Merekonstruksi Akuntansi Global Berbasis Kearifan Lokal
Ketika Akuntansi Kehilangan Wajah Manusianya

Denpasar, PancarPOS | Dunia akuntansi sedang mengalami transformasi besar. Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), digitalisasi pelaporan keuangan, tuntutan transparansi, hingga meningkatnya perhatian terhadap pelaporan keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG) telah mengubah wajah profesi akuntansi. Perusahaan tidak lagi hanya diminta menyajikan laporan keuangan yang akurat, tetapi juga menunjukkan bagaimana aktivitas bisnisnya berdampak pada masyarakat dan lingkungan.
Di sisi lain, standar akuntansi internasional terus diharmonisasikan agar informasi keuangan dapat dibandingkan lintas negara dan mendukung arus investasi global. Perkembangan tersebut membawa banyak manfaat, tetapi juga memunculkan pertanyaan penting: apakah akuntansi global yang semakin seragam masih mampu mencerminkan nilai-nilai masyarakat tempat akuntansi itu dipraktikkan?
Standar Global Tidak Selalu Cukup
Harmonisasi standar meningkatkan keterbandingan laporan keuangan, memperkuat kepercayaan investor, dan mempermudah aktivitas ekonomi global. Namun, dominasi standar internasional juga menyisakan tantangan.
Akuntansi cenderung diposisikan sebagai sistem teknis yang bersifat universal, sementara konteks sosial dan budaya sering dianggap berada di luar sistem tersebut. Padahal praktik akuntansi tidak pernah berlangsung di ruang hampa. Ia dijalankan oleh manusia yang memiliki nilai, keyakinan, dan budaya yang berbeda-beda.
Standar mungkin dapat diseragamkan, tetapi cara masyarakat memaknai kejujuran, akuntabilitas, dan tanggung jawab tidak selalu sama.
Akuntansi Tidak Pernah Bebas Nilai
Selama ini akuntansi sering dipahami sebagai bahasa bisnis. Namun bahasa selalu dipengaruhi oleh budaya penuturnya.
Cara suatu organisasi mengambil keputusan, menyusun laporan keuangan, maupun mempertanggungjawabkan aktivitasnya tidak hanya ditentukan oleh standar akuntansi, tetapi juga oleh nilai sosial yang berkembang dalam masyarakat.
Angka memang bersifat universal, tetapi makna di balik angka selalu dipengaruhi oleh konteks budaya.
Inilah alasan mengapa berbagai penelitian lintas negara menunjukkan bahwa budaya memengaruhi praktik akuntansi, tata kelola perusahaan, hingga perilaku etis para akuntan.
Kearifan Lokal: Dari Warisan Budaya Menuju Sumber Inovasi
Selama ini, kearifan lokal sering dipandang sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan. Padahal, di balik nilai-nilai tersebut tersimpan prinsip-prinsip yang sangat relevan dengan perkembangan akuntansi global, terutama dalam membangun transparansi, akuntabilitas, etika, dan keberlanjutan.
Di Indonesia, semangat gotong royong mencerminkan pentingnya kolaborasi, tanggung jawab bersama, dan kepedulian terhadap kepentingan kolektif. Nilai ini mengingatkan bahwa akuntabilitas bukan hanya kepada pemilik modal, tetapi juga kepada seluruh pemangku kepentingan.
Di masyarakat Jawa, tradisi musyawarah mufakat menempatkan pengambilan keputusan sebagai proses yang mengutamakan dialog, keadilan, dan kepentingan bersama. Prinsip ini sejalan dengan praktik tata kelola yang partisipatif.
Di Bali, filosofi Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan). Nilai ini memiliki keselarasan yang kuat dengan konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pelaporan keberlanjutan. Sementara itu, Tri Kaya Parisudha menekankan kesucian pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika), yang menjadi fondasi integritas, objektivitas, dan etika profesi akuntan.
Dari Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis-Makassar mengenal falsafah Siri’ na Pacce, yang menempatkan harga diri, kejujuran, dan tanggung jawab moral sebagai nilai utama dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai ini memperkuat pentingnya integritas dalam penyusunan maupun pengungkapan informasi keuangan.
Di Maluku, filosofi Pela Gandong mengajarkan persaudaraan, kepercayaan, dan solidaritas antarkomunitas. Dalam konteks akuntansi, nilai tersebut dapat dimaknai sebagai pentingnya membangun kepercayaan (trust) sebagai fondasi akuntabilitas.
Nilai serupa juga ditemukan di berbagai belahan dunia. Di Jepang, filosofi Kaizen menekankan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement), yang relevan dengan peningkatan kualitas sistem pengendalian internal dan proses audit.
Di Afrika, filosofi Ubuntu—”I am because we are”—menegaskan bahwa keberhasilan individu tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan komunitas. Perspektif ini memperkuat pendekatan akuntansi yang tidak semata-mata berorientasi pada pemegang saham (shareholder), tetapi juga memperhatikan kepentingan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder).
Sementara itu, masyarakat adat Māori di Selandia Baru mengenal konsep Kaitiakitanga, yaitu tanggung jawab kolektif untuk menjaga alam bagi generasi mendatang. Nilai ini memiliki kesesuaian yang kuat dengan akuntansi lingkungan dan pelaporan keberlanjutan.
Keberagaman nilai tersebut menunjukkan bahwa dunia tidak kekurangan prinsip-prinsip etis untuk membangun praktik akuntansi yang lebih baik. Justru tantangan utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan kekayaan nilai lokal tersebut ke dalam perkembangan akuntansi global. Dengan demikian, kearifan lokal tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap atau identitas budaya semata, melainkan sebagai sumber pengetahuan (source of knowledge) yang mampu memperkaya teori, praktik, dan masa depan akuntansi global.
Merekonstruksi Akuntansi Global
Di sinilah rekonstruksi menjadi penting. Rekonstruksi bukan berarti menolak IFRS ataupun mengganti standar internasional dengan sistem lokal. Rekonstruksi berarti memperluas paradigma akuntansi sehingga standar internasional tidak hanya dipahami sebagai seperangkat aturan teknis, tetapi juga sebagai praktik yang berakar pada nilai kemanusiaan.
Kearifan lokal bukan pesaing standar global.
Sebaliknya, ia merupakan sumber nilai yang dapat memperkuat integritas, akuntabilitas, tata kelola, pelaporan keberlanjutan, bahkan pengembangan kecerdasan buatan dalam bidang akuntansi.
Saatnya Indonesia Menjadi Penyumbang Gagasan
Selama beberapa dekade, perkembangan akuntansi global lebih banyak dibentuk oleh paradigma ekonomi yang menekankan harmonisasi standar, efisiensi pasar, dan keterbandingan laporan keuangan. Pendekatan tersebut berhasil menciptakan bahasa bisnis yang lebih universal, tetapi belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan baru seperti krisis lingkungan, ketimpangan sosial, menurunnya kepercayaan publik, serta tuntutan terhadap praktik bisnis yang lebih etis dan berkelanjutan. Kondisi ini menunjukkan bahwa akuntansi global tidak hanya membutuhkan penyempurnaan standar, tetapi juga pembaruan cara pandang dalam memaknai akuntabilitas dan penciptaan nilai.
Di tengah tantangan tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk memberikan kontribusi yang lebih besar daripada sekadar menjadi pengguna standar internasional. Keberagaman kearifan lokal yang hidup di berbagai daerah mengandung nilai-nilai universal seperti integritas, tanggung jawab, keseimbangan, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama maupun lingkungan. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai filosofi, seperti gotong royong, musyawarah mufakat, Tri Hita Karana, Tri Kaya Parisudha, maupun Siri’ na Pacce, yang pada hakikatnya selaras dengan prinsip akuntabilitas, tata kelola yang baik, dan keberlanjutan yang kini menjadi perhatian dunia.
Oleh karena itu, kontribusi Indonesia tidak harus diwujudkan dalam bentuk penyusunan standar akuntansi baru. Kontribusi yang lebih strategis adalah menghadirkan perspektif baru bahwa praktik akuntansi global perlu dibangun melalui dialog antara standar internasional dan nilai-nilai budaya lokal. Dengan menempatkan kearifan lokal sebagai sumber nilai etika dan keberlanjutan, Indonesia dapat menawarkan paradigma yang memperkaya pengembangan akuntansi global agar tidak hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi, tetapi juga pada kemanusiaan, keadilan, dan keberlanjutan. Sudah saatnya Indonesia tidak hanya dikenal sebagai adopter standar global, tetapi juga sebagai kontributor pemikiran yang ikut membentuk arah perkembangan akuntansi dunia.
Saat Standar dan Budaya Berjalan Beriringan
Pada akhirnya, perdebatan antara standar internasional dan kearifan lokal tidak seharusnya berujung pada pilihan untuk mengutamakan salah satunya. Standar akuntansi global tetap diperlukan sebagai bahasa bersama yang mampu menjembatani aktivitas ekonomi lintas negara. Namun, standar yang baik tidak akan mencapai tujuan utamanya apabila diterapkan tanpa memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Akuntansi bukan sekadar seperangkat aturan teknis, melainkan praktik sosial yang dijalankan oleh manusia dengan latar belakang budaya, etika, dan cara pandang yang beragam.
Karena itu, merekonstruksi akuntansi global berbasis kearifan lokal bukan berarti menggantikan standar internasional, melainkan memperkaya fondasi nilai yang melandasinya. Integrasi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, keseimbangan, solidaritas, dan kepedulian terhadap lingkungan akan menjadikan akuntansi tidak hanya lebih akuntabel secara ekonomi, tetapi juga lebih relevan secara sosial. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, dialog antara standar dan budaya justru menjadi prasyarat untuk membangun sistem akuntansi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dunia.
Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran dalam proses tersebut. Kekayaan kearifan lokal yang dimiliki bukan hanya warisan budaya yang patut dijaga, tetapi juga sumber inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Ketika nilai-nilai lokal mampu berdialog dengan standar internasional, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna atau pengikut perkembangan akuntansi global, tetapi juga menjadi penyumbang gagasan yang memperkaya arah perkembangannya.
Mungkin tantangan terbesar akuntansi global pada masa depan bukanlah menyatukan seluruh dunia dalam satu standar, melainkan memastikan bahwa setiap standar tetap memberi ruang bagi nilai-nilai yang membuat manusia saling percaya, bertanggung jawab, dan hidup berdampingan secara berkelanjutan. Ketika standar dan budaya berjalan beriringan, akuntansi tidak lagi sekadar menghasilkan laporan keuangan, tetapi juga menjadi instrumen yang membangun kepercayaan, keadilan, dan keberlanjutan bagi masyarakat dunia. Di situlah rekonstruksi akuntansi global berbasis kearifan lokal menemukan relevansinya—bukan sebagai penolakan terhadap standar internasional, melainkan sebagai upaya memperkaya akuntansi agar tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin terhubung. ***
Oleh: I Made Anjol Wiguna
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas Pendidikan Ganesha









