Ketum KONI Bali Dua Kali Gagal Jadi Tuan Rumah PON, Bakal Calon Pengganti Terus Bermunculan

Denpasar, PancarPOS | PON XX Papua Tahun 2021 menjadi salah satu bukti sejarah, di mana Provinsi Bali sudah dua kali gagal menjadi tuan rumah PON selama kepemimpinan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Bali (Ketum KONI Bali), Ir. I Ketut Suwandi. Selain disorot selama masa jabatannya yang sebenarnya sudah berakhir 16 Desember 2021 lalu, hanya bisa mengandalkan dana ABPD, juga dituding tidak ada membagikan dana pembinaan cabang olah raga secara adil dan merata.

“Walaupun ada dana pemerintah, jangan sampai Ketum KONI Bali berobsesi mengejar target supaya Bali sebagai tuan rumah PON, karena anggaran bidding PON biayanya sangat tinggi. Nah sekarang Ketum KONI Bali adakah pertanggungjawaban sudah dua kali gagal sebagai tuan rumah PON? Itu biddingnya berapa anggarannya? Pernahkah dipublikasikan kepada masyarakat?,” tanya Pecinta dan Pemerhati Olahraga, Drs. I Wayan Suata, saat dihubungi, Minggu (20/2/2022).
Padahal semua dana KONI Bali berasal dari pemerintah, bukan dana Ketum KONI Bali pribadi, sehingga tidak perlu dipublikasikan. Namun disebut Suata, anggaran KONI Bali dari dana pemerintah yang wajib disalurkan untuk dana pembinaan atlet olahraga sejak usia dini. “Karena prestasi atlet tidak jatuh dari langit, itu yang tidak dipikirkan. Kalau sudah jadi baru atlet gelah (punya, red) KONI, padahal dari pembinaan tidak pernah dibina,” sentil Pemilik SSB Bali All Stars Anggota Club PSSI Bali itu, seraya menegaskan kadang kala Cabor yang membuat event saja sangat susah mengajukan proposal ke KONI Bali dengan alasan tidak ada dana.

Padahal Cabor menggelar event baik regional Bali, maupun nasional sangat membutuhkan dana pembinaan KONI Bali. “Kenapa KONI tidak berani mengeluarkan dana? Kan aneh itu. Itulah tumpang tindih ketidakadilan dilakukan oleh Ketua KONI selama ini. Siapa yang dekat, Cabor mana yang dekat dengan Ketua KONI, itu jeg seratus persen pasti didukung dan tanpa babibu lagi, be lele be jari, sing bertele-tele langsung cair. Tapi kalau tidak kenal dengan pengurus, apalagi Ketua KONI, maka seolah-olah be lele saja, alias bertele-tele, bahkan tidak cair,” ujar Ketua Koperasi Asap Bali tersebut.
Di samping itu, Ketum KONI Bali dituding tidak transparan terhadap semua cabang olahraga, karena tidak adil terhadap bantuan pembinaan yang diberikan. “Kalau tidak kenal, proposal di tong sampah mungkulan (dibuang, red), lain uang itu milik Pak Ketut Suwandi pribadi, tapi ini uang KONI yang disumbangkan dari APBD wajib hukumnya diberikan secara transparan ke masing-masing Cabor. Dan dia sudah mengakui itu, ya kan? Sekarang seolah-olah Cabor ngemis ke Pak Ketua KONI, padahal bukan uangnya dia itu. Jadi Ketua KONI ke depan harus memikirkan hal-hal seperti itu, jangan sampai Ketua KONI menganggap uang itu milik pribadinya, sehingga katos keluarnya untuk Cabor yang dia tidak kenal,” sentilnya lagi.

Di sisi lain, saat ini sudah bermunculan banyak bakal calon Ketum KONI Bali yang lebih memiliki harapan baru bagi dunia olahraga dan prestasi altet di Bali. Sebelumnya sudah ada muncul I Komang Takuaki Banuartha yang memberanikan diri maju sebagai bakal calon Ketum KONI Bali periode 2022-2026 yang rencananya akan digelar pada Jumat, 11 Maret 2022.
Bakal calon lainnya diketahui banyak Cabor mendukung I Gusti Ngurah Agung Oka Darmawan yang menjabat Sekum KONI Bali dua periode, juga sangat berambisi siap ngayah untuk menjadi Ketum KONI Bali. Ada juga Ketum KONI Tabanan, Dewa Gede Ary Wirawan nampaknya juga menyatakan siap maju. Yang paling fenomenal isunya maju, I Nyoman Budi Adnyana dari Ketua Peradi Denpasar yang sudah berembus sebelum PON Papua, tapi rasanya karena belum banyak sering berkecimpung di olahraga akan sulit mau maju.

Sementara itu, AA. Bagus Tri Candra Arka sebagai Sekum Pemprov Tarung Drajat Bali dan menjadi bintang official Bali yang mengantarkan Bali mendulang 4 medali di Cabor Tarung Drajat dan Kriket di PON Papua, juga namanya makin bersinar digadang-gadang mengantikan Suwandi yang masih berambisi menjadi Ketum KONI Bali tiga periode.
Sebenarnya Menurut Suata, dari Forki Bali juga ada potensi yang luar biasa, yakni Dr. Ketut Rochineng, SH., MH., alias Rocky. N yang juga Ketua Forki Bali dua periode, cuma disayangkan terbentur oleh aturan pemilihan Ketum KONI Bali. Selain itu, juga ada Dr. R. Ardy Ganggas, SE., M.For., AIFO., selaku Sekum Forki Bali adalah Doktor Olah Raga, tapi karena aparatur sipil negara (ASN) tidak mungkin bisa maju sebagai Ketum KONI Bali, jika tidak mau mundur sebagai ASN. Kalau dari Forki Bali yang juga layak maju, yakni Dr. Drs. Maryoto Subekti, M.For., sebagai Ketua Cabor Woodball, Kabadi dan Softball Bali.

“Beliau juga Doktor Olah Raga, S2 Olah Raga dan S1 Olah Raga. Bisa dihitung berapa sih Doktor Olah Raga di Bali? Kapasitas, Capabilitas tidak usah diragukan lagi Pak Mariyoto ini. Namun sayangnya kemungkinan susah bisa maju, karena terbentur oleh warna politik sekarang. Warna politiknya beda. Termasuk Pak Oka Darmawan ini, juga pensiunan ASN yang getol ingin maju, tapi karena warna kuning susah akan bisa maju, meskipun sudah mendapat dukungan dari Cabor-cabor, tapi rasanya akan susah mendapat rekomendasi dari Pak Gubernur karena warna,” beber Suata.
Suata juga berharap ada figur muda yang bisa menggantikan Ketum KONI Bali saat ini, dan punya capabilitas, seperti I Dewa Putu Susila, sebagai generasi muda olahraga yang jiwanya ditanam di dunia olahraga sejak lama, selain punya potensi yang luar biasa. Di samping itu, juga punya banyak jaringan luar negeri, sehingga sangat layak dipertimbangkan guna meningkatkan event sport tourism di Bali. “Pak Dewa Susila juga sangat layak untuk maju sebagai Ketum KONI Bali. Beliau juga kalau tidak salah juga ikut pengurus KONI Bali bagian hubungan luar negeri. Apalagi beliau saat ini mengirim ribuan tenaga kerja kapal pesiar ke luar negari selama pandemi Covid-19. Jadi beliau juga punya potensi, karena bisa membuat banyak event internasional di Bali dan membuat olahraga sebagai industri sport tourism,” tegas Suata, sembari menegaskan kembali, agar Ketum KONI Bali siapa pun terpilih depan, supaya tidak lagi hanya mengandalkan uang pemerintah saja.

“Bagaimana calon Ketum KONI Bali ke depan bisa menggali potensi yang ada, sehingga bila perlu kalau memang bisa, Ketum KONI Bali mensubdisi anggaran seluruh Cabor setiap tahunnya dengan merata, agar adil dan tidak ada tumpang tindih. Semua Cabor harus diberikan sama dana pembinaannya, apalagi Ketum KONI Bali bisa mendapatkan dana sponsor atau dari penghasilan event nasional dan internasional, sehingga tidak perlu minta uang dari pemerintah,” paparnya.
Suata juga berharap, agar Gubernur Bali, Wayan Koster bisa memilah-milah, karena apapun dukungan dari Cabor-cabor, seperti saat pemilihan calon Ketum KONI Badung yang sudah 99 persen mendapat dukungan dari semua Cabor, namun tidak dapat rekomendasi dari Bupati Badung ternyata tidak bisa terpilih. “Itu sama dengan bohong. Itu contohnya, dan sekarang meskpun di atas 50 persen plus satu dukungan Cabor, namun tidak dapat rekomendasi Pak Gubernur sama juga bohong, karena KONI Bali harus bersinergi dengan pemerintah,” tutupnya. ama/ksm









