Sabtu, April 18, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalMesin Sampah Tanpa Asap Jadi Harapan Baru, Pengusaha Muda Bali Tantang Krisis...

Mesin Sampah Tanpa Asap Jadi Harapan Baru, Pengusaha Muda Bali Tantang Krisis Sampah 3.436 Ton per Hari

Denpasar, PancarPOS | Krisis sampah di Bali yang kian menggunung mulai menemukan titik terang. PT Aksara Cristy Legal melalui brand Solusi Aksara resmi menghadirkan inovasi mesin pengolah sampah tanpa asap dalam sebuah agenda bertajuk Menghadirkan Mesin Propolis Solusi Sampah di Pulau Bali yang digelar pada Jumat, 17 April 2026, di Pamela Super Lounge, Jalan Tukad Yeh Aya No.99B, Renon, Denpasar.

Di tengah situasi darurat sampah yang semakin nyata, kehadiran teknologi ini bukan sekadar peluncuran alat, melainkan sinyal kuat bahwa pendekatan konvensional sudah tidak lagi relevan untuk menjawab kompleksitas persoalan lingkungan di Bali.

Owner PT Aksara Cristy Legal, Made Hiroki, pengusaha muda asal Gianyar, secara tegas menyoroti kondisi darurat tersebut. Ia menekankan bahwa Bali saat ini sedang menghadapi persoalan serius berupa gunung sampah yang terus meningkat setiap harinya. “Kita di sini menghadapi masalah yang sama, yaitu gunung sampah yang semakin besar setiap harinya. Cara-cara konvensional seperti penimbunan di TPA sudah tidak lagi memadai,” tegasnya.

Made Hiroki, pengusaha muda asal Gianyar, memperkenalkan teknologi pengolahan sampah Propolis berbasis Jepang yang diklaim tanpa asap sebagai solusi inovatif mendukung percepatan pembangunan PSEL di TPA Suwung, Denpasar. (foto: ang)

Menurut Hiroki, solusi ke depan tidak bisa lagi sekadar berorientasi pada pembersihan, tetapi harus masuk pada sistem pengelolaan berbasis teknologi. Mesin yang diperkenalkan ini dirancang mampu memilah, mengolah, hingga menelusuri proses pengolahan sampah secara otomatis tanpa menghasilkan asap, sehingga lebih ramah lingkungan. “Ini bukan lagi sekadar alat pembersih sampah, tetapi sistem canggih yang mampu bekerja secara otomatis. Teknologi ini adalah investasi masa depan bagi bumi kita,” ujarnya.

Meski demikian, Hiroki mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi tidak akan berdampak maksimal tanpa kesadaran masyarakat sebagai pengguna. “Teknologi hanyalah alat. Kesadaran manusialah yang menentukan keberhasilannya,” tambahnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bali melalui Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekda Bali, Luh Ayu Ariani, yang hadir mewakili Gubernur Bali, menegaskan bahwa persoalan sampah di Bali telah memasuki tahap kritis dan membutuhkan penanganan yang cepat, tepat, dan terukur.

Made Hiroki angkat bicara secara terbuka menyusul viralnya unggahan di media sosial. (foto: ist)

Dalam sambutannya, ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir, mulai dari unsur legislatif, dunia usaha, hingga asosiasi industri seperti Kadin dan PHRI, yang dinilai memiliki peran strategis dalam penanganan masalah lingkungan.

“Permasalahan sampah di Bali bukan lagi isu biasa, melainkan persoalan serius yang harus segera ditangani. Penanganannya tidak boleh hanya berorientasi pada pembuangan akhir, tetapi harus dimulai dari hulu,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2025, timbulan sampah di Bali telah mencapai sekitar 3.436 ton per hari. Angka ini dinilai sangat besar dan berpotensi terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan tingginya aktivitas pariwisata. “Bayangkan jika ini tidak ditangani secara serius. Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan menghadapi krisis lingkungan yang jauh lebih berat,” ujarnya.

Made Hiroki, pengusaha muda Bali pemilik Aksara Property. (foto: ist)

Kehadiran mesin pengolah sampah tanpa asap dari PT Aksara Cristy Legal ini pun dinilai sebagai langkah konkret yang dapat menjadi bagian dari solusi besar pengelolaan sampah di Bali. Ayu Ariani juga menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. Ia menilai pendekatan lama yang hanya bertumpu pada TPA harus segera ditinggalkan dan digantikan dengan sistem terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Kita membutuhkan inovasi, kolaborasi, dan komitmen bersama. Penanganan sampah harus berbasis sistem dan memanfaatkan teknologi yang memberikan solusi nyata,” katanya. ama/ksm

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img