Nasional

Jumat Besok, “Bade dan Naga Kaang” Pelebon I Gusti Ngurah Alit Yudha Diarak Ribuan Warga

Badung, PancarPOS | I Gusti Ngurah Alit Yudha, Putra bungsu Pahlawan Nasional, I Gusti Ngurah Rai berpulang di usia 76 tahun akibat sakit jantung di Rumah Sakit Prof. IGNG Ngoerah (RSUP Sanglah), pada Senin, 12 Desember 2022. Untuk menghormati jasa almarhum, Keluarga Besar Puri Carangsari di Banjar Pemijian, Carangsari, Petang, Badung menggelar prosesi persiapan selama dua bulan hingga hari besok puncak Pelebon, pada Jumat (10/2/2023). Untuk mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhir menggunakan Bade Tumpang 9 dengan tinggi kurang lebih 19 meter. Dijelaskan cucu Pahlawan I Gusti Ngurah Rai yang juga Putri Ketiga Almarhum Alit Yudha, IGA Agung Trimafo Yudha menjelaskan, keputusan menggunakan Bade Tumpang 9 juga mengikuti prosesi mendiang kakak almarhum dengan menggunakan bangkit 5, dan Bade Tumpang 9. Hal ini dilakukan agar almarhum tidak melangkahi mendiang kakak almarhum, dan anak almarhum Gung Danil.

Cucu Pahlawan I Gusti Ngurah Rai yang juga Putri Ketiga Almarhum Alit Yudha, IGA Agung Trimafo Yudha, saat bersama keluarga dan warga Desa Carangsari. (foto: ist)

Dalam rangkaian upacara Gek Inda sapaan akrabnya itu mengatakan, pada Anggara, Wage, Pahang 7 Februari 2023 telah melaksanakan acara Ngening pada Pukul 11.00 Wita yang dipuput oleh Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh dan Welaka. Dilanjutkan dengan Ngeraka, Melaspas Kajang, dan Pengaskaran. “Tadi acara kita ke Pura Dalem untuk upacara Ngening. Lalu kita juga melaksanakan salah satu tradisi Puri Agung Carangsari Leladan atau Meped yang melibatkan krama istri dari beberapa banjar yang ada di Desa Carangsari dengan kali ini melibatkan hampir 200 orang. Di mana para krama Istri dari Desa Carang Sari ada 7 banjar, Samuan dengan 3 banjar, dan Anggungan. Jadi krama istri mendatangi Puri untuk melakukan Maprani atau Leladan dengan menghaturkan gebogan,” ucapnya, seraya melanjutkan, pada puncak acara Pelebon yang digelar Sukra, Pahing, Pahang, Jumat, 10 Februari 2023.

Pucak Pelebon dimulai dari sekitar pukul 4.00 Wita sebelum matahari terbit dengan melaksanakan Mapralina, Ngutang Sok Ceg – ceg, Mabumi Sudha atau Nyukat Karang yang dipuput oleh Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh, dengan Penyanggra para Semeton Puri. Dilanjukan pada pukul 9.00 Wita, Ratu Peranda Griya Gede Manuaba Carangsari melakukan prosesi Melaspas Bade dan Naga Kaang. Kemudian pada pukul 11.00 Wita di Puri Carangsari melakukan Mapegatan yang dipuput oleh Welaka yang dilanjutkan pada pukul 12.05 Wita melaksanakan Memargi Setra dengan diiringi 2 baleganjur, angklung, keklentangan, dan Baris Ketog Jago. Lalu tepat di pukul 15.00 Wita melaksanakan Ngemargian Pengabenan yang dipuput oleh Ratu Peranda Griya Gede Babakan dan Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh, dan pada pukul 16.00 melaksanakan Nganyut ke Segara yang dipuput oleh Ratu Peranda Griya Kediri Sangeh dengan diiringi angklung yang diikuti oleh Semeton Puri dan Paman Due.

1bl#ik-003/31/1/2023

“Nanti Bade dan Naga Kaang yang dibuat dari Griya Kesiman tersebut diarak oleh warga se-Desa Carangsari dan desa-desa se-Kecamatan Petang yang memiliki hubungan sejarah dengan Puri Agung Carangsari. Bahkan, juga warga antar lintas kabupaten, seperti seperti Desa Catur Bangli yang totalnya hampir 1.500 warga yang akan membawa Bade dan Naga Kaang dengan berjarak 800 meter menuju Setra Desa Adat Carangsari dengan 3 tahap pergantian, dan kita juga melakukan prosesi pengalihan jalan dari pagi,” ungkapnya. Gek Inda mengakui prosesi Pelebon tersebut mengambil tingkat upacara Utama, yaitu Sawa Prateka Utama. Bahkan di masa berkabung banyak para tokoh politik dan masyarakat yang berkunjung untuk mengucapkan bela sungkawa, seperti Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, beserta mantan Bupati Badung, A.A. Gde Agung, dan Bupati dan Wakil Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta dan I Ketut Suiasa.

“Yang sudah sempet melayat tokoh-tokoh, seperti Cok Rat, Ketua DPRD Badung Putu Parwata dan wakil ketua serta anggota DPRD Badung, DANREM Udayana, Wisnu Bawa Tenaya mantan Pangdam Udayana, Gus Rai Dharma Wijaya, De gajah, Sugawa Korry dan Golkar se-Bali dan masih banyak lagi yang hadir. Yang mendatangi kami untuk mengucapkan bela sungkawa banyak sekali, seperti temen-temen asosiasi pariwisata, Semeton Arya Sentong serta organisasi pemuda di Bali,” paparnya. Sementara itu, Tjokorda Raka Kerthyasa alias Cok Ibah usai melayat mengatakan, sosok almarhum Alit Yudha di masa hidupnya sangat aktif dalam mengisi kemerdekaan di Bali. Bahkan dirinya yang sama-sama berpartai politik di Golkar, sehingga dalam berpolitik sangat berkomitmen sesuai visi misinya, dan terbukti jasanya sangat banyak dikenang oleh masyarakat.

1bl#ik-004/31/1/2023

“Beliau ini tidak banyak bicara, tapi actionnya banyak sekali, sosialnya tinggi, setia kawannya bagus sekali,” paparnya. Secara pribadi Cok Ibah menceritakan tentang kisah almarhum yang sering bercerita, baik itu spritual, pengembangan pariwisata dan sangat senang sekali bercerita mistis, dan pastinya almarhum Alit Yudha dikatakan sangat humble. “Karakter beliau sangat hangat sekali, dan kesetiaanya juga tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang jelas tiang (saya, red) banyak belajar dari beliau. Apalagi sekarang banyak media Medsos beliau sangat bijak sekali memilahnya, sehingga tidak ada merasa yang saling dirugikan. Para anak muda harus bisa mencontoh Alit Yudha dalam mengimplemantasikan nilai-nilai kesatuan bangsa mempertahankan NKRI,” pungkasnya. tra/ama/ksm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button