Pariwisata

Motor Ekonomi Bali di Masa Pandemi Semakin Sulit Bergerak


Denpasar, PancarPOS | Kondisi Pandemi Covid-19 semakin merebak ditambah dengan adanya virus varian baru yang sudah menular kepada masyarakat, sehingga pemerintah pusat mengambil kebijakan dengan pemberlakuan PPKM di wilayah Jawa dan Bali mulai 3-20 juli 2021. Dengan adanya pemberlakuan PPKM (Pembatasan Pergerakan dan Kegiatan Masyarakat) tersebut sudah dapat dipastikan pergerakan masyarakat antar daerah provinsi maupun antar negara untuk menuju Bali dengan peraturan protokol kesehatan yang ketat untuk mencegah penularan virus dengan sendirinya kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Bali akan menurun drastis. Menurut Dr. I Putu Anom SE,. M.Par., selaku etua ICPI (Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indpnesia) Wilayah Bali, dampak dari semua itu sudah tentu aktivitas sektor pariwisata pergerakannya akan terus melambat dan karena sektor pariwisata yang menyumbang sekitar 70 % pada PDRB (Product Domestic Regional Bruto) Bali tentu pergerakan ekonomi Bali akan terus melambat.

1mg#ik-21062021

“Bali akan mengalami masa-masa sulit dimasa mendatang karena walaupun sudah mulai ada usaha yang cukup baik untuk menggerakkan sektor primer dan sekunder akan tetapi pergerakannya tidak bisa secepatnya menggeliatkan ekonomi Bali,” kata Dekan Fakultas Pariwisata Unud tahun 2002-2013 itu di Denpasar, Rabu (7/7/2021). Demikian pula dikatakan walaupun nantinya pandemi sudah mereda tentu tidak bisa secepatnya bisa mengggerakkan sektor tersier terutama sektor pariwisata, karena calon wisatawan nusantara maupun mancanegara masih mempertimbangkan kemampuan ekonominya yang sudah pasti akan berusaha mengutamakan kebutuhan primer dan sekundernya. Bali yang memang sudah menjadikan sektor pariwisata sebagai motor ekonomi Bali tentunya dimasa pandemi sudah tentu akan menghadapi kondisi yang sangat sulit dimana kesempatan kerja dan peluang usaha semakin menurun.

“Untuk itu masyarakat dan pemerintah sudah harus mengetatkan ikat pinggang untuk secara cermat memilih dan memilah pengeluaran keuangan dengan memprioritaskan kebutuhan pokok yang urgent atau yang mendesak. Pengeluaran untuk sarana upacara umat Hindu pun bisa dikurangi, hal ini tentu harus sesuai petunjuk para tokoh agama terutama para Pendeta yang memahami tatwa/filsafat tersebut,” beber Anggota BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) kabupaten Badung 2014-2018 ini. Pandemi ini tentu akan berpengaruh terhadap struktur dan model aktivtas pariwisata Bali dalam artian aktivitas pariwisata tentu harus mengikuti prokes yang ditetapkan WHO maupun kebijakan pemerintah yang harus mempertimbangkan atau mensinergikan antara kepentingan kesehatan masyarakat umum dengan kegiatan kepariwisataan untuk memperoleh manfaat ekonomi dan tentunya harus menjamin kesehatan, keamanan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung.

1th#ik-10/5/2021

Disebutkan, ada kemungkinan wisatawan yang berkunjung lebih banyak perorangan, bersama keluarga atau dalam group kecil dan memilih menginap di akomodasi yang memiiki halaman yang terbuka dan akan wisatawan akan lebih banyak mengunjungi obyek wisata alam yang lebih terbuka, kalau mengunjungi wisata budaya tentu tidak boleh dalam jumlah besar atau berkunjung secara bergantian. Demikian pula menonton pentas senipun tidak bisa ditonton dalam jumlah besar terutama tempat pentas seni dalam ruangan tertutup. Kalau kondisi pandemi sudah benar-benar bisa menurun drastis atau bahkan sudah tidak ada penularan lagi atau obat untuk menyembuhkan sudah ditemukan dan sudah teruji bisa menyakit yang diakibatkan virus tersebut tentunya barulah kegiatan masyarakat dan aktivias pariwisata mulai bisa normal seperti kondisi sebelum pandemi beberapa tahun lalu. “Kalau pandemi sudah tidak ada lagi tentunya pariwisata akan tetap menjadi tumpuan pergerakan ekonomi Bali dan Bali akan tetap menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata) utama di Indonesia,” tegasnya.

Bahkan menurutnya akan tetap menjadi tujuan kunjungan utama wisatawan mancanegara dari berbagai belahan dunia karena keindahan alam serta keunikan budaya Bali yang bersumber dari nilai-nilai luhur Agama Hindu dan tentunya secara bersamaan harus menggerakkan sektor ekonomi yang lain diluar sektor pariwisata untuk mengantisipasi merosotnya sektor pariwisata yang sangat rentan dengan kondisi penyebaran pandemi dari berbagai jenis penyakit, kondisi politik, keamanan yang tidak kondusif yang sudah pasti mengurungkan niat wisatawan untuk berkunjung ke destinasi wisata. ama/ksm

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close