Nasional

Gung Tini Ajak Anak Muda Gaungkan Budaya Berkebaya


Denpasar, PancarPOS | Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Dr. A.A.A. Tini Rusmini Gorda SH, MM, MH mengatakan kebaya mengandung nilai kehidupan yang penuh makna. “Kebaya juga memiliki nilai kepatutan, kehalusan, dan sikap perempuan yang harus serba lembut,” kata Gung Tini yang juga Kepala Pusat Studi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) di Denpasar, Senin (5/4/2021). Hal itu disampaikan ketika menjadi pembicara Kongres Berkebaya Nasional (KBN) 2021 yang membawakan materi “Kolaborasi Pentahelix dalam Pemberdayaan Kebaya di Bali sesuai dengan Desa Kala Patra”.

1bl-bn#5/1/2020

Pada kesempatan itu, hadir pula sebagai pembicara Penasehat DWP Kementerian Agama Eny Takut, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemkominfo Septiana Tangkary, Wartawan VOA di Amerika Eva Mazrieva yang dipandu oleh moderator Indiah Marsaban. Menurutnya, kebaya sebagai busana yang dari dulu hingga saat ini masih sering digunakan oleh para perempuan Indonesia. Penggunaan kebaya saat ini tidak terbatas suku dan budaya tertentu saja, bukan hanya sekedar pakaian biasa. “Kebaya menyimpan makna khusus dan memiliki nilai – nilai kehidupan, di Bali sudah biasa dipakai sejak anak-anak,” ujarnya.

Bentuk kebaya yang sederhana sebagai wujud kesederhanaan, penggunaan kain yang melilit tubuh juga otomatis membuat pergerakan perempuan yang mengenakan menjadi terbatas dan sulit untuk bergerak cepat. Untuk itu, kebaya juga dapat menggambarkan identitas diri dan kepribadian si pemakai. Perkembangan kebaya mulai tahun 1600 dipakai perempuan Jawa (Yogyakarta dan Surakarta) dan Jawa Tengah. Sekitar Abad ke – 19 pada umumnya semua perempuan menggunakan kebaya sebagai pakaian sehari – hari. Namun kebaya masa kini setiap perempuan hanya digunakan pada perayaan tertentu saja.

1bl#ik-5/3/2021

Sedangkan kebaya di Bali mulai dari masuknya Belanda antara Tahun 1919 – 1931. Sebelumnya, kebaya hanya digunakan oleh kalangan puri saja. Ia sering dipanggil Gung Tini mengajak anak muda akan terus menggaungkan budaya bekebaya setiap hari Selasa seluruh daerah di tanah air. Dengan mempertahankan keberagaman model dan jenis kebaya pada masing – masing daerah. Upaya itu untuk melestarikan budaya leluhur bangsa dan memperkuat jati diri bangsa Indonesia. Bahkan, KBN 2021 mendorong kebaya dapat diakuai United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia. “Upaya ini sebagai tonggak perjuangan kebaya Indonesia agar diakui dunia, supaya program ini tidak seperti jamur musim hujan,” kata Gung Tini di Denpasar, Sabtu (3/4/2021).

Menurutnya, kebaya Indonesia pada masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri yang patut dijaga keberagamaannya. “Keragaman agar tetap dipertahankan untuk menghindari pabrikasi sehingga dapat mengoptimalkan para pengerajin dan UMKM,” tegas Gung Tini. Upaya yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok melalui berbagai kegiatan pemberian keterampilan, pengembangan pengetahuan, penguatan kemampuan, atau potensi yang mendukung agar dapat terciptanya kemandirian. Bali memiliki potensi besar dengan delapan kabupaten dan satu kota, 57 kecamatan, 716 desa dan desa adat, 3.625 banjar adat, 1.493 desa adat, 1.604 subak sawah dan 1.107 Subak Abian. aya/ama

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Back to top button
Website is Protected by WordPress Protection from eDarpan.com.

Close