Nasional

PPKM Level 3 Diperpanjang, Gus Kiana: Menyadarkan Perut Lapar Memang Sulit


Denpasar, PancarPOS | Gubernur Bali akhirnya kembali mengeluarkan Surat Edaran Nomor 11 Tahun 2021 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 Covid 19 dalam Tatanan Kehidupan Era Baru di Provinsi Bali. Surat Edaran ini merupakan pelaksanaan instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 Covid 19 di Wilayah Jawa dan Bali. Secara umum ketentuan yang berlaku dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 11 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 Covid 19 hampir sama dengan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Covid 19 Tatanan Kehidupan Baru di Provinsi Bali. Surat Edaran tersebut mulai berlaku pada hari Rabu (Buda Pon, Bala), tanggal 21 Juli 2021 sampai dengan Minggu (Redite Paing, Ugu) 25 Juli 2021.

Ik#1bl-7/7/2021

Terkait perpanjangan PPKM Level 3 Covid-19 di Bali, Anggota Komisi III DPRD Denpasar Bali, Ida Bagus Ketut Kiana, SH., mengakui selama ini aspirasi dan keinginan masyarakat agar perpanjangan PPKM tidak berlanjut, karena sebagian besar kemungkinan masih belum bisa memahami. “Jika berlanjut atau tidak, mana yang lebih positif? Karena bagi Presiden Jokowi dan pejabat lainnya pasti tahu resiko dan segalanya, karena rakyat akan kurang simpati,” katanya saat dihubungi PancarPOS.com di Sanur, Denpasar, Kamis (22/7/2021). Namun menurutnya, jika diperpanjang sampai 25 Juli 2021, meskipun sebelumnya sempat beredar isu akan diperpanjang hingga 30 Juli 2021 ternyata jauh lebih banyak dampak positif daripada negatifnya. “Penanganan Covid-19 akan lebih cepat tuntas, sepanjang masyarakat mau membantu. Jangan dong ngumpul-ngumpul banyak, seperti upacara ngaben, kawinan maupun lainnya, meskipun sudah dibatasi. Tapi namanya masyarakat kan tidak mungkin bisa dibatasi yang datang,” sentil Ketua LBH Partai Hanura Bali itu.

1th#ik-10/5/2021

Selain itu, dari trend penambahan angka kasus positif di Bali ini, juga ada dampak positifnya, karena sekarang makin banyak yang sadar dan tahu Virus Covid-19 ternyata sangat berbahaya. Apalagi yang terkena kasus positif semakin banyak, sehingga vaksinasi berjalan lebih cepat dan lancar. Jadi bisa dipastikan penyebab meningkatnya kasus positif mengindikasikan sebelumnya sudah banyak yang kena virus ini, namun tidak pernah terlacak. “Oleh karena itu, jika sudah semuanya divaksin, maka hanya tinggal menunggu kasus positif Covid-19 di Bali turun dan melandai,” tegas Anggota DPRD Denpasar dari Dapil V Denpasar Selatan itu, seraya menyebutkan keputusan Presiden Jokowi memperpanjang PPKM Level 4 sampai 26 Juli 2021 mendatang dianggapnya tidak menjadi persoalan. Asalkan setelah selesainya perpanjangan PPKM Level 3 di Bali semua akses masuk penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai harus segera dibuka untuk wisatawan asing dari negara zona hijau atau zero kasus Covid-19.

1bl#ik-2021

“Contoh di Thailand, kan tamu asing bisa masuk, namun wajib PCR dengan catatan lamanya 2 minggu minimal. Karena 5 hari diisolasi, setelah itu baru boleh menginap di hotel dan jalan-jalan. Setelah seminggu atau 2 harinya wajib lagi di PCR di hotel sampai saat dia pulang,” beber Gus Kiana sapaan akrab politisi senior yang juga Guru Besar Perguruan Merpati Putih asal Sanur, Denpasar tersebut. Jadi menurutnya dengan Prokes yang ketat, kedatangan tamu mancanegara sebenarnya tidak begitu berdampak. Karena seharusnya yang perlu paling diperhatikan adalah akses pintu masuk di Gilimanuk yang semestinya bisa lebih diperketat dan diwaspadai. Dari analisa berbagai informasi diduga masih ada oknum petugas yang sengaja meloloskan orang masuk ke Bali tanpa proses yang benar. Untuk itu disarankan, setiap hari untuk menjaga pintu masuk di Gilimanuk, selain petugas jaga dari unsur Satpol PP dan aparat TNI Polri, juga harus bisa melibatkan pecalang. “Apalagi pecalang di Bali merupakan bagian dari keamanan adat di wilayahnya secara niskala,” papar penekun ilmu bela diri dan spiritual senior ini.

1bl#bn-20/7/2021

Gus Kiana juga merasa yakin kasus positif di Bali akan segera turun setelah perpanjangan PPKM ini, asal target vaksinasi sudah tercapai 70 persen. Di samping itu, selama PPKM masyarakat harus benar-benar membantu dengan tidak berkerumun. “Tapi jika tetap seperti itu dan masih berkerumun, maka jangan salahkan pemerintah. Kan harusnya jaga kesehatan masing-masing dulu,” tandasnya, sembari menyebutkan pelaksanaan PPKM di Denpasar semestinya bisa melibatkan aparat terbawah termasuk desa adat, karena lebih tahu wilayahnya. “Kan mereka yang tahu di mana ada yang melakukan upacara dan berkerumun. Maka bisa ditertibkan asal tidak ada ewuh pakewuh. Tapi sekarang kan belum dilibatkan secara penuh,” imbuhnya dengan membuktikan masih banyak ada undangan upacara yang menyebabkan masyarakat ramai dan berkerumun selama PPKM ini. “Berarti ini masih ada ewuh pakewuh, sehingga masyarakatnya juga belum sadar. Karena masyarakat perut lapar. Untuk menyadarkan perut lapar ini memang agak sulit,” pungkasnya.

1th-ksm#5/2/2021

Seperti diketahui sebelumnya, setelah memperhatikan aspirasi masyarakat, dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 11 Tahun 2021 ini, diberlakukan beberapa kelonggaran untuk sektor essensial dan non-essensial, yaitu Pertama, Sektor Non Essensial dapat beroperasi dengan karyawan yang bekerja dikantor/toko sebanyak 25%, lebih mengutamakan transaksi online, menerapkan protokol kesehatan sangat ketat, dan beroperasi sampai dengan pukul 21.00 Wita, (dalam Surat Edaran yang lama, sektor essensial tidak di izinkan beroperasi). Kedua, Kegiatan makan/minum di warung makan, rumah makan, kafe, pedagang kaki lima, dan lapak jajanan dapat beroperasi menerapkan protokol kesehatan sangat ketat, lebih mengutamakan delivery (layanan pesan antar), sampai dengan pukul 21.00 Wita. (dalam Surat Edaran yang lama, jam operasional sampai jam 20.00 Wita).

1bl#bn-13/7/2021

Ketiga, Lampu-lampu penerangan jalan tidak dipadamkan. Lampu yang dipadamkan hanya ditempat-tempat yang potensial terjadi kerumunan, misalnya dilapangan Taman Kota, Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung, Lapangan Puputan Margarana, di Objek/Destinasi Wisata, dan lain-lain. ama/tim/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close