Tabanan, PancarPOS | Sebanyak 343 atlet pelajar dari jenjang SD hingga SMA/sederajat ambil bagian dalam Kejuaraan Silat Bupati Tabanan Cup 2026 yang resmi digelar di GOR Debes, Tabanan, Kamis (9/4/2026). Ajang ini bukan sekadar kompetisi rutin, tetapi menjadi panggung strategis untuk menempa mental, teknik, dan karakter pesilat muda sebagai tulang punggung prestasi olahraga Tabanan ke depan.
Kejuaraan yang diselenggarakan oleh Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Tabanan ini menjadi salah satu agenda penting dalam kalender pembinaan atlet daerah. Selain menjaring bibit unggul, turnamen ini juga diarahkan untuk memperkuat posisi pencak silat sebagai cabang olahraga andalan yang konsisten menyumbang medali bagi Tabanan di berbagai ajang bergengsi.
Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, secara resmi membuka kejuaraan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pencak silat tidak boleh dipandang semata sebagai olahraga bela diri, melainkan sebagai warisan budaya yang sarat nilai disiplin, etika, dan pembentukan karakter generasi muda.
Menurutnya, momentum kejuaraan ini harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para atlet untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus membangun mental kompetitif yang sehat.
“Kepada seluruh peserta, saya berpesan agar bertanding dengan penuh semangat, menjunjung tinggi sportivitas, serta menjaga persaudaraan dan kebersamaan,” tegas Dirga di hadapan ratusan peserta dan official.
Ketua IPSI Tabanan, I Putu Eka Putra Nurcahyadi, menekankan bahwa kejuaraan ini merupakan bagian dari strategi jangka menengah dalam mempersiapkan atlet menghadapi ajang Porsenijar Bali pada Juli 2026, serta Porprov Bali 2027.
Ia menyebut, pembinaan berkelanjutan melalui kompetisi seperti ini sangat penting agar regenerasi atlet berjalan optimal dan prestasi Tabanan tetap terjaga.
“Jadi kami ingin memastikan bahwa pencak silat masih menjadi olahraga favorit di lingkungan sekolah dan masyarakat Tabanan. Ini penting untuk menjaga keberlanjutan prestasi,” ujarnya.
Lebih jauh, Eka Putra menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya tentang kemenangan di arena pertandingan. Nilai-nilai luhur seperti etika, penghormatan terhadap lawan, serta pelestarian budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap proses latihan dan kompetisi.
“Anak-anak ini tidak hanya diajarkan teknik bertarung, tetapi juga bagaimana menjaga silat sebagai warisan budaya. Ada aspek seni, etika, dan karakter yang kami tanamkan sejak dini,” imbuhnya.
Dari sisi teknis pelaksanaan, Sekretaris Panitia Kejuaraan, I Made Dwi Agung Sastrawan, mengungkapkan bahwa total terdapat 51 kelas pertandingan yang dipertandingkan. Kelas-kelas tersebut dibagi ke dalam berbagai kategori berdasarkan usia dan jenjang pendidikan peserta.
“Secara keseluruhan ada 343 atlet yang berasal dari 79 sekolah di seluruh Tabanan. Ini menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi terhadap pencak silat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan kejuaraan ini juga menjadi indikator kuat bahwa pembinaan olahraga di tingkat sekolah berjalan dengan baik. Partisipasi yang luas dari berbagai sekolah menunjukkan bahwa pencak silat masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda.
Kejuaraan yang berlangsung hingga 12 April 2026 ini diprediksi akan berlangsung sengit. Para atlet tidak hanya membawa nama sekolah, tetapi juga harapan daerah untuk melahirkan juara-juara baru yang mampu bersaing di level provinsi bahkan nasional.
Di balik gemuruh pertandingan, ada pesan yang lebih besar yang ingin ditegaskan: bahwa pencak silat adalah identitas, karakter, dan kebanggaan. Tabanan, melalui IPSI, tampak tidak hanya memburu medali, tetapi juga tengah membangun fondasi kuat bagi masa depan olahraga berbasis budaya.
Dengan kombinasi antara pembinaan terstruktur, kompetisi berjenjang, serta dukungan pemerintah daerah, bukan tidak mungkin Tabanan akan terus menjadi salah satu lumbung atlet silat terbaik di Bali. gga/ama






