wena, selama ini desa adat kerap berada dalam posisi defensif ketika berhadapan dengan modernisasi. Sikap tersebut, meski lahir dari niat menjaga tradisi, justru berpotensi melemahkan daya tawar adat dalam struktur ekonomi Bali ke depan. Ia menegaskan bahwa menjaga adat tidak identik dengan menolak perubahan, tetapi memastikan bahwa perubahan itu berjalan di bawah kendali nilai, etika, dan kepentingan desa adat.

Seluruh driver Tri Hita Trans yang terlibat wajib mengikuti aturan dan standar yang telah disepakati desa adat. (foto: ist)

Made Wena menegaskan bahwa teknologi bukanlah musuh adat. Persoalan sesungguhnya adalah siapa yang menguasai teknologi dan untuk kepentingan apa teknologi itu digunakan. Ketika teknologi hadir tanpa ruang dialog dengan desa adat, dampaknya sering kali merugikan masyarakat lokal. Namun ketika teknologi dirancang dan dikelola oleh desa adat sendiri, maka teknologi justru bisa menjadi alat penguat kemandirian dan kesejahteraan krama.

Dalam diskusi ringan yang berlangsung di Main Dealer VinFast Gatot Subroto Barat, Denpasar, Senin (9/2/2026), Made Wena menyampaikan bahwa ia melihat keselarasan kuat antara gagasan PT Sentrik Persada Nusantara dengan prinsip-prinsip dasar adat Bali. Penggunaan filosofi Tri Hita Karana sebagai fondasi pengembangan aplikasi transportasi online dinilainya tepat dan kontekstual, karena filosofi tersebut bukan sekadar simbol budaya, melainkan pedoman hidup masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

“Saya merasa punya teman untuk bangkit. Masyarakat adat di Bali memang perlu memanfaatkan teknologi tanpa melepaskan kekuatan adat yang kita punya. Resepnya satu, teknologi jangan dilawan, mari gunakan teknologi sebagai kawan,” ujar akademisi yang sempat menjabat Bendesa Adat Kutuh dan  Petajuh Bandesa Agung Bidang Kelembagaan, Pemerintahan, dan Sumber Daya Manusia (SDM) di Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali.

Pandangan tersebut disambut positif oleh Founder PT Sentrik Persada Nusantara, Made Sudiana, S.H., M.Si., yang hadir langsung dalam diskusi tersebut. Made Sudiana menegaskan bahwa sejak awal, inisiatif membangun platform transportasi online berbasis desa adat memang dirancang bukan semata sebagai proyek bisnis, melainkan sebagai model ekonomi kolaboratif yang menempatkan desa adat sebagai pemilik sekaligus pengendali sistem.

Menurut Made Sudiana, PT Sentrik Persada Nusantara melihat adanya kegelisahan yang sama dengan yang disampaikan tokoh-tokoh adat Bali, yakni semakin tergerusnya ruang ekonomi masyarakat lokal akibat dominasi platform digital berskala besar. Dari kegelisahan itulah muncul gagasan untuk menghadirkan alternatif transportasi online yang tumbuh dari desa adat, dikelola oleh desa adat, dan hasilnya kembali ke desa adat.

Aplikasi Tri Hita sebagai platform transportasi hijau berbasis desa adat yang terintegrasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelindo Benoa. (foto: ist)

“Kami sejak awal tidak ingin hanya membangun aplikasi. Yang ingin kami bangun adalah ekosistem. Ekosistem yang adil, yang memberi ruang kepada desa adat sebagai pemilik nilai, pemilik wilayah, sekaligus pemilik masa depan,” ujar Made Sudiana.

Ia menegaskan bahwa filosofi Tri Hita Karana bukan ditempatkan sebagai slogan pemasaran, tetapi sebagai kerangka berpikir dalam menyusun tata kelola platform. Relasi antara pengelola, pengemudi, pengguna jasa, dan lingkungan harus berada dalam keseimbangan. Tanpa keseimbangan itu, menurutnya, teknologi justru akan menjadi sumber persoalan baru.

Made Sudiana juga menyampaikan bahwa pihaknya sangat terbuka terhadap masukan dari tokoh adat, prajuru desa, dan lembaga adat lainnya. Diskusi dengan Made Wena, menurutnya, menjadi ruang refleksi penting agar platform yang dikembangkan tidak keluar dari jalur nilai adat Bali. Ia menilai, keterlibatan tokoh adat sejak awal adalah kunci agar inovasi ini memiliki legitimasi sosial yang kuat.

Dalam diskusi tersebut, Made Wena kembali menekankan pentingnya struktur kelembagaan yang jelas dan berpihak pada desa adat. Ia menyarankan agar pengelolaan aplikasi transportasi online ini disinergikan melalui dua pilar utama ekonomi desa adat, yakni BUPDA (Badan Usaha Milik Desa Adat) dan koperasi. Bagi Made Wena, tanpa penguatan kelembagaan adat, inovasi digital berisiko kehilangan arah dan tujuan.

Menanggapi hal tersebut, Made Sudiana menyatakan bahwa konsep BUPDA dan koperasi memang menjadi salah satu desain utama dalam pengembangan platform. Ia menilai bahwa BUPDA memiliki posisi strategis sebagai payung kelembagaan adat yang memastikan sistem berjalan sesuai nilai dan kepentingan desa, sementara koperasi menjadi wadah profesional bagi para sopir sebagai pelaku langsung di lapangan.

“Kami sepakat bahwa BUPDA harus menjadi pemegang kendali kelembagaan, sementara koperasi menjadi rumah bagi para pengemudi. Dengan model ini, desa adat tidak hanya menjadi penonton, tetapi benar-benar menjadi pemilik sistem,” tegas Made Sudiana.

Menurutnya, model tersebut juga akan memudahkan proses pembinaan, transparansi keuangan, serta distribusi manfaat ekonomi secara lebih adil. PT Sentrik Persada Nusantara, lanjut Made Sudiana, memposisikan diri sebagai mitra strategis yang menyiapkan sistem teknologi dan pendampingan, bukan sebagai pihak yang mengambil alih peran desa adat.

Aplikasi Tri Hita sebagai platform transportasi hijau berbasis desa adat yang terintegrasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelindo Benoa. (foto: ist)

Diskusi antara Made Wena dan Made Sudiana juga menyinggung tantangan literasi digital di tingkat desa. Keduanya sepakat bahwa teknologi harus dibarengi dengan pendampingan yang berkelanjutan dan pendekatan kultural. Tanpa itu, aplikasi secanggih apa pun tidak akan efektif dan berkelanjutan.

Made Sudiana menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan skema pendampingan bertahap yang melibatkan generasi muda desa sebagai penggerak literasi digital. Ia menilai, generasi muda memiliki peran strategis sebagai jembatan antara teknologi dan nilai adat, sehingga transformasi digital tidak memutus kesinambungan sosial desa adat.

Selain aspek sumber daya manusia, dukungan pemerintah juga menjadi topik penting dalam diskusi tersebut. Made Wena berharap pemerintah hadir memberi kemudahan regulasi dan dukungan kebijakan bagi inovasi lokal berbasis adat. Hal senada disampaikan Made Sudiana, yang menilai bahwa keberpihakan kebijakan akan sangat menentukan keberlanjutan platform di lapangan.

“Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Yang kami harapkan adalah ruang yang adil dan kebijakan yang memudahkan. Kalau memang ini untuk kepentingan desa adat dan masyarakat Bali, seharusnya bisa didorong bersama,” ujar Made Sudiana.

Diskusi yang berlangsung di tengah deretan kendaraan listrik VinFast tersebut juga menyinggung arah transportasi Bali ke depan. Made Wena memandang bahwa pengembangan transportasi online berbasis desa adat sangat relevan jika dikaitkan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Ia menilai, integrasi teknologi digital dengan kendaraan ramah lingkungan merupakan langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan alam Bali.

Made Sudiana menyambut pandangan tersebut dengan menyatakan bahwa PT Sentrik Persada Nusantara terbuka untuk mengembangkan ekosistem transportasi yang selaras dengan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, penggunaan kendaraan rendah emisi bukan hanya soal tren, tetapi bagian dari tanggung jawab moral terhadap masa depan Bali.

Di akhir pernyataannya, tokoh adat Bali I Made Wena kembali mengajak seluruh desa adat di Bali untuk tidak ragu bergabung dan mengambil bagian dalam inisiatif transportasi online berbasis desa adat ini. Ia menilai, semakin luas keterlibatan desa adat, semakin besar peluang untuk membangun ekosistem ekonomi digital yang berakar kuat pada nilai Bali dan memberi manfaat nyata bagi krama.

“Kalau memang pemikiran ini bagus, ayo kita dukung bersama. Ini adalah kearifan lokal yang harus kita bangun secara kolektif. Pesan saya kepada para pemangku kebijakan, kalau memang bisa dipermudah, jangan dipersulit,” pungkasnya. tra/ama/ksm

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img