Tajuk dan Suara Pembaca

Turyapada Tower, Ambisi Baru Masa Depan Bali Berkelas Dunia


Denpasar, PancarPOS | Di tengah munculnya berbagai perdebatan mengenai pembangunan infrastruktur berskala besar, megaproyek Kawasan Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali di Desa Pegayaman, Buleleng, sesungguhnya menarik dibaca bukan hanya dari sudut pandang politik atau anggaran semata, tetapi sebagai studi strategis tentang bagaimana pemerintah daerah mencoba membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pendekatan jangka panjang.

Turyapada Tower bukan sekadar menara pemancar televisi. Jika dibaca secara mendalam, proyek ini adalah kombinasi antara infrastruktur teknologi, investasi pariwisata, rekayasa ekonomi wilayah, branding daerah, dan transformasi sosial masyarakat lokal. Dalam bahasa manajemen strategis, proyek ini merupakan upaya menciptakan “new growth engine” atau mesin pertumbuhan baru bagi Bali Utara.

Selama puluhan tahun, struktur ekonomi Bali mengalami ketimpangan spasial. Aktivitas ekonomi, investasi, dan pariwisata terkonsentrasi di Bali Selatan seperti Denpasar, Badung, Gianyar, dan sebagian Tabanan. Sementara Bali Utara, khususnya Buleleng, sering berada di posisi pinggiran pertumbuhan. Akibatnya, terjadi ketimpangan pendapatan, distribusi investasi, hingga migrasi tenaga kerja dari utara ke selatan Bali.

Dalam perspektif manajemen strategis pembangunan, kondisi seperti ini sangat berbahaya bila dibiarkan terlalu lama. Ketimpangan wilayah dapat memunculkan tekanan sosial, ketimpangan ekonomi kronis, hingga stagnasi daya saing daerah. Karena itu, pembangunan Turyapada Tower dapat dibaca sebagai intervensi strategis pemerintah untuk menciptakan “magnet ekonomi baru” di Bali Utara.

Secara teoritis, proyek ini memiliki pola yang mirip dengan konsep growth pole theory atau teori kutub pertumbuhan. Pemerintah membangun satu titik investasi besar dengan harapan menciptakan efek berantai terhadap ekonomi kawasan di sekitarnya. Ketika sebuah landmark besar lahir, maka akan muncul pergerakan ekonomi baru: hotel, restoran, UMKM, transportasi, jasa wisata, pusat ekonomi kreatif, hingga lapangan kerja baru.

Dalam konteks ini, Turyapada Tower bukan hanya proyek fisik, melainkan alat rekayasa ekonomi wilayah. Yang menarik, proyek ini tidak berdiri di atas satu fungsi tunggal. Dari sisi kajian proyek, Turyapada memiliki model multi-benefit infrastructure. Pertama, fungsi teknologi komunikasi. Tower ini telah dimanfaatkan lebih dari 30 stasiun televisi dan mampu menjangkau lebih dari 90 persen wilayah Buleleng tanpa parabola. Artinya, ada efisiensi infrastruktur penyiaran yang sebelumnya tersebar dan tidak terintegrasi.

Kedua, fungsi pariwisata. Pemerintah Provinsi Bali jelas tidak ingin tower ini berhenti sebagai infrastruktur teknis. Karena itu dibangun planetarium, restoran putar 360 derajat, sky walk, jembatan kaca, ruang konvensi, hingga gondola. Ini adalah transformasi dari utility infrastructure menjadi tourism infrastructure. Ketiga, fungsi ekonomi daerah. Dalam dokumen penjelasan Gubernur Bali, kawasan ini diproyeksikan menghasilkan PAD (pendapatan asli daerah) jangka panjang melalui pengelolaan profesional oleh pihak ketiga.

Dari sudut pandang investasi publik, pendekatan ini menarik karena pemerintah mencoba menggeser pola belanja daerah dari sekadar “cost center” menjadi “revenue generating asset”. Bila dikelola profesional, kawasan ini memang berpotensi menjadi aset produktif jangka panjang. Namun, di sinilah tantangan terbesar dimulai. Dalam banyak studi proyek besar di dunia, persoalan utama bukan pada pembangunan fisik, melainkan keberlanjutan pengelolaan pascaproyek.

Disamping itu, banyak infrastruktur megah gagal menghasilkan manfaat optimal karena lemahnya tata kelola bisnis, rendahnya kualitas SDM, minim inovasi pemasaran, serta ketidakmampuan membaca dinamika pasar wisata global. Karena itu, keberhasilan Turyapada Tower nanti tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan, tetapi oleh kualitas model bisnisnya. Pertanyaan strategisnya sederhana: apakah kawasan ini mampu menciptakan traffic pengunjung yang stabil sepanjang tahun?

Karena dalam industri pariwisata modern, ikon fisik saja tidak cukup. Dibutuhkan experience economy. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat bangunan, tetapi mencari pengalaman unik, narasi, emosi, interaksi budaya, hingga konten digital yang menarik. Di sinilah Turyapada harus hati-hati agar tidak jatuh menjadi “monumen mahal” tanpa denyut ekonomi yang hidup. Kawasan ini harus memiliki ekosistem aktivitas yang terus bergerak. Event internasional, festival budaya, observatorium edukasi, sport tourism, konser, hingga aktivitas ekonomi kreatif harus terus dihidupkan.

Tanpa itu, kunjungan akan stagnan setelah fase euforia awal selesai. Selain itu, proyek ini juga harus dibaca dari perspektif social strategic management. Gubernur Bali, Dr. Ir. Wayan Koster, M.M., menegaskan masyarakat lokal tidak boleh menjadi penonton. Ini penting. Dalam banyak proyek pariwisata besar, masyarakat lokal justru sering tersingkir akibat masuknya modal besar dari luar daerah. Akibatnya terjadi ketimpangan baru antara kawasan wisata modern dan warga lokal di sekitarnya.

Karena itu, langkah membangun koperasi, UMKM lokal, pelatihan tenaga kerja, hingga renovasi rumah warga adalah pendekatan yang relatif progresif. Artinya, proyek ini mencoba memasukkan unsur inclusive development atau pembangunan inklusif. Namun tentu implementasinya harus dikawal serius. Jangan sampai janji pelibatan masyarakat berhenti di konsep. Karena keberhasilan sesungguhnya bukan hanya pada berdirinya tower, tetapi pada meningkatnya kualitas hidup masyarakat sekitar.

Dari sisi manajemen risiko proyek, Turyapada juga menghadapi tantangan besar. Pertama, risiko finansial. Nilai investasi mencapai Rp645 miliar tentu membutuhkan tingkat pengembalian ekonomi yang jelas agar tidak menjadi beban fiskal jangka panjang. Kedua, risiko lingkungan. Kawasan pegunungan Bali Utara memiliki sensitivitas ekologis tinggi sehingga tata ruang dan carrying capacity harus dijaga ketat. Ketiga, risiko sosial-politik. Proyek besar selalu rentan menjadi komoditas politik dan polemik publik.

Oleh karena itu, transparansi, komunikasi publik, dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci penting menjaga legitimasi proyek. Namun jika seluruh tantangan itu mampu dikelola, Turyapada Tower berpotensi menjadi turning point pembangunan Bali Utara. Bali selama ini terlalu bergantung pada pariwisata konvensional berbasis pantai di selatan. Turyapada membuka peluang diversifikasi pariwisata berbasis pegunungan, teknologi, edukasi, dan panorama.

Lebih jauh lagi, proyek ini memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah mulai berpikir dalam horizon jangka panjang, bukan sekadar proyek lima tahunan. Dalam manajemen strategis modern, daerah yang mampu bertahan bukan hanya yang memiliki sumber daya alam, tetapi yang mampu menciptakan simbol, pengalaman, dan ekosistem ekonomi baru. Dan Turyapada Tower tampaknya sedang diarahkan menuju ke sana. Waktu yang akan menjawabnya. ***

Oleh: I Wayan Surnantaka, S.T., M.M.,  Wartawan Utama, Alumnus Magister Manajemen FEB Universitas Udayana, Pengkaji Manajemen Strategis dan Kebijakan Pembangunan


Back to top button