Ekonomi dan Bisnis

Diguyur KUR BRI, Bangkitkan Usaha Dagang Canang di Pasar Banyuasri


Buleleng, PancarPOS | Bali sebagai salah satu pulau kecil yang terdapat di Indonesia sangat terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Pura. Masyarakat di Pulau Bali mayoritas penduduknya memeluk Agama Hindu. Uniknya, umat hindu di Bali berbeda dengan umat Hindu di belahan dunia manapun. Perbedaan itu terletak pada intensitas tingkat kegiatan upacara keagamaan, karena seluruh warga umat Hindu hampir setiap hari melakukan kegiatan ritual keagamaan yang memiliki makna dasar untuk memohon keselamatan, rasa syukur, dan perlindungan dari Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bahkan, setiap kegiatan upacara yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali tidak bisa terlepas dari yang namanya canang untuk semua sarana banten (sesajen). Seiring dengan perkembangan zaman, dan kelangkaan bahan-bahan baku canang, serta keterbatasan waktu, khususnya bagi yang hidup di kota untuk menyiapkan sarana upakara ini, membuat sebagian besar umat Hindu membeli canang. Berdagang canang pun menjadi tren, atau alternatif tersendiri sebagai lahan bisnis yang menjanjikan, sehingga pedagang canang mulai menjamur, baik di kios dan lapak pasar, hingga daerah pinggiran maupun pusat kota. Peluang emas tersebut, juga telah lama digarap oleh Made Supadmi untuk membuat dapurnya bisa terus mengepul, hingga bisa memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya.

1th#ik-014.25/2/2024

Dalam benak Supadmi, semasih ada upacara agama yang digelar umat Hindu di Bali, maka selama itu pula akan diperlukan canang, di mana orang-orang yang tidak sempat membuatnya akan memilih membeli. Inilah yang mendorong pemikirannya untuk berjualan canang, karena canang akan terus dicari orang, apalagi pada saat rahinan (hari upacara agama Hindu) tertentu jumlah canang yang dicari juga akan lebih banyak. Usaha yang terus dijalankan itu, ternyata berbuah manis, sebab canang merupakan usaha yang muncul karena Yadnya (upacara), maka akan ada yang membeli dan menjual sebagai proses perputaran ekonomi yang akan terus berputar. Supadmi mengisahkan, awalnya hanya melayani langsung pelanggannya dengan berkeliling membawakan canang sesuai pesanan. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai ingin mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dengan membeli kepemilikan salah satu kios di Pasar Banyuasri yang merupakan pasar terbesar kedua setelah Pasar Anyar, Buleleng yang terletak di Jalan Anggrek No.7, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Jauh sebelumnya, Supadmi bersama 56 pemilik kios sempat bernafas lega, karena Pasar Banyuasri yang kini berdiri megah dan kokoh, setelah tuntas direnovasi bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-417 Kota Singaraja secara resmi dibuka, pada Rabu, 30 Maret 2021. Namun apa daya saat itu, Bali dihantam dampak ekonomi yang sangat parah akibat pandemi Covid-19, sehingga modal usahanya tidak cukup memenuhi pembayaran sebesar Rp40 juta untuk kepemilikan kios tersebut.

Untungnya nasib masih berkata lain, Perumda Pasar Argha Nayottama sebagai badan pengelola Pasar Banyuasri ikut turun tangan membantu dengan memberikan rekomendasi untuk melakukan pinjaman perbankan yang digunakan menambah modal usaha membangkitkan jualan canangnya. Alhasil sekira 4 tahun lalu, dirinya langsung diguyur bantuan permodalan, berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., atau BRI sebesar Rp25 juta. Sebagai pedagang canang, Supadmi mengaku gembira setelah dibantu BRI bisa mendapat kios di Pasar Banyuasri. Ditambah lagi kiosnya berada dibarisan depan, walaupun sedikit dipojokan. Karena peluang usaha semakin terbuka lebar, di tahun 2023 lalu, Supadmi kembali memberanikan diri meminjam KUR dari BRI sebesar Rp50 juta yang langsung gunakan untuk memperbanyak stok pembelian saranan banten dan canang. Berkat bantuan modal dari BRI itu, bisnis jualan canangnya pun terus berkembang. Selain canang, pemesanan utamanya untuk pejati, termasuk janur dan kelapa muda juga semakin tinggi di pasar. “Modal KUR yang saya pinjam di BRI waktu itu, juga disesuaikan dengan kebutuhan permintaan modal saya,” kenangnya, saat ditemui pada Kamis (4/4/2024), seraya mengaku sangat bersyukur, karena berkat bantuan dari BRI usahanya bisa kembali bangkit. Bahkan saat ini, sebagai pedagang tidak hanya sebatas menjual canang, akan tetapi juga menyediakan sarana banten lainnya, seperti daksina, segehan, timpat dampul dan, pejati. “Untuk sehari-harinya saya menyediakan canang, namun pada hari-hari besar tertentu mulailah saya menjual berbagai macam kebutuhan untuk sarana banten,” terang Ibu satu anak itu.

1bl#ik-016.1/3/.2024

Sepanjang tahun berjalan, bisnis dagang canang ini, juga semakin mengalami kemajuan. Permintaan dari pelanggannya, juga terus meningkat, sehingga menambah kesibukannya sebagai penjual canang yang harus dimulai dari pukul 05.30 WITA dengan menempuh perjalanan selama 30 menit dengan sepeda motor, dari rumahnya menuju Pasar Banyuasri. Bahkan, dia tidak jarang harus bergadang hingga malam, jika harus memenuhi banyak pesanan dari pelanggannya. Resiko terjun dalam sektor informal tersebut harus berani ia hadapi, bahkan sambil menyambi jualan keliling, berupa pakaian dan kain tradisional Bali. Selain pendapatannya yang dirasa cukup tinggi, jam kerja seorang pedagang canang juga tidak terikat, sehingga kaum hawa, seperti Supadmi dapat membagi waktunya antara mengurus rumah tangga sekaligus mencari nafkah. Apalagi suaminya, Gusti Putu Jelatik yang sebelumnya sempat bekerja, kini hanya bisa membantu membuat canang di rumah, bersama anak perempuan semata wayangnya sebelum menikah. Di samping itu, ada tuntutan sosial dan ekonomi rumah tangga yang cukup berat mendorong perempuan mencari nafkah untuk menambah penghasilan. Di antaranya Supadmi, sebagai perempuan Bali sudah terbiasa menjadi sumber daya potensial, di mana kemampuan yang dimiliki harus digali dan dikembangkan. Namun, kekuatan fisiknya yang semakin renta di usia senja yang mendekati 50 tahun untuk melakukan aktivitas sangat erat kaitannya dengan umur. Karena, bila umurnya telah melewati masa produktif, maka semakin menurun kekuatan fisiknya, sehingga produktivitas dan pendapatannya juga ikut menurun.

Meski demikian, Supadmi tidak pernah menyerah untuk menghadapi kerasnya kehidupan, terutama saat melemahnya semua sektor perekomian di Bali pasca pandemi Covid-19. Untung pasti tersenyum, kalau rugi akan menangis, ungkapan tersebut memang berlaku bagi mereka yang bergerak di dunia usaha, baik yang berskala besar, maupun yang kecil. Namun tampaknya, ungkapan tersebut tidak berlaku bagi pedagang canang, seperti Supadmi yang terlihat selalu tersenyum menyapa pelanggannya. Menurutnya, dengan modal bahan baku yang tidak seberapa dalam sehari pendapatan pedagang canang hanya mencapai Rp200 ribu, jika di hari biasa. Apabila pada hari-hari besar umat Hindu, maka pendapatannya bahkan mampu mencapai lebih dari Rp400 ribu per harinya. Dengan pendapatan yang cukup tinggi ini, membuat banyak orang yang mulai melirik bisnis ini. Bahkan, seiring dengan berjalannya waktu, jumlah pedagang canang di suatu pasar tradisional semakin bertambah. Bahkan, pesaingnya juga ada pedagang canang musiman. Pedagang canang musiman ini, biasanya tidak memiliki lapak tersendiri saat berjualan dan selalu berpindah-pindah. Akibatnya, persaingan antara satu pedagang dengan pedagang canang lainnya akan semakin ketat dan kompetitif, kemudian berimbas kearah pendapatan pedagang canang di pasar tidak merata satu sama lainnya. “Namun persaingan itu, tidak menjadi masalah, karena rejeki semuanya sudah ada yang mengatur. Saya akan selalu berusaha dan bekerja untuk memenuhi kepuasan pelanggan saya selama ini,” tegasnya.

1bl#ik-019.1/4/2024

Namun, satu hal penting yang ia tekankan, ketika menjadi pedagang canang tidak boleh sekalipun berbohong dalam proses pembuatan canang, terutama yang terkait dengan isi canang atau kelengkapannya. Supadmi mengaku berusaha untuk membuat canang, agar tampak menarik dengan menggunakan bunga yang segar. Apabila pada hari-hari tertentu terjadi peningkatan harga bahan baku canang, maka ia juga terpaksa harus menaikkan harga jual canang. “Sebagai pedagang sarana banten dan canang, jangan sekali-sekali mengurangi kelengkapan canang atau banten yang akan dijual. Inilah prinsip saya, lebih baik saya naikan harganya menyesuaikan dengan harga bahan baku yang dipakai canang,” tegasnya, sembari menyebutkan rata-rata menjual canang dengan harga Rp5 ribu sampai Rp15 ribu tergantung jumlah canang yang dipesan pelanggannya. Sedangkan khusus untuk canang pejati lengkap biasanya dijual seharga Rp120 ribu. Kiat lainnya untuk menjaga dan mempertahankan langganannya, yaitu selain sigap dan memberi pelayanan yang terbaik, juga harus selalu ramah dengan pembeli. Selain itu, ia selalu menghargai kembalian uang kecil, dan memperhatikan kualitas canang yang dijual. “Saya juga harus selalu perhatikan ketersediaan bahan baku canang yang harus saya miliki, dan jarang tutup (tidak berjualan, red). Kalau di kios juga harus rajin menjaga kebersihan, sebagai tempat usaha berdagang,” terangnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Perumda Pasar Argha Nayottama, I Putu Suardhana, SE., M.M., mengakui terus berkomitmen untuk mendukung terwujudnya program pasar dan digitalisasi pedagang pasar. Salah satunya menjalin kerja sama dengan BRI untuk pembiasaan pedagang menabung dan penyaluran dana KUR. Penyaluran dana KUR ini dilakukan untuk membantu permodalan para pedagang, termasuk pedagang canang yang ada di Pasar Banyuasri. Diharapkan dana KUR ini, mampu membangkitkan kembali ekonomi pedagang. Apalagi sekarang ini, sudah banyak perbankan yang merambah ke pedagang pasar. “Tentunya ini menjadi suatu peluang dan kesempatan yang baik bagi pedagang yang ada di pasar. Mohon jaga dengan baik kejujuran dan kepercayaan, baik sebagai pedagang maupun perbankan,” katanya. Putu Suardhana, juga mengatakan siap menampung semua ide dan masukan dari pedagang dan pemangku kebijakan. Termasuk terbuka pada kolaborasi untuk bersama-sama memajukan Pasar Banyuasri menjadi salah satu ikon perkembangan perekonomian di Kabupaten Buleleng. Apalagi Pemerintah Kabupaten Buleleng sebenarnya telah berupaya membangkitkan minat kunjungan masyarakat ke Pasar Banyuasri. “Nantinya komunitas atau pelaku UMKM dan pedagang yang ada di Buleleng semuanya kita ajak bergerak bersama. Tentunya hal tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang dan berbelanja ke Pasar Banyuasri,” ujar Suardhana.

1bl#bn-29/8/2020

Secara terpisah, Pemimpin Cabang BRI Singaraja, Panji Kurniawan menegaskan KUR BRI yang diterima oleh pedagang canang dapat menjadi solusi di tengah sulitnya permodalan. Ia mengharapkan dengan adanya penyaluran dana KUR ini, kondisi perekonomian para pelaku UMKM, khususnya yang ada di Pasar Banyuasri dapat segera membaik. “Oleh karena itu, dukungan bagi para UMKM ini terus lebih dimaksimalkan, karena merupakan salah satu tulang punggung perekonomian. Kami mengharapkan dana KUR yang sudah disalurkan ke para pedagang di Pasar Banyuasri dapat terserap 100 persen bagi para pedagang pasar,” harapnya. Panji sapaan akrabnya itu, menjelaskan program pinjaman dengan bunga relatif murah ini, memiliki beberapa kategori pinjaman. Kategorinya, yakni KUR Supermikro dengan besar pinjaman sampai Rp10 juta dengan bunga dipatok sekitar 3 persen per tahun. Selanjutnya, KUR Mikro dapat meminjam Rp10 juta sampai dengan Rp100 juta. Pemerintah juga menetapkan KUR Mikro yang memiliki bunga berjenjang bagi nasabah yang telah lunas. Perinciannya, bunga 6 persen untuk yang pertama kali mengajukan, 7 persen kedua kali, 8 persen ketiga kali, dan 9 persen keempat kali mengajukan pinjaman KUR Mikro. Sedangkan kategori KUR Kecil dengan besaran pinjaman Rp100 juta hingga Rp500 juta. Kategori ini juga menetapkan bunga berjenjang 6 persen hingga 9 persen. Dalam skema pinjaman KUR, nasabah dengan pinjaman sampai Rp100 juta tidak memerlukan agunan tambahan. Tidak memerlukan jaminan tambahan itu, karena pemerintah telah menyediakana system collateral melalui Asuransi Jiwa Kredit (AJK) dan asuransi kredit oleh perusahaan penjaminan.

Sementara itu, penyaluran KUR dari BRI dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penyaluran langsung dapat dilakukan dengan mendatangi kantor cabang bank pelaksana. Penyaluran KUR langsung ini, biasanya hanya dapat dilakukan oleh UMKM dan Koperasi. Sedangkan penyaluran secara tidak langsung dapat dilakukan melalui Lembaga Keuangan Mikro (LKM), dan KSP/ USP Koperasi, atau melalui linkage program lain yang bekerja sama dengan bank pelaksanaan. Melalui laman resmi Bank BRI menerapkan beberapa syarat untuk mendapatkan KUR BRI 2023. Persyaratan tersebut terdiri dari KUR Super Mikro, KUR Mikro, dan KUR Kecil. Setiap persyaratan memiliki kriteria umum dan khusus yang harus dipenuhi. Selain itu, ada juga beberapa dokumen yang harus dipersiapkan sebelum mengajukan KUR BRI. Adapun dokumen yang harus dipersiapkan adalah memiliki NIB atau Surat Keterangan Usaha yang dikeluarkan oleh kelurahan, RT, atau RW, keterangan jenis usaha dan lama usaha, e-KTP, Kartu Keluarga, akta nikah, NPWP, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), atau Surat Keterangan Usaha lainya. ama/ksm

Baca Juga :


Back to top button