Denpasar, PancarPOS | PT Bali Turtle Island Development (BTID) bersama tokoh masyarakat Desa Adat Serangan menegaskan bahwa hubungan dengan warga tetap harmonis, membantah isu yang menyebut adanya ketegangan. Mereka menekankan bahwa sejak kehadiran BTID, telah terjadi perubahan positif signifikan bagi masyarakat. Dalam konferensi pers di Kampus UID, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Senin (24/3/2025), Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Kota Denpasar, Anak Agung Ketut Sudiana, Jro Bendesa Desa Adat Serangan, I Nyoman Gede Pariatha, Lurah Serangan, Ni Wayan Sukanami, serta Presiden Komisaris BTID, Tantowi Yahya, sepakat membantah narasi bohong yang menyebut adanya konflik antara BTID dan warga.
Jro Bendesa menyoroti perubahan besar yang terjadi sejak kehadiran BTID. Akses yang dulu terbatas kini terbuka lebar berkat pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan jalan. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan taraf hidup warga, termasuk akses lebih mudah ke pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan. “Dulu, warga harus berjuang keras untuk berobat, sekolah, atau bekerja. Sekarang, kita bisa melihat perubahan nyata. Banyak anak muda Serangan yang sukses dan taraf hidup masyarakat meningkat karena ada akses jalan darat yang lebih baik,” ujarnya.
Lebih dari 100.000 pemedek kini bisa dengan mudah mengakses Pura Sakenan saat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Setiap tahun, 200.000 wisatawan menyeberang dari Dermaga Serangan dan sekitar 40.000 orang mengunjungi Turtle Conservation Education Center (TCEC). Ia juga membantah isu bahwa warga kesulitan ke pura akibat pemeriksaan KTP. “Itu tidak benar! Warga Serangan memiliki akses penuh ke pura-pura di kawasan ini dengan mengenakan pakaian adat sebagaimana mestinya,” tegasnya.
Menanggapi isu terkait nelayan, Jro Bendesa memastikan bahwa mereka tetap memiliki akses melaut. Nelayan difasilitasi dengan ID khusus serta rompi keselamatan agar bisa bekerja dengan aman dan nyaman. Presiden Komisaris BTID, Tantowi Yahya, menambahkan bahwa KEK Kura Kura Bali bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi bagian dari visi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan Bali sesuai dengan Peta Jalan Ekonomi Kerthi Bali. “Kami berkomitmen dalam investasi yang berbasis budaya dan kesejahteraan masyarakat. Saat ini, 50% tenaga kerja BTID adalah orang lokal Bali, dengan 29% di antaranya berasal dari Serangan,” jelasnya.
BTID juga memastikan bahwa pengembangan KEK Kura Kura Bali tetap berpegang pada filosofi Tri Hita Karana dan Sad Kerthi. Penataan kawasan dilakukan dengan mengembangkan destinasi wisata, UMKM kuliner, kegiatan adat dan budaya, serta spiritual, sembari menjaga kesucian pura dan kesejahteraan warga. Tantowi juga menyayangkan beredarnya berita hoaks yang menafikan hubungan harmonis antara BTID dan Desa Adat Serangan.
“Mencari investor yang benar-benar peduli dengan Tri Hita Karana dan Desa Adat Serangan sudah cukup menantang, apalagi kalau ditambah dengan hoaks dan informasi bohong yang beredar,” tegasnya.
Sinergi nyata untuk kemajuan Serangan
Ketua MDA Kota Denpasar, Anak Agung Ketut Sudiana, juga membantah tuduhan adanya konflik.
“Saya sudah datang dan melihat sendiri hubungan baik antara BTID dan Desa Adat Serangan. Tidak ada yang dimarginalkan dalam penataan KEK Kura Kura Bali. Justru warga diberikan akses dan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan ini,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa sinergi ini telah berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik dalam aspek infrastruktur, ekonomi, maupun pelestarian budaya. “Ini contoh hubungan harmonis antara investor dan desa adat yang memberikan manfaat bagi Pulau Serangan, Kota Denpasar, Bali, hingga nasional,” pungkasnya.
BTID dan para tokoh masyarakat juga mengajak semua pihak, termasuk media, untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. BTID tetap terbuka untuk berdiskusi dan memberikan informasi akurat mengenai pengembangan KEK Kura Kura Bali dan manfaatnya bagi masyarakat luas. ama/ksm






