Karangasem, PancarPOS | Nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, sejatinya sudah ada dalam keyakinan, perilaku dan budaya masyarakat Bali sebagai warisan ratusan tahun lalu, baik sebagai budaya asli di Bali maupun campuran dengan budaya Jawa Kuna yang dibawa dan dikembangkan secara kreatif di Pulau Bali pada jaman Majapahit sampai sekarang. Orang Bali yang beragama Hindu percaya pada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut sebagai Brahman, percaya pada Atman yang sepadan dengan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, sangat menyukai kebersamaan (gotong royong, sagilik saguluk salunglung sabayantaka) yang sepadan dengan Persatuan Indonesia, sementara dalam mengambil keputusan maupun memilih pemimpin, senantiasa mengedepankan musyawarah mufakat, sebagaimana sila ke-4 Pancasila.

Sementara soal Keadilan Sosial, orang Bali menerapkan tolong menolong sesuai ajaran Catur Parimita. Namun, karena tantangan moderen semakin kompleks, Anggota Komisi III DPR RI Wayan Sudirta mengajak masyarakat terus mengoptimalkan kegotongroyongan, agar tidak tergerus oleh budaya moderen yang individualistis. Hal itu disampaikan oleh Anggota MPR RI yang juga Anggota Komisi III DPR RI Dapil Bali, Wayan Sudirta, SH, MH, dalam sosialisasi 4 konsensus kebangsaan di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Sabtu (27/5). Ikut hadir Wayan Ariawan, SH seorang advokat putra asli Desa Besakih yang duduk juga sebagai Bendahara di PAC PDI Perjuangan Kecamatan Rendang, I Nengah Sindya, Kelian Desa Adat Temukus, dan ratusan Krama dari Desa Adat Tukad Belah dan Desa Adat Temukus. Dalam sosialisasi yang berlangsung akrab dan penuh tawa, sempat dibentuk Tim Kecil untuk permasalahan jalan rusak di Desa Temukus, yang nantinya dibawa ke Bupati Karangasem, Gede Dana, SH di Amlapura, dan Nengah Sindya dipercaya sebagai Koordinator Tim dengan personalia dari unsur Banjar, Teruna-Teruni, Pecalang, dan tokoh desa lainnya. Tim direncanakan membawa aspirasi tentang jalan yang rusak, walau berkali direhabilitasi secara swadaya oleh warga setempat.
Empat konsensus dasar kebangsaan Indonesia, termasuk Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, tetap penting disadari dan diperkuat, karena masih ada ancaman dari kelompok yang ingin mengganti dasar negara, konstitusi serta tatanan sosial politik dan sosial budaya Indonesia, yang sebetulnya sudah tertata sangat bagus. Namun, karena nyatanya ada kelompok yang ingin menerapkan ideologi dari agama tertentu dalam sistem bernegara kita, mengganti sistem demokrasi dengan pemerintahan berdasarkan agama tertentu, memperkuat keyakinan dan kesadaran akan pentingnya menjaga Pancasila semakin penting, karena itu juga berarti menjaga 4 konsensus dasar kebangsaan ini dalam kehidupan bangsa Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

Nengah Sindya membenarkan apa yang disampaikan Sudirta di forum sosialisasi tersebut. ‘’Kami memang sampai sekarang masih bergotong royong. Membangun jalan, membangun Pura, termasuk juga melakukan Ngaben, yang dalam waktu dekat ini kami adakan Ngaben Bersama, agar beayanya jadi lebih ringan karena dipikul bersama-sama. Dengan bergotong royong ngaben massal, kami,’’ katanya. Sudirta dan warga masyarakat yang hadir menyampaikan terimakasih kepada para pahlawan yang telah mengantarkan kemerdekaan Republik Indonesia, dan kini tinggal mengisi kemerdekaan tersebut dengan kesadaran berpolitik yang demokratis, tetapi mengedepankan musyawarah, persaudaraan, kemanfaatan, toleransi, perdamaian dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur melalui aneka karya budaya ke generasi yang ada sekarang. ora/ama/ksm






