Ekonomi dan Bisnis

Kisah Usaha Panji Ceramic Bali, Dirintis dari Nol Digenjot KUR BRI


Badung, PancarPOS | Merintis sebuah usaha memang tidak bisa pernah mudah. Konsistensi, kerja keras, pantang menyerah dan kemauan membuka diri menjadi syarat mutlak dimiliki bagi calon pengusaha di era serba dinamis saat ini. Hal tersebut, juga dialami oleh Made Widiantara, Founder Panji Ceramic Bali yang sejak puluhan tahun terus mengasah ilmu dan keterampilan membuat keramik, sehingga bisa ahli menguasai seni kerajinan dari negeri Tiongkok tersebut. Keramik adalah sesuatu yang bisa ditemukan di banyak tempat, seperti di restoran, kafe, atau toko-toko dengan desain interior yang estetis. Selain itu, keramik juga bisa jadi telah menjadi bagian dari gaya hidup yang menampilkan artistik. Tidak hanya untuk keperluan desain, keramik bisa membuat kesan elegan, misalnya di meja makan. Bahkan, kini sudah banyak tersedia peralatan makanan atau tableware dengan material dari keramik. Mulai dari cangkir, piring, dan teko bisa jadi jenis keramik yang bisa dibuat. Keberadaanya ini, telah membuat keramik memiliki daya tarik tersendiri yang awalnya hanya sekedar hobi, atau bagi pelaku usaha, bahkan bisa menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Apalagi mulai banyak konsumen yang terus mencari keramik, baik buatan tangan atau brand lokal. Permintaan semacam ini, terus meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Wajar saja, Panji sapaan akrabnya itu, kini bisa sukses menjadi pengusaha keramik berbahan baku dasar tanah liat yang diproduksinya di kawasan Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Kunci utama bisa sukses terjun ke dalam usaha ini, adalah kreatif dan inovatif terutama dalam segi bentuk atau desain keramik itu sendiri. “Misalnya kalau lagi ramai pot bunga seperti ini, maka kita dituntut kreatif membuat motif-motif atau corak baru, sehingga mampu menarik para konsumen,” ungkap pengusaha muda asal Desa Sarimekar, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng itu, pada Sabtu (30/3/2024), saat ditemui sedang mencelup-celupkan cairan glasir untuk bahan setengah jadi keramiknya.

Founder Panji Ceramic Bali, Made Widiantara (kiri), saat sibuk mengglasir keramik setengah jadi bersama para pekerjanya. (foto: ama)

Akan tetapi jauh sebelum berada di titik kesuksesan, ia mengaku pernah bekerja di perusahaan lain untuk belajar membuat keramik. Di sanalah banyak hal yang didapat hingga pada akhirnya memutuskan untuk mendirikan industri keramik rumahan sendiri. Dengan kulit wajah penuh keringat dan tangan terkena ceceran cairan pengkilap keramik atau glasir, ayah dua anak itu mengisahkan perjalanan usahanya yang penuh dengan lika-liku perjuangan. Awalnya mengenal kerajinan tangan ini, pada tahun 1991 dengan bekerja selama 5 tahun di Jati Agung Keramik, salah satu perusahaan keramik yang berada di Banjar Selingsing yang berbatasan dengan Desa Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Badung. Belum puas dengan kemampuan yang dimilikinya saat itu, ia kemudian kurang lebih selama 5 tahun bekerja di Bali Bata Keramik yang beralamat di Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung. Setelah ilmu yang dikuasainya cukup, lewat tangan lihai Panji sebagai pengrajin keramik tersebut, akhirnya menarik minat salah satu politisi asal Buleleng, Dewa Made Mahayadnya alias Dewa Jack yang menawarkan kerja sama mendirikan usaha bersama untuk membuat karya seni dari bahan baku tanah liat. “Saya diajak kerja sama buat usaha baru dengan Pak Dewa Jack, dan diberikan alat-alat sebagai modal usaha untuk membuat keramik di Jalan Kunti (Kecamatan Kuta, Badung, red) dari tahun 2000 hingga terjadinya tragedi bom Bali yang pertama sekitar tahun 2002,” kenangnya, seraya mengakui usahanya meskipun sempat macet, namun selanjutnya ia nekat mencoba membuka usaha sendiri dari nol yang diawali dengan menyewa lahan di daerah Abianbase, Kuta Utara, Badung. “Namun saya sejak lama sudah sambilan tetap mencoba bisnis ini sendiri dengan membuat produk keramik di kos-kosan saya di sekitar daerah Seminyak (Kecamatan Kuta, Badung, red),” beber pelaku UMKM yang kini tinggal di wilayah Banjar Perang Alas, Desa Lukluk, Kecamatan Mengwi, Badung itu.

Seiring berjalannya waktu, selama 5 tahun usaha produksi keramik yang diberi nama Panji Ceramic Bali di daerah tersebut bisa berjalan lancar, sehingga berani melanjutkan usaha dengan pindah tempat untuk menyewa lahan yang lebih luas di Jalan Made Bulet, Gang Penaplekan, Banjar Tegeh, Desa Dalung, Kuta Utara, Badung, atau tepatnya di belakang Warung Bu Tyos yang menjual rujak dan tipat cantok (makan khas Bali) sekitar tahun 2011 hingga sekarang. “Saat ini sudah 13 tahun jalan saya menyewakan lahan ini, seluas 2 are. Awalnya sewa lahan ini cuma Rp2,2 juta per are, lalu dinaikan 10 tahun kemudian menjadi Rp2,5 juta per are,” ujarnya. Panji berusaha keras, dan semakin serius menekuni dunia keramik, hingga terdapat ratusan jenis dan model dari koleksi keramik yang telah dibuatnya. Bahkan, ia juga terjun langsung dalam proses pembuatan keramik, khususnya untuk menjaga rahasia racikan untuk campuran bahan keramik, hingga siap dibentuk menjadi gelas, cangkir, teko, piring, mangkok, vas, asbak, dan lainnya. Sayangnya waktu itu, ia bercerita awal hanya bisa pasrah merintis usaha dengan modal seadanya untuk menjadi pengusaha baru. Padahal waktu itu, ia sangat membutuhkan modal yang besar untuk membayar sewa lahan dan membeli peralatan keramik, khusus tungku pembakaran yang harganya sangat mahal, atau sekitar Rp80 juta sampai Rp100 juta per unit. “Biar dapat murah saya terpaksa membeli peralatan membuat keramik dari peninggalan usaha bersama Pak Dewa Jack. Saat itu, dikasi membayar dengan uang seadanya,” paparnya. Usahanya akhirnya secara perlahan mulai stabil dan membaik setelah digenjot dari akses program kredit usaha rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., atau BRI. Bahkan saat itu, BRI sukses mengangkat Panji membangun usaha kerajinan tangan tersebut dari nol. Terbukti berkat bantuan modal KUR dari BRI usahanya bisa berkembang pesat. Sebagai salah satu nasabah KUR dari BRI, ternyata telah terbukti mampu mendorong usaha produksi keramiknya terus menggeliat.

Made Widiantara, selaku Founder Panji Ceramic Bali, saat menunjukan tungku pembakaran keramik. (foto: ama)

Dikisahkan untuk menghidupi usahanya sempat meminjam dana, namun cicilan bunga pinjaman tersebut terlampaui tinggi. Lantaran merasa kapok, dia takut meminjam lagi, sampai akhirnya sejak 8 tahun yang lalu, sempat ditawarkan untuk mengabil KUR sebesar Rp250 juta oleh pihak BRI KCP Unit Sempidi, Badung. Suntikan dana segar tersebut, langsung digunakan untuk menambah modal pengembangan usaha. Dia menambahkan, syarat pengajuan KUR di BRI ternyata sangat mudah, karena hanya perlu KTP dan melampirkan Surat Keterangan Tempat Usaha (SKTU) dari pihak desa atau kelurahan setempat. Berbekal pinjaman KUR, ia dapat lebih leluasa menjalankan usaha Panji Ceramic Bali. Lantas, Panji kembali tertarik untuk meminjam KUR ke BRI, kerena hendak meningkatkan bisnis pembuatan kerajinan gerabah tersebut. “Saya merasa sangat terbantu sekali dengan adanya KUR dari BRI, hingga nambah lagi Rp250 juta. Apalagi suku bunganya sangat ringan sekali, kira-kira kurang lebih 0,5 persen per bulan,” katanya. Dengan tambahan modal itu, ia bisa mensuplai bahan baku lebih banyak, sekaligus menambah jumlah karyawannya. Tidak sampai pinjaman KUR tesebut lunas, ia kemudian nekat mengambil lagi KUR di BRI Cabang Tabanan sebanyak Rp500 juta yang digunakan untuk take oper, atau menutup semua hutang lainnya, agar bisa fokus hanya membayar kredit di BRI. Saat itu, pihaknya merasa sangat terbantu dengan adanya kemudahan proses peminjaman KUR dari BRI, karena selain bunganya sangat rendah, prosesnya cepat dan juga dapat bimbingan dari BRI. “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga antara Panji Ceramic Bali dan pihak BRI bisa terus terjaga dan terjalin kerja sama yang baik, mulai dari sisi permodalan, pemasaran dan manajemen yang berguna bagi bisnis kami. Semoga kita sama-sama tumbuh maju dan berkembang,” tegasnya.

Berkat kuncuran modal KUR dari BRI, usaha produksi keramik yang setiap hari kerja dimulai dari pukul 08.00 WITA sampai 16.00 WITA itu, kini sudah memliki tepat dan pasar sendiri di tengah-tengah masyarakat. Bisnis keramik ini, dapat dikembangkan dengan terus fokus dan mau memberikan yang terbaik baik konsumen. Selain itu, juga bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Hal itu sangat baik untuk kemajuan bisnis, sekaligus masyarakat di sekitarnya, karena telah membuka lapangan kerja baru. Ia juga memegang teguh prinsip kunci sukses usaha, bukan hanya mencari untung, tetapi harus menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, khususnya yang hidup di daerah terpencil, sehingga bisa memberdayakan SDM lokal, serta tetap pintar mencari pangsa pasar baru. Bahkan dapat menciptakan peluang kerja bagi masyarakat di sekitar. “Saya sudah dibantu 8 pekerja yang digaji bulanan dari warga sekitar dan beberapa dari Singaraja (Buleleng, red),” bebernya, seraya menyebutkan produksi keramik terbanyak, berupa cangkir, teko, dan piring untuk kebutuhan hotel, restoran, atau coffee shop dan vila. Selain itu, juga ada pesanan khusus untuk dekorasi rumah tinggal, seperti pot dan vas bunga serta pernak pernik untuk kebutuhan SPA. “Per hari bisa memproduksi sekitar 100 sampai 200 pcs keramik,” ujar, sembari menjelaskan dari proses awal produk keramik mentah perlu waktu 3 hari untuk di-trimming (memangkas tembikar), hingga kering diamplas dan dispon, agar bisa masuk tunggu pembakaran pertama atau Tunggu Biskuit dengan suhu 850 derajat Celsius selama 8 jam. Setelah itu, baru bisa diwarna atau diglasir (mengkilapkan atau melapisi) kembali dimasukan ke tunggu pembakaran kedua atau Tungku Glazing dengan suhu 1.230 derajat Celsius selama 10 jam, Setelah itu, didinginkan hingga semua produksi keramik akan disortir dan selesai dikemas.

Ia mengakui kebanyakan hasil produksi keramiknya untuk memenuhi permintaan dari langganan hotel, vila dan restoran atau coffee shop di daerah Canggu, Kuta, Ubud dan Sanur dengan rata-rata pemesanan minimal 25 pcs keramik baru bisa dilayani. Nilai pesanannya pun beragam, dari orderan mulai Rp5 juta sampai lebih di atas Rp100 juta, sehingga omset rata-rata bisa mencapai Rp100 juta hingga 200 juta per bulan. “Kebanyakan order, berupa gelas, cangkir dan piring yang laku. Dan kebanyakan bule yang membeli,” bebernya. Di sisi lain, istri dari Panji, Desak Made Sara Laksmi Dewi mengakui modal dan resiko usaha ini sangat tinggi, sehingga hargannya juga sangat tinggal dengan harus mematok harga di atas 200 persen dari biaya produksi yang dikeluarkan. Apalagi bahan baku keramik berupa tanah liat, juga harus didatangkan sangat jauh yang awalnya dari Surabaya, tapi sekarang tanah liat dari Malang. “Kalau di Bali ada yang bikin, dari tanah liat lokal dicampur dengan kaolin, feldspar, silika, bentonite, dan bahan lainnya, tapi harganya sangat mahal. Kalau dari Surabaya dan Malang biasanya dicampur dengan tanah liat asal Kalimatan,” terangnya, sekaligus menegaskan harus membeli bahan baku tanah liat dari Malang sebanyak 2 ton sebulan dengan harga Rp2.800 per kilo. “Kalau di Bali harganya Rp10 ribu per kilo. Sangat jauh sekali harganya. Tapi kalau saya punya lahan, sebenarnya suami saya juga bisa bikin bahan baku tanah liat ini sendiri, karena dari awal ilmunya di tanah untuk bahan keramik bisa sendiri semua, termasuk pewarnaan,” katanya. Untuk pewarnaan keramik yang dibuat Panji Ceramic Bali, juga tergantung dari permintaan yang lebih banyak untuk perwarnaan doff, selain semi doff dan glossy yang permintaan agak jarang sekarang. “Kayaknya untuk glossy lama-lama akan hilang, karena permintaannya sangat sedikit,” imbuhnya.

Istri dari Panji, Desak Made Sara Laksmi Dewi (kanan), belum lama ini, saat menerima kunjungan Ny. Putri Suastini Koster, selaku Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali periode tahun 2018-2023. (foto: ist)

Ia menegaskan bersama suaminya, sebenarnya ingin punya produk keramik dengan ciri khas sendiri yang mengembangkan tanah liat lokal Bali, agar bisa dipakai bahan baku untuk membuat keramik. “Suami saya sudah mulai mencoba dan hasilnya tidak kalah jauh, tapi antiknya sangat luar biasa. Selain itu, juga akan mencoba gunakan tanah dari kampung, karena tanah liat di Singaraja juga bagus untuk dipakai bahan baku keramik,” bebernya, sehingga ke depan bersama suaminya, juga berencana bekerja sama dengan salah satu kolega untuk membuka kelas belajar atau kursus privat membuat keramik bagi para tamu asing dan domestik yang datang ke Bali. “Kalau lahan di sini tidak cukup untuk membuka kelas belajar membuat keramik, karena masih sangat sempit. Karena itu, kami ingin melakukan kerja sama untuk membuka kelas belajar membuat produk keramik yang sederhana, khususnya bagi tamu asing yang berlibur ke Bali,” ucapnya. Di samping itu, produk handmade yang dihasilkan Panji Ceramic Bali kebanyakan dipasarkan secara lokal. Walau begitu ada pula produk yang dikirim ke luar negeri, dan beberapa di antaranya pasar ekspor juga digarap, karena diambil oleh perusahaan cargo melalui agennya di Bali, seperti dari Swiss, Maldives, Francis dan Australia. “Kadang nilai permintaan lebih dari Rp100 jutaan sekali order. Biasanya dibayar lewat mbanking dengan transfer ke rekening BRI selama ini. Tapi pembayaran harus dengan uang muka dari 30 persen sampai 50 persen, karena dulu sempat ada order dari Malaysia dengan DP sedikit tidak diambil barangnya. Pernah kejadian dua sampai tiga kali seperti itu,” keluhnya. Selain itu, sebagian hasil produksi keramik tersebut, juga akan dikirim dan dipajang di Panji Ceramic Shop Bali yang berlokasi di Jalan Raya Babakan Canggu, Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, yang baru disewa selama hampir setahun dengan nilai kontrak bangunan toko sebesar Rp40 juta per tahun.

Putu Ayu Melati Agustina, saat bekerja melayani pelanggan di Panji Ceramic Shop Bali. (foto: ama)

Salah satu kerabatnya, Putu Ayu Melati Agustina yang juga bekerja sebagai pegawai di Panji Ceramic Shop Bali mengakui baru-baru ini, telah mencoba promosi dan pemasaran produk keramik melalui toko yang dibuka sekitar bulan Mei 2023 lalu, agar bisa lebih dekat daerah pariwisata di sekitar Canggu. Dikatakan secara perlahan para pelanggannya mulai mengenal Panji Ceramic Shop Bali yang jam operasinya mulai buka dari pukul 09.00 WITA sampai 18.00 WITA, sehingga sangat tertarik membeli barang-barang kerajinan dari tanah liat, karena terkesan mewah dan mengandung unsur seni yang tinggi. Apalagi kebanyakan produk keramik dari kerajinan industri rumah tangga ini, juga dijual secara online melalui media sosial, seperti WhatsApp hingga Facebook. “Ternyata banyak juga pembeli yang berminat dengan hasil usaha kerajinan ini. Karena kelebihan produk Panji Ceramic Bali itu, kan mutunya. Bahan baku juga tidak asalan, serta dari segi kekuatan lebih kuat dan lebih rapi, itu yang membedakan,” jelasnya. Bahkan selama ini, harus selalu memberikan pelayanan yang baik dan ramah kepada pelanggan. Karena itulah, ia akan selalu siap melayani untuk memuaskan konsumen dengan menawarkan produk-produk baru dan terbaik di Panji Ceramic Bali Shop. “Pembelinya kalau di sini itu, rata-rata bule untuk dipakai di hotel atau vila sekitar sini. Kalau harga jualnya paling murah dari cangkir sekitar Rp40 ribuan dan yang paling mahal vas bunga sampai Rp800 ribuan. Kalau omset, karena baru buka di sini sekarang paling rata-rata penjualan sehari Rp1 jutaan,” tegasnya, sambil melayani Lopes, salah satu pembeli asal Bandung yang telah lama menjadi pelanggan setianya. “Saya ke sini sudah pesan untuk membeli gelas, cangkir dan mangkok, karena suka keramiknya bagus,” ungkap perempuan muda keturunan Batak yang sudah tinggal di Bali sekitar setahun lalu.

Lopes, salah satu pembeli asal Bandung yang menjadi pelanggan setia Panji Ceramic Shop Bali. (foto: ama)

Komitmen BRI menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bukan sebatas jargon. BRI terbukti telah banyak mendorong UMKM di seluruh Indonesia menjadi naik kelas melalui berbagai program unggulannya. Pemimpin Cabang BRI Tabanan, Made Merta Abdi Negara, dihubungi pada Senin (1/4/2024) mengakui BRI terus berkomitmen mengantarkan UMKM menjadi naik kelas, salah satunya melalui dukungan permodalan melalui program KUR, seperti yang dikuncurkan untuk membantu usaha Panji Ceramic Bali yang kini berada di bawah binaan BRI Cabang Tabanan. Dikatakan, KUR BRI telah terbukti banyak memberikan manfaat dalam mendongkrak perekonomian UMKM. Terlebih saat terimbas dampak pandemi Covid-19 di Bali, sehingga KUR menjadi sumber modal baru pelaku usaha untuk memutar roda bisnisnya. Apalagi respon positif dari masyarakat akan kehadiran KUR dengan suku bunga rendah, yakni minimal 6 persen per tahun menyebabkan penyerapan KUR dapat dimaksimalkan. Respon tersebut disambut baik oleh BRI dengan memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan KUR, baik yang diajukan melalui Unit Kerja BRI maupun secara online. “Kami optimis semua program KUR ini, dapat diserap dengan cepat, karena masih tingginya antusiasme masyarakat untuk mengembangkan usaha mereka,” ungkapnya. Sementara itu, dari syarat pengajuan kredit, terutama KUR Mikro BRI juga sangat mudah, sehingga pelaku UMKM bisa datang ke unit kerja BRI dengan hanya membawa Identitas diri, seperti e-KTP, Kartu Keluarga, Akta Nikah (bagi yang sudah menikah), IUMK atau Surat Keterangan Usaha atau Surat Keterangan Domisili Usaha dan rekomendasi atau izin lain yang diperlukan.

Alternatif lainnya, sebenarnya pelaku usaha bisa lebih mudah mengajukan KUR dari BRI melalui kurbali.com yang merupakan kerja sama Pemerintah Provinsi Bali, OJK Regional 8 Bali Nusra, dan bank penyalur untuk memfasilitasi masyarakat mengajukan KUR lewat online. Selain itu, pengajuan KUR online juga bisa melalui kur.bri.co.id. “Cara online ini lebih praktis karena masyarakat tidak perlu datang ke bank saat pengajuan. Atau cara lainnya melalui Agen BRILink, di mana dokumen pengajuan nantinya akan direferensikan oleh Agen BRILink kepada petugas BRI untuk diproses,” pungkasnya. ama/ksm

Baca Juga :


Back to top button