Politik dan Sosial Budaya

Tragedi Penari Tertusuk Keris, Kagama Gelar Webinar Kupas Tuntas Sasana Tari Rangda


Badung, PancarPOS | Merespons tragedi penari “Rangda tertusuk keris” yang berulangkali terjadi di Bali, Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Pengda Kagamas) Provinsi Bali menggelar webinar mengupas tuntas terkait Sasana Tari Rangda. Webinar dengan tagline Pewaris Adat Bali yang dirangkai dengan peresmian Sanggar Kagama Provinsi Bali merupakan salah satu upaya mitigasi resiko agar tragedi serupa tak terulang. Kagama Bali tidak ingin peristiwa naas yang menimpa I Gede Nanda EP (16), I Komang Ngurah Trisna Para Merta (14), dan I Gede Sudiarta (48) warga Banjar Subagan yang tewas tertusuk keris saat menari rangda terulang.

Insert foto: Webinar menggaet Perkumpulan Among Budaya Prabu Capung Mas, DPD Peradah Indonesia, Asosiasi Media Siber Indonesia, dan Literasipedia.

Webinar yang menggaet Perkumpulan Among Budaya Prabu Capung Mas, DPD Peradah Indonesia, Asosiasi Media Siber Indonesia, dan Literasipedia itu menghadirkan tiga narasumber andal, yakni Jro Mangku Kadek Serongga (seniman), Jro Mangku Nyoman Ardika “Sengap” (seniman), dan Jro Mangku Dr. I Komang Indra Wirawan “Gases”, S.Sn., M.FIL.H (Dosen Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Webinar yang berlangsung selama dua setengah jam lebih di Sanggar Kagama Bali, Jalan Raya Dalung No. 77, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung itu dipandu oleh moderator I Putu Eka Mahardhika, S.IP.,M.AP.

Ketua Pengda Kagama Bali I Gusti Ngurah Agung Diatmika, SH mengatakan pihaknya memiliki tanggung jawab menjaga, melestarikan, dan memahami kekhasan Bali. Pengda Kagama Bali ingin memberikan “warna” bersama kaum muda; milenial secara berkelanjutan. Terkait tari rangda, ungkapnya, masyarakat cendurung hanya paham apa yang dipertontonkan. “Makna tari rangda, kalau tidak dijelaskan, saya sendiri pun tidak tahu karena memang saya pribadi tidak menekuni. Ternyata tari rangda juga punya sasana, bukan semata pertunjukkan yang pertontonkan. Seni pertunjukkan rangda balih-balihan (hiburan) berbeda dengan rangda yang ditarikan secara sakral. Ada beberapa standar operasional prosedur (SOP) yang harus ditaati,” ucapnya, Sabtu (6/3/2021) ditemui di kediamannya.

1bl#ik-5/3/2021

Melalui webinar Pewaris Adat Bali Sasana Tari Rangda diharapkan khalayak mendapatkan informasi yang benar dan sahih dari sumbernya. Para narasumber yang dihadirkan adalah pelaku yang betul-betul mempelajari ilmu atau tatwa tentang rangda. “Kagama memunculkan sisi akademisi tari rangda. Sisi akademiknya di mana? Ternyata sastra-sastra yang dipelajari narasumber tentu adalah bagian nilai akademis. Kan tidak semua orang membaca; tidak semua orang mendalami (lontar, red),” tegasnya sembari menyebut webinar akan menghasilkan rangkuman yang bisa dipelajari oleh masyarakat untuk paham dan tidak sekadar menonton. “Warisan inilah yang ingin kita gemakan,” sambungnya.

Lebih lanjut, rangkuman hasil webinar diharapkan menjadi referensi bagi pemegang kebijakan, khususnya dinas kebudayaan untuk selanjutnya disosialisasikan atau disempurnakan. Ke depan, rangkuman ini juga bisa menjadi pegangan bagi desa adat. “Tatanan ini harus kita pahami bersama. Paling tidak ada dasar untuk melakukan pelarangan atau membolehkan dalam pementasan tari sakral. Ini merupakan bagian dari upaya Kagama Bali terkait pewaris adat Bali. Sendi-sendi kehidupan Bali yang diwariskan kepada kita sebelum kita menjaga, kita harus paham dulu. Tak sekadar tahu di permukaan saja,” tegasnya. ija/ama


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button