Denpasar, PancarPOS | Pagelaran Singgasana Seni Bung Karno yang digelar pada Sabtu, 28 Februari 2026 di Bali Beach Convention, Sanur, bukan sekadar agenda seni budaya biasa. Di ruang megah yang dipenuhi ribuan pengunjung itu, gagasan besar tentang kemanusiaan, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan dirajut dalam satu panggung yang utuh. Jiwa artistik Sang Proklamator Indonesia dihadirkan kembali, bukan sebagai simbol masa lalu, tetapi sebagai inspirasi hidup yang relevan bagi generasi muda hari ini.
Acara yang digagas Mahagaya Pagelaran Persona (MPP) ini menjadi penanda bahwa seni dapat berdiri sejajar dengan ideologi dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Sejak siang hari, kawasan Bali Beach Convention dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan langsung kolaborasi seni, budaya, dan kekuatan UMKM Bali. Atmosfernya meriah, namun tetap sarat makna.
Ketua panitia, Diah Safira Prananda, menegaskan bahwa tema yang diusung dalam pagelaran kali ini bukan dipilih secara sembarangan. Tema besar yang diangkat adalah Tat Twam Asi, sebuah filosofi hidup yang berarti penghormatan kepada semua makhluk hidup.
“Singgasana Seni Bung Karno hari ini temanya kita ambil dari perkataan Tat Twam Asi, itu artinya penghormatan kepada makhluk hidup. Makanya koleksi-koleksi yang kita kasih lihat hari ini itu banyak temanya ke flora dan fauna,” jelas Safira di sela-sela acara.
Bagi Safira, Tat Twam Asi bukan sekadar frasa spiritual, tetapi prinsip universal yang menegaskan relasi manusia dengan alam dan sesamanya. Filosofi ini dipandang sejalan dengan pemikiran Bung Karno yang menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam berbangsa dan bernegara.
Putri dari Muhammad Prananda dan Nancy Prananda itu menjelaskan, nilai penghormatan terhadap kehidupan diwujudkan secara konkret dalam desain busana yang ditampilkan. Motif kupu-kupu, burung, serta bunga-bunga mendominasi koleksi fashion show. Setiap detail dirancang untuk menyampaikan pesan bahwa manusia adalah bagian dari ekosistem yang lebih besar.
Kupu-kupu, misalnya, dimaknai sebagai simbol transformasi dan harapan. Burung menjadi perlambang kebebasan dan cita-cita yang terbang tinggi. Sementara bunga-bunga merepresentasikan keindahan dan keselarasan hidup. Dalam satu panggung, pesan-pesan itu menyatu dalam gerak, warna, dan ekspresi para model.
Karena digelar di Bali, sentuhan lokal menjadi elemen penting yang tidak bisa diabaikan. Safira mengungkapkan bahwa desain koleksi dan tata rambut juga disesuaikan dengan karakter perempuan Bali modern. Rambut kepang panjang menjadi pilihan utama, memadukan kesan anggun, kuat, dan berakar pada tradisi.
“Selain itu karena acara kali ini di Bali, kami bikin desainnya koleksi dan rambut juga mengikuti gaya rambut perempuan Bali modern,” katanya.
Di atas catwalk, para peserta fashion show tidak hanya berjalan dengan gaya kontemporer. Mereka juga memasukkan gerakan tarian Bali sebagai bagian dari koreografi. Unsur ini menjadikan pagelaran bukan sekadar pertunjukan mode, melainkan ekspresi budaya yang hidup.
“Fashion show juga kami masukin gerakan tarian Bali. Untuk memeriahkan karena di Bali jadi kita juga masukin unsur-unsur lokal Bali-nya,” ujar Safira.
Kehadiran unsur tari Bali dalam fashion show menjadi simbol dialog antara modernitas dan tradisi. Catwalk yang biasanya identik dengan gerak lurus dan ekspresi minimalis, diubah menjadi ruang yang lebih ekspresif dan berakar pada identitas lokal. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap Bali sebagai tuan rumah.
Singgasana Seni Bung Karno yang digelar di Sanur ini menjadi penyelenggaraan perdana di Pulau Dewata. MPP menyatakan bahwa ke depan, pagelaran serupa akan digelar di beberapa kota besar di Tanah Air. Langkah ini menunjukkan komitmen untuk memperluas jangkauan nilai-nilai yang diusung, tidak hanya di Bali tetapi juga secara nasional.
Acara ini digagas langsung oleh MPP sesuai arahan Mas Prananda Prabowo, Dana, dan Henky. Konsep yang dibangun adalah menghadirkan ruang kreatif yang tidak hanya memamerkan estetika, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat dan menanamkan nilai ideologis.
Di luar panggung utama, denyut ekonomi kerakyatan terasa kuat. Sebanyak 22 IKM kuliner ambil bagian dalam bazar yang digelar selama acara. Yang menarik, di antara pelaku IKM tersebut terdapat pelaku usaha dari kalangan disabilitas. Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian integral dari semangat inklusivitas yang diusung.
Selain itu, 72 UMKM perajin di bawah binaan Ibu Putri Suastini Koster turut memamerkan produk-produk unggulan mereka. Mulai dari kerajinan tangan, produk fesyen, hingga olahan kreatif khas Bali, semuanya ditampilkan dengan bangga di hadapan ribuan pengunjung.
Panitia menargetkan perputaran ekonomi sebesar Rp 2,5 miliar dalam satu gelaran ini. Angka tersebut bukan sekadar target finansial, tetapi indikator bahwa seni dan ekonomi rakyat dapat berjalan beriringan. Ketika panggung seni dibuka, ruang transaksi ekonomi pun ikut tercipta.
Kehadiran Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri, menambah bobot simbolik acara ini. Ia hadir menyaksikan langsung pentas seni budaya Bali yang ditampilkan dalam rangkaian Singgasana Seni Bung Karno. Sosok yang dikenal memiliki kedekatan historis dan emosional dengan warisan Bung Karno itu menjadi saksi bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diterjemahkan dalam bahasa seni.
Turut mendampingi beliau, Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta. Hadir pula para kepala daerah se-Bali yang menunjukkan dukungan terhadap penguatan ekosistem seni dan UMKM di daerah.
Ribuan pengunjung yang memadati lokasi acara menjadi bukti bahwa Singgasana Seni Bung Karno memiliki daya tarik yang luas. Tidak hanya kalangan seniman dan pelaku UMKM, tetapi juga masyarakat umum yang ingin merasakan atmosfer pagelaran yang berbeda dari biasanya.
Bagi generasi muda Bali, acara ini menjadi ruang pembelajaran yang konkret. Mereka tidak hanya melihat busana indah dan pertunjukan musik, tetapi juga menyaksikan bagaimana filosofi hidup dapat diterjemahkan menjadi karya nyata. Tat Twam Asi bukan lagi sekadar ajaran yang dihafal, melainkan nilai yang dipraktikkan.
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang sering kali menggerus identitas lokal, Singgasana Seni Bung Karno menawarkan pendekatan yang berbeda. Modernitas tidak ditolak, tetapi dipadukan dengan tradisi. Fashion show modern bisa berdampingan dengan gerak tari Bali. Motif kupu-kupu dan burung dapat berbicara tentang isu lingkungan dan kemanusiaan sekaligus.
Secara konseptual, pagelaran ini juga memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi instrumen penguatan ekonomi kerakyatan. Ketika 22 IKM kuliner dan 72 UMKM perajin diberi ruang yang sama dengan panggung utama, pesan yang disampaikan jelas: ekonomi rakyat adalah bagian dari narasi besar kebudayaan.
Bagi MPP, keberhasilan penyelenggaraan perdana di Bali menjadi modal penting untuk ekspansi ke kota-kota lain. Konsep kolaborasi antara seni, budaya, dan ekonomi kerakyatan akan terus dipertahankan sebagai identitas utama Singgasana Seni Bung Karno.
Lebih dari sekadar perayaan, pagelaran ini adalah refleksi. Refleksi bahwa penghormatan kepada semua makhluk hidup harus dimulai dari cara kita berkarya, berbisnis, dan berinteraksi. Filosofi Tat Twam Asi mengingatkan bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap sesama dan alam sekitar.
Ketika ribuan orang berdiri menyaksikan penampilan di atas panggung, yang sesungguhnya sedang dirayakan bukan hanya estetika. Yang dirayakan adalah nilai. Nilai tentang kemanusiaan, tentang harmoni, tentang penghormatan terhadap kehidupan.
Singgasana Seni Bung Karno di Bali telah membuktikan bahwa seni tidak pernah netral. Ia selalu membawa pesan. Dan pada 28 Februari 2026 di Sanur, pesan itu disampaikan dengan tegas: hormati semua makhluk hidup, rawat budaya, dan kuatkan ekonomi rakyat. tim/ama/kel






