Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali, Wayan Koster, akhirnya angkat bicara lantang soal kualitas pelayanan di Terminal Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai. Dalam rapat koordinasi peningkatan pelayanan, Sabtu (23/8/2025), Gubernur Koster menegaskan bahwa bandara internasional kebanggaan Bali itu tidak boleh main-main dalam melayani jutaan wisatawan mancanegara maupun domestik.
“Bandara I Gusti Ngurah Rai adalah pintu gerbang utama Indonesia di mata dunia. Inilah wajah pertama dan terakhir yang dilihat wisatawan. Kalau pelayanannya amburadul, citra Bali dan Indonesia ikut rusak,” tegas Gubernur Koster di hadapan jajaran instansi terkait.
Bali saat ini masih menjadi magnet utama pariwisata nasional. Data 2024 mencatat jumlah wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 6,4 juta orang, hampir setengah dari total kunjungan nasional sebanyak 13,9 juta orang. Angka ini bahkan melampaui jumlah sebelum pandemi Covid-19 pada 2019 yang hanya 6,25 juta orang.
Sementara wisatawan domestik ke Bali tercatat 9,6 juta orang, mendekati angka 2019 yang berjumlah 10,5 juta orang. Kontribusi Bali terhadap pariwisata nasional sangat signifikan: 46% dari total kunjungan wisman ke Indonesia, 44% kontribusi devisa nasional, dan menyumbang 66% pertumbuhan ekonomi Bali.
“Ini membuktikan pariwisata Bali adalah tulang punggung ekonomi nasional. Karena itu pelayanan bandara tidak boleh asal-asalan. Wisatawan yang datang harus merasa nyaman, aman, dan dihormati,” ujar Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini.
Gubernur Koster tidak menutup mata terhadap sejumlah masalah serius yang masih terjadi di Bandara Ngurah Rai.
1. Pelayanan Imigrasi
Masih ditemukan antrean panjang yang membuat wisatawan menunggu lama. Koster juga menyoroti indikasi adanya layanan transaksional yang melanggar aturan serta lemahnya pengawasan terhadap orang asing bermasalah.
2. Pelayanan Bagasi
Waktu tunggu bagasi masih terlalu lama, bahkan bisa mencapai 1,5 jam. Ketersediaan lori dan petugas pengangkut barang sangat terbatas, sementara kebersihan conveyor belt dan ruang tunggu dinilai buruk.
3. Pelayanan Bea Cukai
Banyak form bea cukai online tidak diisi penumpang sebelum pemeriksaan, pencahayaan di area bea cukai minim, dan antrean panjang terus terjadi.
4. Pelayanan Angkasa Pura
Masih banyak masalah seperti antrean transportasi, keberadaan oknum marketing transportasi yang mengganggu wisatawan, kebersihan kurang maksimal, hingga kendaraan operasional bandara yang masih menggunakan bahan bakar fosil, bukan kendaraan listrik ramah lingkungan.
“Semua ini harus diperbaiki. Jangan biarkan wisatawan kecewa hanya karena antrean panjang, bagasi lama, atau pelayanan yang tidak manusiawi,” tegas mantan Anggota Komisi X Anggota DPR RI itu.
Dalam arahannya, Gubernur Koster menekankan sejumlah langkah strategis:
- Pelayanan kelas dunia – Seluruh instansi harus memiliki komitmen kuat, bekerja dengan integritas, tidak menutup diri, dan mau melakukan koreksi. Koordinasi, sinergi, dan integrasi harus semakin kuat agar tidak ada ego sektoral. “Kita harus satu budi, satu rasa, satu irama,” ujarnya.
- Otoritas Bandara sebagai komando – Otoritas harus mengelola pelayanan dengan sistem manajemen risiko, mitigasi masalah, serta melaporkan setiap perkembangan langsung kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di daerah.
- Integritas petugas – Semua petugas harus beretika, beradab, tidak melakukan tindakan merugikan penumpang, dan mampu memberikan informasi yang benar kepada wisatawan.
- Perbaikan tata kelola Angkasa Pura – Segera mengganti fasilitas tua, mengatur sistem lalu lintas kendaraan dengan pintu masuk-keluar berbayar untuk mencegah kemacetan seperti di Soekarno-Hatta, menghapus angkutan ilegal dan freelance, serta memastikan kebersihan dan kenyamanan area bandara.
- Inklusi layanan – Angkasa Pura diminta menyiapkan counter khusus PWA (Persons With Autism) di area strategis, agar pelayanan bandara lebih ramah inklusi dan humanis.
Menutup arahannya, Gubernur Koster kembali menegaskan pentingnya menjaga kehormatan Bali melalui pelayanan bandara yang profesional.
“Kita tidak boleh main-main. Bandara ini adalah etalase Bali dan Indonesia. Wisatawan pertama kali menginjakkan kaki di sini, dan terakhir kali meninggalkan Bali juga lewat sini. Maka, kesan mereka akan ditentukan dari cara kita melayani. Pelayanan harus benar-benar kelas dunia, bukan kelas coba-coba,” pungkasnya. ama/ksm






