Serap Aspirasi Masyarakat, Adi Wiryatama Tekankan Pembangunan Nasional Berwawasan Lingkungan

Tabanan, PancarPOS | Pembangunan nasional tidak lagi hanya diukur dari tingginya pertumbuhan ekonomi atau pesatnya pembangunan infrastruktur. Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan, pembangunan yang berkelanjutan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Karena itu, seluruh proses pembangunan harus mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
Semangat itulah yang menjadi pokok pembahasan dalam kegiatan Penyerapan Aspirasi Masyarakat MPR RI bertema “Pembangunan Nasional Berwawasan Lingkungan” yang dilaksanakan di Balai Banjar Angseri, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Minggu (28/6/2026) pukul 14.30 Wita.
Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota MPR RI sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Adi Wiryatama, sebagai narasumber utama. Kehadirannya disambut antusias masyarakat yang terdiri atas tokoh adat, perangkat desa, kelompok tani, pemuda, perempuan, serta berbagai unsur masyarakat yang ingin berdialog langsung mengenai arah pembangunan Indonesia yang semakin ramah lingkungan.
Bagi Adi Wiryatama, kegiatan penyerapan aspirasi bukan sekadar menjalankan amanat konstitusi sebagai anggota MPR RI. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang dialog yang mempertemukan gagasan masyarakat dengan kebijakan nasional sehingga pembangunan benar-benar lahir dari kebutuhan rakyat.
Menurut mantan Bupati Tabanan dua periode yang juga pernah menjabat Ketua DPRD Bali tersebut, pembangunan nasional saat ini harus mampu menjawab tantangan zaman. Di satu sisi, negara dituntut meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan ekonomi. Namun di sisi lain, pembangunan tidak boleh mengorbankan kelestarian alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.
“Pembangunan harus memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk menikmati sumber daya alam yang sama. Itulah esensi pembangunan berwawasan lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa. Hutan tropis, kawasan pesisir, laut, pegunungan, hingga lahan pertanian merupakan aset bangsa yang harus dijaga secara berkelanjutan.
Menurutnya, apabila pembangunan hanya mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, maka dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat sendiri dalam bentuk bencana alam, krisis air bersih, menurunnya produktivitas pertanian, hingga meningkatnya ancaman perubahan iklim.
Karena itu, pembangunan nasional harus berpijak pada prinsip keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena saling memengaruhi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Adi Wiryatama menekankan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat.
Ia mengajak masyarakat untuk memulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, melestarikan sumber mata air, melakukan penghijauan, hingga menjaga kawasan pertanian agar tetap produktif.
Menurutnya, kesadaran masyarakat merupakan modal utama dalam menjaga keberlanjutan pembangunan.
Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, kehutanan, kelautan, dan lingkungan hidup, Adi Wiryatama mengaku melihat secara langsung berbagai tantangan yang dihadapi sektor-sektor tersebut di berbagai daerah di Indonesia.
Ia mengatakan perubahan iklim mulai dirasakan para petani melalui perubahan pola musim yang sulit diprediksi. Demikian pula kawasan hutan menghadapi ancaman alih fungsi lahan, sementara ekosistem pesisir dan laut menghadapi tekanan akibat pencemaran maupun aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan.
Karena itu, menurutnya, seluruh kebijakan pembangunan harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan agar manfaat pembangunan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Dalam kesempatan tersebut, Adi Wiryatama juga mengingatkan bahwa Bali memiliki karakteristik pembangunan yang sangat bergantung pada kualitas lingkungan. Sektor pariwisata, pertanian, maupun budaya tumbuh karena didukung alam yang masih lestari.
Apabila lingkungan rusak, maka bukan hanya ekosistem yang terdampak, tetapi juga kehidupan ekonomi masyarakat.
Ia menilai filosofi Tri Hita Karana yang selama ini menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali sangat relevan dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam harus terus dijaga dalam setiap kebijakan pembangunan.
“Alam bukan warisan yang bebas dieksploitasi, tetapi titipan yang harus kita jaga untuk anak cucu,” katanya.
Dialog berlangsung hangat dengan berbagai pertanyaan dari masyarakat. Beberapa peserta menyampaikan kekhawatiran mengenai berkurangnya lahan pertanian, perubahan fungsi kawasan hijau, hingga ancaman terhadap sumber mata air yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Adi Wiryatama mengatakan berbagai persoalan tersebut harus menjadi perhatian bersama. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, desa, dan masyarakat harus bersinergi menjaga kawasan produktif agar tidak terus mengalami tekanan pembangunan yang tidak terkendali.
Ia menilai sektor pertanian tetap harus menjadi prioritas karena memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, pembangunan yang berhasil bukan hanya mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga mampu menjaga ketersediaan pangan, kelestarian lingkungan, dan kualitas hidup masyarakat.
Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya pendidikan lingkungan sejak usia dini. Menurutnya, generasi muda harus dibekali pemahaman mengenai pentingnya menjaga alam sehingga memiliki kepedulian terhadap lingkungan ketika memasuki usia produktif.
Sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam membentuk karakter peduli lingkungan.
Dalam sesi dialog, masyarakat juga mengusulkan agar pemerintah terus memperkuat program penghijauan, rehabilitasi hutan, konservasi sumber mata air, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan petani sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Adi Wiryatama menyambut baik berbagai usulan tersebut. Ia menegaskan seluruh aspirasi akan menjadi bahan masukan dalam menjalankan tugas sebagai anggota MPR RI maupun anggota DPR RI.
Ia mengatakan pembangunan nasional yang berhasil adalah pembangunan yang mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa mengorbankan kualitas lingkungan hidup.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar menjadi negara maju apabila mampu memanfaatkan kekayaan alam secara bijaksana.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong royong dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Di akhir kegiatan, Adi Wiryatama kembali menegaskan bahwa pembangunan berwawasan lingkungan harus menjadi komitmen bersama seluruh bangsa Indonesia. Melalui pembangunan yang berkelanjutan, keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan secara harmonis.
Ia berharap masyarakat terus menjadi bagian dari gerakan menjaga lingkungan, mulai dari lingkungan keluarga, desa, hingga kawasan yang lebih luas. Dengan demikian, pembangunan nasional tidak hanya menghadirkan kemajuan bagi generasi saat ini, tetapi juga meninggalkan warisan alam yang tetap lestari bagi generasi mendatang.
Kegiatan penyerapan aspirasi tersebut berlangsung penuh keakraban dan diakhiri dengan sesi diskusi serta foto bersama. Berbagai masukan yang disampaikan masyarakat menjadi cerminan tingginya kepedulian terhadap pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi masa depan bangsa. gun/ama/ksm









