Jumat, April 24, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalIbu Putri Koster Tegaskan Integritas Penyiaran Jadi Benteng Gelombang Hoaks

Ibu Putri Koster Tegaskan Integritas Penyiaran Jadi Benteng Gelombang Hoaks

Denpasar, PancarPOS | Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster atau yang akrab dikenal sebagai Putri Koster, mengingatkan satu hal mendasar yang mulai tergerus zaman: integritas penyiaran. Dalam peringatan Hari Penyiaran Nasional ke 93 di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Jumat 3 April 2026, ia menegaskan bahwa kualitas informasi adalah fondasi utama menjaga ketahanan sosial masyarakat Bali.

Hadir sebagai penerima lifetime achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Bali, Putri Koster tidak sekadar menyampaikan apresiasi. Ia justru memberikan penekanan tajam kepada seluruh insan penyiaran agar tidak kehilangan arah di tengah kompetisi media yang semakin keras.

Menurutnya, sebuah siaran tidak hanya dinilai dari seberapa cepat informasi disampaikan, tetapi dari sejauh mana kebenaran dan kualitasnya terjaga. Informasi yang disajikan harus jelas, transparan, berbasis fakta, serta mampu memberikan edukasi yang membangun.

“Berita atau siaran akan bernilai jika mampu memberikan pengetahuan, edukasi, serta disampaikan secara cepat dan tepat berdasarkan kenyataan,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi pengingat keras bahwa kecepatan tanpa akurasi adalah ancaman. Di era media sosial, ketika setiap orang bisa menjadi penyebar informasi, standar jurnalistik justru harus semakin diperkuat, bukan dilonggarkan.

Putri Koster juga menyoroti potensi bahaya dari maraknya hoaks yang tidak hanya menyesatkan, tetapi berpotensi memecah belah masyarakat. Ia menegaskan bahwa penyedia informasi harus mampu bersaing secara sehat, tanpa mengorbankan kebenaran demi sensasi.

Baginya, profesi penyiar bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan tanggung jawab moral. Setiap kata yang disampaikan memiliki dampak sosial yang nyata, sehingga harus diolah secara komunikatif, konstruktif, dan tetap menjaga nilai nilai positif.

Ia mengingatkan agar insan penyiaran tidak terjebak dalam produksi konten yang memicu polemik atau konflik akibat informasi yang tidak berimbang. Dalam konteks Bali yang sangat menjunjung harmoni sosial, hal ini menjadi krusial.

Lebih jauh, ia menyoroti fenomena media sosial sebagai ujian nyata bagi integritas individu. Setiap unggahan, menurutnya, mencerminkan karakter dan kapasitas seseorang sebagai penyampai informasi.

“Jangan sampai kita tidak mampu menjaga integritas sebagai penyaji informasi. Media sosial adalah ujian yang menunjukkan karakter kita,” ujarnya.

Peringatan ini menjadi semakin relevan ketika batas antara media profesional dan media personal semakin kabur. Tanpa kontrol diri dan etika, informasi yang beredar justru bisa merusak kualitas ruang publik.

Sementara itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Bali, Agus Astapa, menegaskan komitmen lembaganya dalam menjaga kualitas siaran di Bali. Ia menyebut bahwa pengawasan dilakukan secara intensif terhadap seluruh konten yang beredar, baik dari sisi materi, isi, maupun gaya penyampaian.

Dari total 66 radio dan 30 televisi penyiaran daring yang beroperasi di Bali, hingga saat ini belum ditemukan pelanggaran serius yang berujung sanksi. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kualitas penyiaran di Bali masih terjaga.

Namun demikian, KPID tetap menerapkan mekanisme pengawasan berlapis. Teguran lisan menjadi langkah awal jika ditemukan pelanggaran, sebelum tindakan tegas diambil apabila kesalahan berulang.

Dengan mengusung tema Kolaborasi Penyiaran Mewujudkan Ketahanan Nasional, peringatan Hari Penyiaran Nasional tahun ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen bersama.

Bahwa penyiaran bukan hanya soal industri, tetapi bagian dari sistem ketahanan nasional yang menjaga stabilitas informasi, persatuan masyarakat, dan arah pembangunan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah penghargaan juga diberikan kepada insan penyiaran dan pelaku seni yang berkontribusi menjaga kualitas konten lokal. Di antaranya penyiar muda berbakat radio lagu pop Bali Gus Wisnu, penyanyi rap muda I Gede Juna Pratama, serta penyiar program Dagang Gantal Ketut Camplung dan Gede Tomat.

Penghargaan juga diberikan kepada sepuluh penyanyi dengan karya lagu terbaik dan inspiratif, sebagai bentuk apresiasi terhadap konten yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi dan melestarikan budaya Bali.

Di tengah derasnya arus globalisasi informasi, pesan Putri Koster menjadi penegasan penting bahwa Bali tidak hanya harus kuat secara budaya, tetapi juga secara informasi. Karena pada akhirnya, perang terbesar hari ini bukan hanya soal ekonomi atau politik, tetapi soal kebenaran. Dan di situlah integritas penyiaran menjadi garis pertahanan terakhir. mas/ama/*

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img