Daerah

Wali Kota Jaya Negara Hadiri Pemelaspasan Candi Bentar dan Penyengker Setra Desa Adat Penatih


Denpasar, PancarPOS |《Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara menghadiri upacara Pemelaspasan Candi Bentar, Penyengker Setra, dan Jembatan Ring Pura Kahyangan Dalem Desa Adat Penatih, Selasa (17/2). Upacara ini menjadi momentum sakral dalam rangka penyucian sekaligus peneguhan fungsi kawasan setra sebagai ruang suci bagi masyarakat adat.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Anggota DPRD Kota Denpasar I Ketut Budha, Kepala Dinas Perumahan Kota Denpasar I Gede Cipta Sudewa Atmaja, Camat Denpasar Timur Ketut Sri Karyawati, serta Lurah Penatih I Wayan Murda.

Dalam prosesi tersebut, Wali Kota Jaya Negara melaksanakan mendem panca datu di kawasan setra, menandatangani prasasti, serta meninjau langsung penyengker yang telah diupacarai melaspas. Prosesi ini menandai bahwa bangunan yang telah rampung secara fisik kini telah disucikan secara niskala dan siap dimanfaatkan untuk kepentingan adat dan pelayanan umat.

Wali Kota Jaya Negara memberikan apresiasi tinggi kepada krama Desa Adat Penatih atas semangat gotong royong dalam membangun Candi Bentar dan tembok penyengker setra. Ia menilai, meskipun bantuan anggaran dari Pemerintah Kota Denpasar memiliki keterbatasan, krama desa mampu menunjukkan sinergi dan komitmen kuat hingga pembangunan dapat terwujud dengan baik.

“Dengan telah dilaksanakannya upacara melaspas tersebut, saya berharap Candi Bentar dan penyengker setra dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pelaksanaan swadarma pelayanan masyarakat, khususnya dalam prosesi upacara kematian serta kegiatan adat lainnya yang berkaitan dengan setra,” ujar Jaya Negara.

Sementara itu, Jro Bendesa Desa Adat Penatih, I Wayan Eka Yana, mengungkapkan rasa syukur karena seluruh rangkaian upacara dapat terlaksana dengan lancar dan penuh makna. Ia menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan upacara, pihak desa bersama warga telah melaksanakan pekeling guna memastikan batas ruang suci dan kawasan setra sesuai ketentuan adat.

Prosesi juga diawali dengan pengeruakan serta menghaturkan Banten Guru Piduka sebagai bentuk pakeling kepada Ida Betara. Hal ini dilakukan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan terencana dan terorganisir dengan baik, baik secara sekala maupun niskala.

Ia turut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Denpasar atas bantuan dan dukungan yang diberikan. Menurutnya, bantuan tersebut bukan hanya bernilai material, melainkan juga menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam menjaga dan melestarikan adat, tradisi, serta budaya sebagai warisan luhur bersama.

“Kami juga menghaturkan rasa syukur dan terima kasih kepada alam semesta, kepada bumi dan lingkungan sekitar yang telah memberikan keberkahan sehingga seluruh rangkaian upacara dapat terlaksana dengan baik, tertib, dan penuh khidmat,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa keberhasilan kegiatan ini tidak lepas dari partisipasi aktif seluruh krama desa, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan. Setiap peran telah dipersiapkan secara rinci, sehingga semangat gotong royong benar-benar terwujud dan menciptakan suasana harmonis di tengah masyarakat.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut turut dilaksanakan mupuk panca datu serta penanaman pohon dadap wong, kepah, pole, celagi, timbul, dan biyu akah. Penanaman pohon ini bukan sekadar simbol penghijauan, tetapi menjadi landasan dan cerminan kehidupan beragama yang berorientasi pada keseimbangan.

Menurut Bendesa, pohon-pohon tersebut melambangkan perlindungan, kesucian, keberlanjutan, dan keseimbangan hidup. Hal ini sejalan dengan ajaran untuk menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam lingkungan, sebagaimana filosofi hidup masyarakat Bali.

Ia berharap, apa yang telah dilaksanakan dalam upacara pemelaspasan ini membawa kerahayuan, keharmonisan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Desa Adat Penatih, sekaligus menjadi penguat semangat bersama untuk terus menjaga kelestarian budaya dan kesucian tempat-tempat suci. mas/ama/*


Back to top button