Tumpek Krulut Jadi Alarm Peradaban Bali, Gubernur Koster Serukan Kebangkitan Kasih Sayang dan Harmoni Semesta

Denpasar, PancarPOS | Pemerintah Provinsi Bali memperingati Rahina Tumpek Krulut yang jatuh pada Saniscara Kliwon, Wuku Krulut, Sabtu (3/1/2026), sebagai momentum strategis untuk memperkuat nilai kasih sayang, harmoni, dan keseimbangan hidup masyarakat Bali dalam bingkai dresta, adat, dan kearifan lokal yang berakar kuat pada ajaran Hindu Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan, Tumpek Krulut bukan sekadar hari raya ritual, melainkan refleksi mendalam tentang bagaimana manusia Bali seharusnya membangun relasi yang penuh cinta, empati, dan welas asih, baik kepada sesama manusia, alam lingkungan, maupun kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
“Tumpek Krulut merupakan Rahina Tresna Asih dalam dresta Bali. Ini hari suci untuk menumbuhkan kasih sayang, rasa cinta, dan keharmonisan hidup. Nilai ini harus hadir dalam perilaku keseharian masyarakat Bali, tidak hanya berhenti pada upacara,” tegas Wayan Koster dalam pernyataannya, Sabtu (3/1/2026).
Dalam kalender Bali Pawukon, Tumpek Krulut datang setiap 210 hari sekali dan memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Rahina ini dipersembahkan kepada Dewa Iswara sebagai manifestasi kekuatan keindahan, seni, dan rasa. Oleh karena itu, Tumpek Krulut identik dengan pemuliaan terhadap seni, musik, gamelan, sastra, serta ungkapan rasa cinta dan kasih sayang antarumat manusia.
Gubernur Koster menekankan bahwa di tengah tantangan globalisasi, disrupsi digital, dan tekanan ekonomi global, nilai-nilai Tumpek Krulut justru menjadi semakin relevan. Menurutnya, Bali tidak boleh kehilangan jati diri dan ruh kebudayaannya hanya karena arus modernisasi yang bergerak cepat dan kerap menggerus nilai-nilai lokal.
“Pembangunan Bali ke depan tidak semata-mata soal infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan karakter dan peradaban. Tumpek Krulut mengajarkan kita tentang keseimbangan niskala dan sekala, tentang pentingnya membangun Bali dengan cinta, bukan dengan amarah, apalagi keserakahan,” ujar Koster.
Ia mengaitkan peringatan Tumpek Krulut dengan visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yakni menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya. Menurutnya, konsep ini tidak dapat dipisahkan dari nilai Tresna Asih yang terkandung dalam Tumpek Krulut.
“Kita menjaga alam, budaya, dan manusia Bali dengan landasan kasih sayang. Itulah esensi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Kalau semua dijalankan dengan cinta, maka Bali akan tetap ajeg, lestari, dan bermartabat,” imbuhnya.
Secara historis dan teologis, Tumpek Krulut juga dimaknai sebagai hari pemuliaan terhadap gamelan dan alat-alat seni. Banyak krama Bali yang secara turun-temurun melakukan upacara pada gamelan, memberikan sesajen, serta memainkan tabuh-tabuh sakral sebagai simbol penghormatan terhadap seni sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dalam konteks kekinian, Wayan Koster mendorong agar makna ini diterjemahkan lebih luas, tidak hanya pada gamelan, tetapi juga pada penghargaan terhadap para seniman, budayawan, dan pekerja seni yang telah menjaga denyut kebudayaan Bali di tengah tantangan zaman.
“Seniman adalah penjaga rasa dan jiwa Bali. Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen untuk terus memberikan ruang, perlindungan, dan keberpihakan kepada seni dan budaya Bali agar tetap hidup dan berkembang,” katanya.
Ia mencontohkan berbagai kebijakan konkret yang telah dan terus dilakukan Pemprov Bali, mulai dari penguatan desa adat, pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali, hingga penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai ajang strategis pelestarian dan regenerasi seni budaya Bali.
Lebih jauh, Koster menyoroti bahwa nilai Tresna Asih juga harus diwujudkan dalam kehidupan sosial, termasuk dalam birokrasi, dunia pendidikan, serta relasi antarwarga. Ia menegaskan bahwa pelayanan publik harus dilandasi empati dan kejujuran, bukan sekadar prosedur administratif.
“Kasih sayang itu nyata dalam sikap melayani masyarakat dengan tulus, adil, dan bertanggung jawab. Birokrasi Bali harus mencerminkan nilai-nilai budaya Bali yang luhur,” ujarnya.
Dalam suasana global yang penuh konflik, polarisasi, dan krisis kemanusiaan, Koster menilai Bali memiliki peran moral untuk menunjukkan kepada dunia bahwa harmoni dan kedamaian bukan utopia, melainkan dapat diwujudkan melalui kearifan lokal yang hidup dan dipraktikkan secara konsisten.
“Bali sudah lama dikenal dunia sebagai pulau damai. Itu bukan slogan, tetapi buah dari nilai-nilai budaya yang dijalankan secara nyata. Tumpek Krulut adalah salah satu fondasi spiritual dari kedamaian itu,” tegasnya.
Ia juga mengajak generasi muda Bali untuk tidak memandang hari raya Hindu Bali sebagai formalitas semata, melainkan sebagai sumber nilai dan pedoman hidup. Menurutnya, generasi muda harus mampu memaknai Tumpek Krulut dalam konteks kekinian, seperti membangun relasi yang sehat, menjunjung toleransi, dan menggunakan teknologi secara beretika.
“Anak muda Bali harus bangga dengan budayanya. Gunakan media sosial, teknologi digital, dan kreativitas untuk menyebarkan pesan kasih sayang, bukan kebencian,” kata Koster.
Peringatan Tumpek Krulut tahun 2026 ini juga dirangkaikan dengan seruan Pemprov Bali kepada seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga suasana Bali tetap kondusif, damai, dan harmonis di awal tahun. Pemerintah berharap nilai Tresna Asih menjadi spirit bersama dalam menghadapi berbagai agenda pembangunan dan dinamika sosial sepanjang tahun 2026.
“Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk menata niat dan sikap. Mari kita awali tahun 2026 dengan hati yang bersih, penuh cinta, dan semangat gotong royong,” ujar Gubernur Bali.
Wayan Koster menegaskan, Bali ke depan akan terus dibangun dengan pendekatan budaya sebagai fondasi utama. Pembangunan ekonomi, pariwisata, dan infrastruktur harus sejalan dengan nilai adat, agama, dan budaya Bali agar tidak menimbulkan kerusakan sosial maupun ekologis.
“Bali tidak boleh kehilangan roh. Kalau roh budaya hilang, Bali hanya tinggal nama. Tumpek Krulut mengingatkan kita semua tentang roh itu,” pungkasnya.
Peringatan Rahina Tumpek Krulut tahun ini menjadi pengingat bahwa kekuatan Bali bukan hanya pada keindahan alamnya, tetapi pada nilai-nilai luhur yang hidup dalam setiap denyut masyarakatnya. Nilai Tresna Asih, harmoni, dan keseimbangan semesta menjadi warisan sekaligus tanggung jawab bersama untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. mas/ama/*














