Menlu Retno Marsudi: Indonesia Menyerukan Soliditas Negara-Negara di Global South Menjadi Penggerak Perubahan

Badung, PancarPOS | Forum internasional High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF-MSP) dan Indonesia-Africa Forum (IAF) baru saja resmi dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Bali pada Senin, 2 September 2024. Dengan tema “Bandung Spirit for Africa’s Agenda 2063”, forum ini mengundang perwakilan dari 54 negara Afrika, dengan tujuan utama mengoptimalkan potensi transaksi bisnis antara Indonesia dan Afrika. IAF 2024 juga fokus pada isu transisi energi hingga kerjasama di bidang pangan.
IAF 2024 ini bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa. Forum ini menjadi momen krusial bagi pelaku bisnis Indonesia untuk memperluas sayap dan menjalin kemitraan strategis dengan negara-negara di Afrika, kawasan yang tengah bersinar sebagai pasar masa depan. Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi dalam sesi konferensi pers di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Senin 2 September 2024 mengungkapkan, terdapat dua pertemuan utama yakni High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF-MSP) dan Indonesia-Africa Forum (IAF).
Setelah sesi leaders berakhir, kedua pertemuan ini dilanjutkan dan akan berlangsung hingga hari berikutnya. Agenda forum tidak hanya terbatas pada pertemuan pleno, tetapi juga mencakup leaders talk, business matching, diskusi panel, serta berbagai side event lainnya. Menlu Retno Marsudi juga menambahkan bahwa total delegasi yang hadir dalam kedua acara tersebut melebihi 1.400 orang, yang berasal dari 29 negara. Selain itu, di sela-sela kedua pertemuan tersebut, juga akan diadakan pertemuan dengan Konsul Kehormatan Indonesia di Afrika.
Konsul Kehormatan berperan sebagai jembatan penting bagi Indonesia dalam memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara Afrika. Pertemuan ini akan dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, mengingat Menteri Retno harus kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan kedatangan Paus Franciscus yang dijadwalkan tiba esok siang. “Dan pertemuan dengan Konsul Kehormatan besok akan dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri, karena nanti malam saya harus kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan ketibaan Paus Franciscus besok siang di Jakarta,” katanya.
Lebih lanjut, Menlu Retno Marsudi menyampaikan bahwa Indonesia-Africa Forum (IAF) ini merupakan yang kedua kalinya diadakan, setelah yang pertama diselenggarakan pada tahun 2018. Dengan tema “Bandung Spirit For Africa’s Agenda 2063,” forum tahun ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan antara Indonesia dan negara-negara Afrika. “IAF yang pertama kita sudah selenggarakan pada tahun 2018 dan tahun ini tema yang kita usung adalah Bandung Spirit For Africa’s Agenda 2063. Tujuan utamanya adalah memperkokoh kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan,” ungkapnya.
Menlu Retno Marsudi juga menekankan bahwa hubungan politik dan historis antara Indonesia dan Afrika telah terjalin dengan kokoh sejak 1955. Fondasi yang kuat ini, menurutnya, penting untuk dimanfaatkan dalam membangun kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Menlu Retno Marsudi kemudian menjabarkan tiga poin penting mengapa Indonesia-Africa Forum ini memiliki arti strategis bagi Indonesia. Pertama, melalui forum ini, Indonesia menyerukan soliditas negara-negara di Global South untuk menjadi penggerak perubahan. Mengingat kondisi global yang semakin mengkhawatirkan dan berdampak pada ketidakpastian ekonomi, negara-negara berkembang, terutama di Global South, menjadi yang paling terdampak.
Oleh karena itu, negara-negara ini harus memiliki semangat yang sama untuk menjadi bagian penting dari perubahan dan solusi, melalui kemitraan dan kerjasama yang lebih erat. “Kita bersyukur selama pertemuan yang dipimpin oleh Bapak Presiden tadi pagi, dan kemudian dilanjutkan oleh Pak Menteri Bappenas, keinginan memperkuat kerjasama selatan-selatan sangat jelas. Dan spirit Bandung dijadikan kompas yang digunakan untuk menavigasi kerjasama selatan-selatan,” ujarnya.
Selain itu, Menteri Retno Marsudi mengungkapkan bahwa dalam pembukaan sesi leaders, Presiden Republik Indonesia, Jokowi, menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berperan sebagai bridge builder, menjadi jembatan antara perbedaan-perbedaan, dan membela kepentingan negara-negara di Global South. Indonesia juga bertekad untuk terus memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi negara-negara berkembang. Presiden Jokowi menekankan bahwa sudah saatnya suara dan kepentingan Global South didengarkan, serta hak mereka atas pembangunan harus dihormati.
”Saatnya suara dan kepentingan The Global South didengarkan, dan hak The Global South atas pembangunan harus dihormati,” tegasnya. Kemudian, poin kedua yaitu pentingnya menjaga dan mengobarkan spirit Bandung. Kedekatan historis dengan negara-negara Afrika harus terus dipertahankan, dan spirit Bandung perlu tetap hidup. Menteri Retno juga menambahkan bahwa pada tahun 2013, Uni Afrika telah mencanangkan Africa Agenda 2063, sebuah peta jalan untuk pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan bagi negara-negara Afrika selama 50 tahun ke depan. Agenda ini diharapkan tercapai pada tahun 2063.
Menteri Retno menekankan bahwa spirit Bandung, sebagaimana terlihat dalam diskusi sebelumnya, tetap menjadi bagian integral dari agenda tersebut. “Tadi saya sampaikan bahwa beberapa negara bahkan menyebutkan bahwa spirit Bandung akan menjadi kompas dalam menavigasi upaya pembangunan dan kerjasama antara negara-negara selatan. Dan tahun depan, bertepatan dengan 70 tahun, KTT Konferensi Asia Afrika, dan menurut rencana Indonesia akan menyelenggarakan Platinum Jubilee of the Asian African Conference,” ujarnya.
Poin ketiga yang disampaikan oleh Retno Marsudi adalah pentingnya Indonesia-Africa Forum sebagai salah satu sarana untuk memperkuat kemitraan dengan Afrika. Afrika diproyeksikan sebagai “continent of the future” atau kontinen masa depan, dengan peluang kerjasama yang sangat besar. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Afrika mencapai 4 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi dunia yang hanya 2,7 persen. Selain itu, Afrika juga memiliki bonus demografi dengan jumlah penduduk usia muda yang besar, menjadikannya kawasan yang sangat potensial untuk masa depan.
“Peluang kerjasamanya sangat besar. Tahun lalu pertumbuhan ekonominya mencapai 4 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi dunia 2,7 persen. Dan Afrika juga memiliki bonus demografi dengan penduduk usia muda yang besar,” terangnya. Menteri Retno Marsudi menambahkan bahwa Afrika juga diberkahi dengan berbagai sumber daya alam melimpah, termasuk mineral kritis. Sementara, kerjasama ekonomi antara Indonesia dan negara-negara Afrika terus meningkat seiring waktu. Sejauh ini, terdapat beberapa kerjasama bisnis yang sudah berjalan antara Indonesia dan Afrika, antara lain ekspor vaksin ke 41 negara Afrika sejak 2001. Selain itu, Indonesia juga telah membangun pabrik mie instan di Nigeria, yang sangat populer di Afrika.
Pengolahan minyak atsiri cengkeh di Zanzibar juga sedang dikembangkan, dengan penambahan unit distilasi di Afrika. Selain itu, ada juga ekspor alat pertanian dan pupuk Indonesia ke Afrika. ”Dan juga ekspor alat pertanian dan pupuk Indonesia ke Afrika. Ini hanya beberapa contoh kerjasama yang sudah kita lakukan dengan negara-negara Afrika,” bebernya. tim/ama









