Gubernur Koster Saksikan Spiritualitas Desa Bali Aga Warnai Parade Gong Kebyar Dewasa PKB XLVIII 2026

Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali, Wayan Koster, menghadiri pementasan Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali XLVIII di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar, Rabu (1/7/2026) malam. Ribuan penikmat seni memadati arena pertunjukan untuk menyaksikan penampilan para duta seni yang mengangkat kekayaan tradisi dan spiritualitas Bali.
Kehadiran Gubernur Koster bersama jajaran kurator PKB menjadi perhatian masyarakat. Banyak penonton maupun seniman memanfaatkan momen tersebut untuk berfoto bersama di sela-sela pertunjukan.
Pada malam itu, Kabupaten Bangli diwakili Sekaa Gong Tirta Nirmala Ulundanu Batur, Desa Adat Songan, Kecamatan Kintamani. Penampilan mereka mendapat sambutan hangat karena mengangkat nilai-nilai sakral yang hidup dalam tradisi masyarakat Bali Aga.
Pertunjukan dibuka dengan Tari Ratu Kebasan, garapan yang terinspirasi dari ritual sakral masyarakat Desa Songan. Tarian tersebut menggambarkan perjalanan manusia menuju penyucian diri melalui proses spiritual yang diawali dengan gerak-gerak lembut, kemudian berkembang menjadi lebih dinamis saat prosesi kerauhan berlangsung.
Koreografi yang sarat makna simbolik memperlihatkan perjalanan batin manusia dalam melepaskan ego dan menyerahkan diri kepada kehendak alam semesta. Gerakan spontan, lompatan hingga hentakan penuh tenaga menghadirkan nuansa magis yang menjadi kekuatan utama pertunjukan.
Puncak penampilan Bangli hadir melalui garapan monumental Merujaklalang, interpretasi artistik terhadap ritus sakral masyarakat Desa Songan yang menjadi bagian penting dalam prosesi pengabenan serta identitas budaya masyarakat Bali Aga.
Pertunjukan menampilkan prosesi perebutan rumput ilalang sebagai simbol penyucian. Tata gerak yang kuat dipadukan dengan dinamika tabuh gong kebyar menghadirkan suasana dramatik sekaligus religius.
Simbol perebutan “rujak” dimaknai sebagai penghancuran ego jasmani menuju pemurnian jiwa. Seluruh rangkaian pertunjukan kemudian bermuara pada sukacita sebagai lambang keikhlasan menerima kematian sebagai bagian dari transformasi spiritual.
Gubernur Koster mengapresiasi sajian tersebut sebagai bukti bahwa PKB tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga media menjaga nilai-nilai spiritual, sejarah, dan identitas budaya Bali agar terus hidup di tengah masyarakat serta diwariskan kepada generasi muda melalui karya-karya kreatif yang tetap berakar pada tradisi. mas/ama/*









