Daerah

Calon Rektor Profesor Kalah dari Doktor, Sae Tanju: UNHI Denpasar Sedang Mencari Figur Reformis dan Adaptif Digital


Denpasar, PancarPOS | Dunia akademik Bali tengah diramaikan oleh dinamika pemilihan calon Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Hasil penyisihan tiga besar calon rektor yang menempatkan kandidat bergelar doktor mengungguli profesor menjadi bahan pembicaraan hangat di kalangan civitas akademika dan alumni kampus berbasis nilai-nilai Hindu tersebut.

Fenomena ini dinilai unik dan sarat makna. I Ketut Sae Tanju, S.E., M.M., mantan Ketua BEM sekaligus Ketua Ikatan Alumni UNHI Denpasar, menyebut pergeseran tren ini sebagai tanda perubahan arah kepemimpinan akademik yang lebih terbuka, progresif, dan berorientasi pada reformasi kampus.

“Menarik sekali melihat bagaimana calon bergelar profesor, yang secara akademik paling tinggi, justru kalah dari kandidat doktor. Ini bukan soal titel, tapi soal relevansi dan kemampuan menjawab kebutuhan zaman. Kampus saat ini tidak hanya butuh ilmuwan, tapi juga pemimpin yang punya daya gerak, jaringan kuat, dan visi transformatif,” tegas Sae Tanju di Denpasar, Rabu (29/10/2025).

Menurutnya, dalam banyak kasus di dunia perguruan tinggi, gelar profesor memang menjadi simbol puncak akademik, namun tidak selalu menjamin efektivitas kepemimpinan. “Kampus bukan sekadar menara gading. Rektor harus jadi navigator perubahan, bukan hanya simbol intelektual,” katanya.

Sae Tanju menilai hasil penyisihan calon rektor UNHI Denpasar ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa stakeholder kampus menginginkan figur baru yang lebih berani menabrak kebiasaan lama. “UNHI tampaknya sedang mencari sosok reformis, bukan status quo. Figur yang dianggap mampu mempercepat transformasi digital, memperkuat tata kelola, dan membawa semangat muda dalam birokrasi kampus,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam pemilihan rektor, selain faktor akademik, kinerja manajerial, kemampuan membangun jejaring, dan dukungan politik kampus kerap menjadi pembeda utama. Kandidat doktor yang aktif membangun komunikasi lintas fakultas dan mampu merangkul berbagai kelompok bisa unggul dari profesor yang lebih mapan tetapi cenderung statis.

“Pemilihan rektor bukan hanya soal siapa paling pintar, tapi siapa paling mampu bekerja sama. Dukungan dari senat, alumni, dan unit-unit kerja kampus bisa jadi faktor penentu. Kadang, yang menang adalah mereka yang tahu kapan harus mendengar dan kapan harus bertindak,” ungkapnya.

Sae Tanju yang juga menjabat sebagai Ketua FA Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Bali menambahkan, setiap kampus memiliki kebutuhan spesifik pada masa tertentu. “Bisa jadi saat ini UNHI ingin mempercepat internasionalisasi, memperkuat reputasi akademik global, dan beradaptasi dengan era digitalisasi pendidikan. Maka yang dicari adalah pemimpin yang gesit, bukan yang sekadar senior,” ujarnya tajam.

Meski begitu, Sae Tanju tetap menghormati para profesor yang ikut dalam bursa calon rektor. “Kita tidak bisa menafikan pengalaman dan kontribusi besar para guru besar. Tapi zaman sekarang menuntut pemimpin yang mampu mengombinasikan pengetahuan mendalam dengan kecerdasan manajerial dan sensitivitas terhadap perubahan,” imbuhnya.

Ia pun berharap rektor terpilih nanti mampu membawa UNHI Denpasar naik kelas, menjadi kampus Hindu yang tidak hanya berprestasi secara nasional, tetapi juga diakui dunia. “Saya berharap UNHI bisa menjadi universitas dengan reputasi internasional, memiliki riset berkualitas, lulusan berdaya saing global, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal Hindu,” tandasnya. ama/ksm



MinungNews.ID

Saluran Google News PancarPOS.com

Baca Juga :



Back to top button