Daerah

HUT Ke-38 WHDI Bali, Gubernur Wayan Koster Titipkan 3 Penguatan Strategis Jaga Taksu Bali

Perempuan Hindu Diminta Kuasai Tatwa, Mandiri Ekonomi, dan Jadi Benteng Budaya


Denpasar, PancarPOS | Wayan Koster memberikan penegasan ideologis dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-38 Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Bali yang digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar, Wraspati Kliwon Menail, Kamis (12/2/2026).

Dalam sambutan yang dibacakan Staf Ahli Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, Gubernur Koster menyampaikan apresiasi atas konsistensi WHDI hampir empat dekade mengabdi menjaga kualitas perempuan Hindu Bali, memperkokoh keluarga, serta merawat nilai-nilai dharma secara sekala dan niskala.

“WHDI selalu hadir dengan program yang menyentuh langsung masyarakat. Peran WHDI dalam menjaga tradisi keagamaan serta memberikan edukasi sastra dan agama adalah vibrasi spiritual yang menjaga kesucian Pulau Dewata,” tegasnya.

Di hadapan Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Koster, yang hadir langsung dalam acara tersebut, ditegaskan pula bahwa visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali sejalan dengan program WHDI yang menyentuh pilar kehidupan masyarakat, khususnya dalam pembentukan karakter generasi, penguatan ekonomi keluarga, dan pemberdayaan perempuan.

Menurutnya, tanpa perempuan yang kuat, taksu Bali akan meredup perlahan. Karena itu, WHDI dinilai memiliki posisi strategis dalam memastikan keberlanjutan identitas dan martabat Bali.

Momentum HUT ke-38 ini, lanjutnya, menjadi refleksi penting dalam menyongsong 100 Tahun Bali Era Baru (2025–2125). Ia menitipkan tiga penguatan strategis yang harus menjadi fokus WHDI ke depan.

Pertama, penguatan tatwa. Perempuan Hindu diminta tidak hanya sibuk pada ritual, tetapi memahami makna filosofis setiap upacara. Pemahaman ini dinilai penting agar praktik keagamaan tidak kehilangan substansi spiritualnya.

Kedua, kemandirian ekonomi. Anggota WHDI didorong berdaya secara ekonomi melalui pengembangan IKM dan UMKM berbasis budaya. Produk berbasis kearifan lokal dinilai menjadi branding kuat Bali sekaligus menopang ketahanan ekonomi keluarga.

Ketiga, menjadikan perempuan sebagai benteng budaya. Di tengah derasnya arus budaya asing melalui pariwisata dan teknologi, perempuan diminta menjadi filter utama dengan mendidik anak-anak menggunakan bahasa Bali, bangga berbusana Bali, dan bangga menjadi orang Bali.

“WHDI harus berani ‘meboya’ dalam arti positif, berani menolak hal-hal yang merusak adat dan budaya, serta tampil di depan membela kebenaran berlandaskan dharma,” tegasnya.

Ketua WHDI Provinsi Bali, Tjok Istri Sri Rasmawati Yudhara, menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya berkomitmen menjalankan program secara konsisten dan berkelanjutan.

“Berbicara tentang generasi emas, kami terus mendorong penguatan layanan bermutu agar komitmen membentuk keluarga sehat dan sejahtera benar-benar terwujud,” ujarnya.

Peringatan HUT ke-38 WHDI kali ini juga diselaraskan dengan Bulan Bahasa Bali sebagai bentuk kontribusi konkret pelestarian budaya. Anggota WHDI mengikuti berbagai lomba seperti mekidung, makekawin, medharma wacana, serta membuat gebogan sebagai upaya mewariskan nilai luhur adat dan tradisi.

Mengangkat tema “Pemberdayaan Perempuan Membentuk Keluarga Sehat dan Sejahtera Menuju Indonesia Emas”, peringatan ini juga diisi peluncuran buku Dharmagita Panca Yadnya oleh Penasihat WHDI Provinsi Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, didampingi Ketua WHDI, yang ditandai dengan prosesi nyurat Ongkara di layar LED.

Peringatan ini bukan sekadar seremoni organisasi, tetapi penegasan bahwa perempuan Hindu Bali memegang peran sentral dalam menjaga keseimbangan antara spiritualitas, ekonomi, dan kebudayaan. Di tengah tantangan globalisasi, WHDI dituntut tetap teguh menjaga jati diri Bali agar taksu dan martabatnya tetap bersinar. mas/ama/*



MinungNews.ID

Saluran Google News PancarPOS.com

Baca Juga :



Back to top button