Minggu, April 5, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaDaerahNy. Seniasih Giri Prasta Bongkar Akar Kekerasan Anak dan Krisis Ikatan Emosional...

Ny. Seniasih Giri Prasta Bongkar Akar Kekerasan Anak dan Krisis Ikatan Emosional Keluarga

Buleleng, PancarPOS | Fenomena kekerasan terhadap anak di Kabupaten Buleleng kembali menjadi sorotan tajam. Ketua Forum PUSPA Provinsi Bali, Ny. Ni Luh Putu Seniasih Giri Prasta, mengungkap realitas yang kerap luput dari perhatian: kekerasan tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga hadir dalam kata-kata, sikap, dan pengabaian emosional.

Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Sosialisasi Kabupaten Layak Anak (KLA) yang digelar di Kantor Bupati Buleleng, Selasa 31 Maret 2026. Dalam forum tersebut, ia membedah akar persoalan yang menurutnya semakin kompleks di tengah perubahan sosial dan tekanan kehidupan modern.

“Kekerasan bukan hanya memukul atau menyakiti secara fisik. Membentak, berbicara dengan nada tinggi, bahkan mengabaikan anak secara emosional juga merupakan bentuk kekerasan,” tegasnya, mengingatkan bahwa banyak orang tua kerap tidak menyadari perilaku tersebut sebagai tindakan yang berdampak serius.

Ia menekankan bahwa solusi utama bukan sekadar regulasi atau program pemerintah, melainkan membangun bonding atau ikatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Ikatan ini, menurutnya, lahir dari hal sederhana namun konsisten: perhatian, sentuhan, komunikasi hangat, dan waktu kebersamaan yang berkualitas.

Namun realitas hari ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Ikatan emosional dalam keluarga perlahan terkikis, terutama pada keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja. Kondisi ini, jika tidak diantisipasi, berpotensi menciptakan ruang kosong dalam kehidupan anak yang kemudian diisi oleh pengaruh negatif dari luar.

Seniasih tidak menampik bahwa perempuan memiliki hak untuk bekerja dan berkarier. Bahkan, ia mendukung penuh peran perempuan dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Namun, ia mengingatkan agar keseimbangan peran tetap dijaga.

“Silakan perempuan bekerja dan berkembang, tetapi jangan sampai anak kehilangan perhatian. Jangan sampai mereka merasa diabaikan. Bangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa diterima dan dicintai,” ujarnya dengan nada serius.

Lebih jauh, ia mengungkap fakta yang memprihatinkan: meningkatnya kasus bunuh diri dan perkawinan anak di Buleleng. Menurutnya, fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi keluarga yang rapuh dan kurangnya perhatian orang tua.

Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang bercerai atau mengalami konflik berkepanjangan, sering kali merasa kehilangan tempat bernaung. Ketika salah satu atau kedua orang tua menikah lagi, kondisi psikologis anak menjadi semakin rentan.

“Anak merasa tidak memiliki tempat. Tidak diterima di mana pun. Dalam kondisi seperti itu, mereka bisa mengambil keputusan impulsif, termasuk menikah di usia dini,” ungkapnya, menyoroti sisi gelap yang jarang dibicarakan secara terbuka.

Tak hanya itu, tantangan juga datang dari derasnya arus teknologi dan media sosial. Ia mengingatkan bahwa dunia digital telah membuka akses tanpa batas bagi anak-anak, namun tanpa filter yang memadai.

Anak-anak kini dengan mudah terpapar konten negatif, membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain, dan membangun ekspektasi yang tidak realistis. Hal ini berpotensi mengganggu kesehatan mental dan perkembangan emosional mereka.

“Media sosial membuat anak melihat dunia tanpa batas, tetapi tanpa kesiapan mental. Mereka membandingkan diri, merasa kurang, dan akhirnya tertekan. Ini harus menjadi perhatian serius orang tua,” tegasnya.

Sosialisasi Kabupaten Layak Anak ini menjadi momentum penting untuk menyatukan persepsi lintas sektor. Selain Seniasih Giri Prasta, kegiatan ini juga menghadirkan Kepala Dinas Sosial PPPA Kabupaten Buleleng serta perwakilan Bappeda Provinsi Bali, dan dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Buleleng.

Pesan yang mengemuka jelas: membangun generasi masa depan tidak cukup dengan kebijakan, tetapi harus dimulai dari keluarga. Ketika rumah tidak lagi menjadi ruang aman bagi anak, maka berbagai persoalan sosial akan terus bermunculan.

Apa yang disampaikan Seniasih bukan sekadar peringatan, tetapi alarm keras bagi seluruh elemen masyarakat. Bahwa krisis terbesar hari ini bukan hanya ekonomi atau teknologi, tetapi krisis kehangatan dalam keluarga. mas/ama/*

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments