Daerah

Warga Lalanglinggah Dikagetkan Warung Tanpa Kasir, Gung Tini: Ini Konsep 2M


Denpasar, PancarPOS | Di masa pandemi Covid-19 tidak menyurutkan DPD Perempuan Indonesia Maju (PIM) Provinsi Bali bersama Bali I Miss You (BIMU) melakukan aksi sosial dengan turun langsung ke tengah masyarakat. Bahkan, menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan kali ini kembali melanjutkan gerakan sosial dengan menggelar Warung Kaget 2M atau konsep “Mengurangi – Membagi”. Sosok dibalik pencetus konsep sosial kemanusiaan tersebut adalah Dr. AAA Ngurah Tini Rusmini Gorda, SH., MM., MH., selaku Ketua PIM Bali dengan menggandeng Yayasan Bali Tresna Sujati (BTS) sekaligus melakukan edukasi dan edvokasi. “Kami dalam setiap kegiatan mengedepankan 3M (mendidik, membagi dan menyejahterakan, itu dilaksanakan sebagai mengemban misi Perempuan Maju,” ungkap Gung Tini sapaan akrabnya usai menggelar Warung Kaget 2M di Pondok Pitaya, Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg, Tabanan, Rabu (7/4/2021) siang.

1bl-bn#7/1/2020

Dikatakan aksi Mengurangi – Membagi ini dengan menyediakan paket sembako dan dupa untuk 30 warga yang hadir saat acara Warung Kaget 2M yang sebelumnya juga diberikan edukasi tentang pembuatan Eco-Enzyme untuk penyelamatan lingkungan. Saat warga berbelanja nampak seperti biasa dan bisa bebas memilih setiap barang yang dibutuhkan, tapi setelah mengambil belanjaan akan dikagetkan karena tidak ada kasir untuk pembayaran. Gung Tini menjelaskan, program itu akan terus berlanjut dan menyasar masyarakat khususnya yang terdampak pandemi Covid-19 dan berasal dari berbagai kalangan yang nantinya bisa diberdayakan. Selanjutnya dalam waktu dekat, kegiatan sosial serupa akan diselenggarakan di Desa Kenderan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar untuk membagikan wastra (pakaian) kepada para pemangku. Sebelumnya dikatakan Warung Kaget ini, sudah berjalan dua periode di seluruh Bali untuk membantu meringankan beban masyarakat, apalagi di tengah pandemi Covid-19.

Insert foto: PIM Bali dengan menggandeng Yayasan Bali Tresna Sujati (BTS) sekaligus melakukan edukasi dan edvokasi membuat Eco-Enzyme.

Meskipun organisasi tidak memiliki modal, tetapi pihaknya mengajak anggotanya untuk berpartisipasi urunan. Semua barang yang dijual dalam acara warung kaget, dibeli dari anggota KPRK. Hal itu sebagai implementasi nyata konsep “Pang Pade Payu” menggunakan produk lokal. Dikatakan juga, PIM tidak membawa program sendiri ke masyarakat tetapi menggali program yang benar-benar yang dibutuhkan masyarakat sendiri. Upaya itu memastikan program berjalan dengan baik dan ada rasa memiliki oleh masyarakat. Untuk itu, sosialisasi Eco-Enzyme baru sebatas pengenalan, apabila masyarakat membutuhkan dan berminat, baru akan dilanjutkan programnya. Sementara itu, Ketua Yayasan Bali Tresna Sujati (BTS) Ani Fanawati menyampaikan keunggulan Eco-Enzyme untuk menyelamatkan lingkungan agar sampah tidak menumpuk di TPA. Pembuatan Eco-Enzyme dengan menggunakan 3M (mudah, murah dan multi manfaat). Dimana bahannya mudah dicari, modalnya murah dan fungsinya beragam.

1th-bn#1/2/2020

Upaya itu mencegah adanya sampah keluar rumah, sampah organik yang segar untuk Eco-Enzyme dan yang busuk dibuat pupuk. Sedangkan plastiknya bisa didaur ulang, dibentuk benda-benda kreatif sehingga sampah plastik tidak dibuang ke TPA. “Untuk itu, tidak boleh buang sampah ke TPA,” pungkasnya. Pada kesempatan itu, PIM Bali kerjasama (MoU) dengan Desa Lalang Linggah untuk pemberdayaan masyarakat dihadiri Sekretaris Desa Lalang Linggah I Wayan Adi Suryanta. Sekaligus penyerahan Eco-Enzyme kepada Sekretaris Desa Lalang Linggah I Wayan Adi Suryanta yang akan panen pada tanggal 7 Juli 2021. aya/ama

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close