Denpasar, PancarPOS | Pulau Dewata, khususnya di Kota Denpasar, Badung, dan Tabanan kembali dilanda banjir parah saat perayaan Hari Raya Pagerwesi. Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah titik kota terendam, arus lalu lintas macet total, dan aktivitas masyarakat lumpuh. Fenomena ini bukan kali pertama terjadi, melainkan berulang dari tahun ke tahun dengan intensitas semakin parah.
Pemerhati lingkungan dan tata kota, Anak Agung Gede Agung A., ST., menilai persoalan ini bukan semata akibat curah hujan tinggi, tetapi buah pahit dari tata kelola perizinan yang kacau dan lemahnya penegakan aturan.
“Kalau kita bicara banjir, sejak zaman kerajaan pun hutan sudah dialihfungsikan. Bedanya, dulu ada tata kota yang baik. Sungai ditata, drainase dibuat, alun-alun disiapkan. Jadi meskipun ada alih fungsi, bencana bisa dicegah. Sekarang, seperti sungai di Denpasar malah dipersempit, bahkan ada bangunan berdiri di atas sungai dengan IMB resmi. Ini kan ironis,” tegasnya, pada Kamis (14/9/2025).
Menurutnya, kebanjiran dan kemacetan di Denpasar punya akar masalah yang sama: perizinan bobrok. Banyak izin mendirikan bangunan (IMB) atau persetujuan bangunan gedung (PBG) diterbitkan tanpa memperhatikan sempadan sungai dan jalan. Dampaknya, aliran air tersumbat, jalan menyempit, parkir liar menjamur, dan aktivitas bongkar muat barang toko modern dilakukan di badan jalan.
“Kalau diteliti, kebanjiran dan kemacetan ini bukan musibah alam semata. Ini murni akibat perizinan kacau dan lemahnya pengawasan. Satpol PP tidak tegas menindak pelanggaran perda. Bangunan di atas sungai atau di sempadan jalan tetap berdiri dengan tenang karena punya izin. Ini masalah serius,” tambahnya.
Ia menegaskan solusi sudah jelas: pemerintah harus berani membongkar bangunan yang melanggar sempadan sungai dan jalan. Normalisasi sungai mutlak dilakukan, sebagaimana pernah diterapkan di Bogor setelah banjir bandang meluluhlantakkan kawasan Puncak.
“Buktinya ada. Di Bogor, setelah sungai dibersihkan dari bangunan melanggar sempadan, banjir rutin tiap tahun bisa diatasi. Denpasar harus belajar dari situ. Tidak ada cara lain kecuali tegas bongkar. Kalau tidak, banjir dan macet akan terus jadi wajah buruk kota ini,” tutupnya. ama/ksm






