Daerah

Komoditi Perkebunan Lockdown, Dinas Pertanian Bali Serahkan 2 Ribu Paket Sembako


Denpasar, PancarPOS | Kondisi pertanian di masa Covid 19 beragam. Komoditi perkebunan yang dominan berorientasi ekspor mengalami kelesuan, karena negara – negara pengimpor komoditi perkebunan lockdown. Sehingga yang bisa dilakukan saat ini hanya berupaya memperbaiki mutu produk, agar ketika kondisi ekonomi sudah pulih, serapan ekspor maksimal. Seperti diungkapkan Sekditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Antarjo Dikin, ditemui saat penyerahan bantuan paket pangan di Kantor Dinas Pertanian dan Tananam Pangan Provinsi Bali, Kamis (27/8/2020) mengatakan, tidak semua petani adalah pemilik tapi juga ada buruh sehingga buruh tani menunggu pekerjaan. “Karena ekspor turun, penanaman juga sedikit, sehingga buruh tani ini tidak bekerja,” ujarnya.

Sementara itu, pihaknya telah melakukan pendekatan dengan negara lain. Menurutnya mereka mau membeli namun karena di negara mereka lock down sehingga tidak bisa melakukan impor. “Jadi perlu waktu pemulihan,” ujarnya. Akibatnya, stok komoditi perkebunan melimpah dan harga cenderung turun. Upaya yang bisa ia lakukan saat ini adalah memperbaiki mutu. Dalam upaya memperbaiki mutu diakui, konsep berkebun di Bali telah menerapkan konsep agro forestry. Konsep ini yang diminta negara maju karena dinilai produk yang dihasilkan lebih sehat. Selain itu ia juga bekerjasama dengan kapal api untuk menyerap hasil perkebunan berupa kopi. “Ini upaya upaya menolong,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, IB Wisnuardhana mengatakan, berdasarkan data BPS dan Bank Indonesia pertumbuhan perekonomian Bali pada triwulan II terkontraksi minus 10,98%. Nilai Tukar Petani (NTP) Bali yang mencapai 105 turun menjadi 100. Dilain pihak sektor pertanian satu-satunya sektor yang pertumbuhannya masih positif. Akan tetapi petani adalah juga kelompok masyarakat yang terkena dampak. Sesuai data, jumlah KK petani di Bali tercatat lebih dari 400.000 KK tani, sebanyak 99.000 KK tergolong petani  penggarap dan buruh tani yang paling merasakan dampaknya. Dampak terhadap sektor pertanian secara umum adalah sulitnya pemasaran produk khususnya saat musim panen. Sekitar 50 persen produk petani yang biasanya terserap ke hotel, restoran, catering, swalayan dan pasar rakyat praktis menurun drastis, termasuk pemasaran antar pulau dan eksport juga relatif mengalami penurunan.

Namun diakui berbagai upaya telah dilakukan dalam membantu petani mengatasi kesulitan yang dihadapi tersebut, antara lain refocusing  kegiatan dengan sistem padat karya, bantuan dan fasilitasi petani dalam penyediaan saprodi dan KUR, mengintensifkan asuransi pertanian, fasilitasi pemasaran hasil melalui program pasar gotong royong krama Bali, membeli produk petani khususnya sayuran dan membagikan secara gratis kepada yang membutuhkan (Dana Dekon Ditjen Hortikultura) dan membagikan paket sembako kepada PPL kontrak dan petani sebanyak 2 ribu paket. tim/aka/jmg

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan


Back to top button