Pemprov Bali Dorong Penguatan Aksara Kawi Lewat Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong

Denpasar, PancarPOS | Pemerintah Provinsi Bali mendorong penguatan literasi budaya melalui Seminar Aksara Kawi yang digelar dalam rangka Peringatan 1112 Tahun Prasasti Blanjong di Gedung Kerta Sabha, Denpasar, Minggu (15/2/2026). Seminar ini menjadi ruang akademik untuk memperdalam pemahaman sejarah sistem pertulisan di Nusantara, khususnya yang berkembang di Bali.
Tiga narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Gede Suarbawa, Heri Purwanto, dan Fuad. Dalam paparannya, Gede Suarbawa menjelaskan bahwa dalam sejarah sistem aksara di Indonesia terdapat tiga sistem besar yang pengaruhnya luas dan mendalam, yakni Pallawa, Arab, dan Latin.
Ia menyampaikan bahwa Aksara Pallawa memiliki sejarah panjang dalam dunia pertulisan Indonesia. Aksara ini digunakan dalam prasasti tertua dari Muara Kaman, Kutai, yang memuat kebesaran Raja Mulawarman. Selain itu, prasasti Raja Purnawarman di Jawa Barat juga menggunakan dasar aksara Pallawa.
Perkembangan selanjutnya menunjukkan transformasi sistem tersebut di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali, yang kemudian melahirkan aksara Kawi. Dari sinilah tradisi keberaksaraan berkembang dan menjadi fondasi budaya tulis di Bali.
Selain tiga sistem utama tersebut, ia juga menyinggung keberadaan aksara Siddhamatrka atau Pre-Nagari dan aksara Cina yang ditemukan dalam tinggalan arkeologi Indonesia, meski pengaruhnya tidak berkelanjutan seperti Pallawa, Arab, dan Latin.
Melalui seminar ini, Pemprov Bali berharap generasi muda tidak hanya mengenal aksara sebagai simbol, tetapi memahami nilai sejarah dan peradaban yang dikandungnya. Penguatan aksara Kawi dipandang sebagai bagian dari strategi pelestarian identitas budaya Bali di tengah transformasi digital dan globalisasi. mas/ama/*









