Sabtu, April 25, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaNasionalWagub Giri Prasta Tekankan Pelestarian Nilai Sakral dan Jejak Budaya Jawa–Bali

Wagub Giri Prasta Tekankan Pelestarian Nilai Sakral dan Jejak Budaya Jawa–Bali

Buleleng, PancarPOS | Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta menekankan pentingnya menjaga nilai sakral dan keaslian warisan budaya leluhur yang melekat pada Pura Mas Pidada, Kelurahan Banyuasri, Singaraja, Kabupaten Buleleng. Penegasan itu disampaikan saat menghadiri Upacara Pemelaspas Wangunan lan Pelinggih Pura Mas Pidada, Rabu (28/1/2026).

Menurut Giri Prasta, Pura Mas Pidada memiliki kekhasan spiritual dan budaya yang tidak boleh tergerus oleh perkembangan zaman. Ia menilai, kemajuan dan pembangunan harus tetap berpijak pada nilai-nilai adat, sejarah, dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu perhatian utama Wagub Bali adalah keberadaan gong sakral di Pura Mas Pidada. Ia menegaskan bahwa benda-benda sakral tersebut tidak semestinya diganti, melainkan dijaga dan direstorasi apabila mengalami kerusakan, karena mengandung nilai sejarah dan taksu yang tinggi.

“Yang sakral jangan sampai hilang karena alasan praktis. Nilai sejarah dan spiritualnya justru harus dijaga,” tegas Giri Prasta.

Ia juga mengingatkan bahwa Singaraja merupakan salah satu pusat penting perkembangan seni dan budaya Bali, termasuk lahirnya maestro-maestro seni topeng. Karena itu, keberadaan pura-pura dengan keunikan budaya seperti Pura Mas Pidada harus terus dirawat sebagai bagian dari identitas Bali Utara.

Kelian Banjar Adat Banjar Tegal, Made Kastika, menjelaskan bahwa Pura Mas Pidada merupakan sungsungan jagat sekaligus sungsungan keturunan Gusti Ngurah Batu Lepang yang diempon oleh Banjar Adat Tegal. Dengan jumlah pengempon sekitar 100 orang, pura ini menjadi salah satu pura pemaksan yang memiliki peran penting bagi krama setempat.

Ia mengungkapkan, berdasarkan cerita leluhur, Pura Mas Pidada memiliki keterkaitan budaya dengan peninggalan Jawa. Hal ini tercermin dari kekidungan Dalem Solo yang dilantunkan saat prosesi mendak ke segara, keberadaan gamelan Kedencong yang kesamaannya hanya ditemukan di Solo, struktur paduraksa, serta Ida Sesuhunan yang melinggih meparab Ida Bhatara Mas Makober.

Keunikan tersebut menjadikan Pura Mas Pidada tidak hanya sebagai pusat persembahyangan, tetapi juga sebagai ruang pelestarian sejarah dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Upacara pemelaspas ini pun dinilai menjadi momentum penguatan kebersamaan antara krama, prajuru adat, dan pemerintah dalam menjaga kesucian pura serta merawat warisan leluhur sebagai fondasi jati diri Bali. mas/ama/*

RELATED ARTICLES
- Advertisment -

Most Popular

spot_img
spot_img
spot_img