Politik dan Sosial Budaya

Nengah Tamba Soroti Generasi Muda Jembrana Makin Enggan Turun ke Sawah



Jembrana, PancarPOS | I Nengah Tamba merasa sangat gelisah, ketika menyoroti para generasi muda Bali, khususnya di Jembrana kini makin enggan turun ke sawah. Imbasnya lahan pertanian di Jembrana mulai terus beralih fungsi. Padahal, kini usia kelian subak rata-rata di atas 50 tahun, sehingga sudah mengancam putusnya regerasi petani. Karena itulah, politisi Partai Demokrat yang bercita-cita menjadikan Jembrana Kembali Jaya itu memandang sosialisasi “bertani bisa kaya” harus dimasifkan terus. “Bila dengan bertani seseorang bisa memperoleh keuntungan bahkan jadi kaya ya pasti generasi muda Jembrana pasti akan turun ke sawah lagi,” ucapnya saat penyerahan peralatan pertanian modern dari Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Indonesia di Jembrana belum lama ini.

3bl-ik#5/2/2020

Pada kesempatan itu, petani di Bumi Makepung sangat sumringah lantaran kini tak hanya memiliki bantuan transplater alias mesin otomatis penanam benih padi, namun juga menerima sumbangan teknologi pertanian lain seperti Seed Drill (mesin otomatis penanam berbagai jenis benih), Combine Harvester (alat pemanen padi yang dapat memotong buliran tanaman yang berdiri, merontokkan, dan langsung membersihkan gabah sambil berjalan di lahan sawah), Cultivator (mesin pengolahan tanah sekunder), dan Rotavator (mesin untuk mengolah tanah sebelum benih ditanam) yang jika ditotalkan senilai Rp6,48 miliar. Karena itu, Tamba menunjukkan bukti nyata dan menyebut nama beberapa orang sukses dari bertani. Namun di menekankan, penerapan teknologi pertanian merupakan hal mutlak untuk masa depan Jembrana yang lebih baik.

Baca |

https://pancarpos.com/20/01/2020/giri-prasta-bisa-sambil-tidur-tamba-calon-bupati-jembrana-jangan-harap/

“Persoalan kita sekarang kan petani kita memiliki lahan sawah yang sempit. Juga berstatus petani penggarap. Hasil produksi pertanian selama ini juga tidak jelas. Siapa yang membeli? KUD kita? Belum tentu. Kalau sudah pasti dan harganya jelas dan jelas pembelinya siapa misalnya pemerintah, ya pasti siapapun mau jadi petani. Apalagi bila petani di Jembrana diajarkan managemen pertanian. Pasti hasilnya luar biasa,” tegasnya. Tamba menekankan calon petani muda Jembrana harus didukung dengan kepastian hasil produksi serta fasilitas penunjang pertanian lainnya. “Kalau sekarang sepertinya kan berjalan bebas. Petani berjalan sendiri; berselanjar sendiri. Nggak ada guiding atau arahan yang jelas. Begitu harga jatuh, petani nggak tahu harus melakukan apa,” terangnya. Sikap konsisten pemerintah, sambung Tamba sangat dibutuhkan demi masa depan Jembrana.

1bl-ik#5/2/2020

“Selain sawah, pemerintah Jembrana juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab menghijaukan kembali hutan. Saya pribadi memiliki cita-cita menjadikan Jembrana sebagai pusat ecotourism Pulau Dewata,” tandas salah satu bakal calon Bupati Jembrana ini. ija/aka/ama/jmg

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close