Jakarta, PancarPOS | Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Indonesia menghadapi lonjakan signifikan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat, hingga pertengahan November 2024, lebih dari 64.000 pekerja kehilangan pekerjaan mereka. Sektor industri pengolahan, jasa, dan perdagangan menjadi yang paling terdampak, dengan Jakarta, Jawa Tengah, dan Banten mencatatkan angka PHK tertinggi.
Data terbaru yang dirilis oleh Kementerian Ketenagakerjaan pada Minggu (17/11/2024) menunjukkan bahwa sebanyak 64.288 pekerja di seluruh Indonesia terpaksa kehilangan pekerjaan mereka sejak awal tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan 63.947 pekerja yang tercatat terkena PHK pada akhir Oktober 2024. Peningkatan ini menggambarkan semakin beratnya tantangan di pasar kerja Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dari total angka tersebut, Jakarta menjadi provinsi yang paling banyak mencatatkan korban PHK dengan 14.501 pekerja. Diikuti oleh Jawa Tengah dengan 12.492 pekerja yang kehilangan pekerjaan, serta Banten yang mencatatkan angka 10.702 pekerja yang terkena PHK. Lonjakan angka PHK ini sangat terasa di kota-kota besar dan kawasan industri, yang selama ini menjadi pusat perekonomian Indonesia.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kemenaker, Indah Anggoro Putri, dalam keterangannya mengatakan bahwa data ini mencerminkan dampak serius dari berbagai faktor yang memengaruhi sektor ketenagakerjaan di Indonesia.
Indah juga mengungkapkan bahwa sektor-sektor yang paling banyak melakukan PHK adalah industri pengolahan, sektor jasa, dan sektor perdagangan. Dalam data Kemenaker, sektor industri pengolahan menyumbang angka PHK terbanyak dengan 28.021 pekerja yang kehilangan pekerjaan, yang mencakup industri tekstil dan manufaktur lainnya yang tertekan oleh biaya produksi yang semakin tinggi.
Sektor jasa lainnya juga mengalami penurunan signifikan dengan lebih dari 15.500 pekerja yang terpaksa diberhentikan, sementara sektor perdagangan besar dan eceran (ritel) tercatat mengalami PHK terhadap lebih dari 8.000 pekerja.
“Ada 3 sektor dengan angka PHK tertinggi, yaitu industri pengolahan sebanyak 28.021 pekerja, sektor jasa lainnya sebanyak 15.572 pekerja, dan sektor perdagangan besar dan eceran sebanyak 8.399 pekerja,” jelas Indah.
Tingginya angka PHK di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Menurut sejumlah pengamat, salah satu penyebab utama adalah meningkatnya biaya produksi, terutama terkait dengan harga bahan baku dan energi yang terus melonjak. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global dan dampak dari resesi di beberapa negara besar turut memberi tekanan pada sektor-sektor industri yang sangat bergantung pada ekspor.
Perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin mengandalkan teknologi digital juga turut memengaruhi sektor-sektor tertentu. Industri-industri tradisional, seperti ritel dan tekstil, harus beradaptasi dengan tren baru dan otomatisasi, yang berujung pada pengurangan jumlah tenaga kerja. tim/ama






