Buleleng, PancarPOS | Bali tidak hanya berdiri di atas fondasi pariwisata. Di pesisir utara Pulau Dewata, tepatnya di Kecamatan Grokgak, Kabupaten Buleleng, potensi sumber daya laut dan pantai sedang diarahkan secara serius untuk menopang kedaulatan pangan dan memperkuat perekonomian daerah. Salah satu langkah konkret itu adalah pengembangan hilirisasi budidaya ikan bandeng laut melalui Keramba Jaring Apung (KJA).
Pengembangan ini dijalankan oleh masyarakat lokal yang bekerja sama dengan pengusaha, difasilitasi oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali, serta didukung oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng. Inovasi budidaya bandeng laut melalui KJA tersebut merupakan inisiatif baru yang didorong langsung oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali sebagai bagian dari transformasi sektor perikanan dari hulu ke hilir.
Selama ini, Buleleng telah lama dikenal sebagai pusat produksi benih nener (bandeng) unggulan di Bali, khususnya di Kecamatan Gerokgak yang aktif sejak tahun 1990-an. Produksi nener di wilayah ini bahkan mencapai hampir 15 miliar ekor per tahun. Jumlah tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga diekspor ke berbagai negara seperti Filipina, Taiwan, Singapura, Thailand, Srilanka, dan Malaysia.

Desa Patas di Kecamatan Grokgak menjadi sentra utama produksi benih nener berkualitas tinggi dan adaptif. Potensi ini menjadikan Buleleng sebagai salah satu pemasok utama benih bandeng di Indonesia. Selama bertahun-tahun, kekuatan sektor perikanan Buleleng memang bertumpu pada sektor hulu.
Kini arah kebijakan diperluas. Pengembangan budidaya ikan bandeng di Buleleng difokuskan pada hilirisasi, mengubah orientasi dari sekadar penghasil benih (nener) menjadi pembesaran ikan konsumsi berkualitas premium. Inisiatif ini berpusat di Gerokgak, khususnya Desa Patas dan Sumberklampok, melalui keramba tancap laut dan KJA.
Bandeng yang dibesarkan di laut melalui KJA memiliki karakter unggulan. Dagingnya lebih gurih, tidak berbau lumpur, teksturnya padat, serta mengandung gizi tinggi seperti protein dan asam lemak Omega-3. Keunggulan ini memberi daya saing tinggi di pasar global sekaligus meningkatkan nilai ekonomis dibanding hanya menjual benih.
Pendekatan hulu-hilir pun mulai terbangun secara utuh, dimulai dari penyediaan induk, produksi benih (nener), pembesaran ikan konsumsi, hingga peluang pengolahan ikan bandeng. Model ini memperkuat rantai nilai lokal sekaligus membuka ruang pertumbuhan ekonomi pesisir secara berkelanjutan.
Dalam kurun waktu enam bulan sejak awal budidaya, panen perdana akhirnya terlaksana pada Rabu, 4 Maret 2026. Panen tersebut dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Buleleng I Gede Supriatna, SH. bersama jajaran pemerintah daerah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali, serta Tim Percepatan Daulat Pangan Provinsi Bali yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA dan Dr. Ir. I Ketut Sudiarta, M.Si.

Momentum ini menjadi bukti bahwa perairan Buleleng, khususnya di Kecamatan Grokgak, tidak lagi hanya menyimpan potensi, tetapi telah menghasilkan produksi nyata. Berdasarkan perhitungan manual, satu unit KJA dengan diameter 10 meter dan kedalaman 5 meter mampu menghasilkan panen sekitar 3 ton bandeng dalam satu siklus.
Selaku Tim Percepatan Daulat Pangan Provinsi Bali yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc.MMA menegaskan bahwa langkah hilirisasi ini merupakan strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan Bali.
“Buleleng selama ini sudah sangat kuat di sektor benih dengan produksi hampir 15 miliar ekor per tahun. Namun nilai tambah terbesar justru ada pada pembesaran dan produk konsumsi. Karena itu hilirisasi menjadi strategi penting agar ekonomi perikanan daerah naik kelas,” ujar Rektor Universitas Dwijendra (Dwijendra University) ini.
Ia menambahkan, keberhasilan panen 3 ton per KJA menunjukkan bahwa inovasi budidaya laut di Grokgak memberikan hasil memuaskan dan layak dikembangkan lebih luas, tentu dengan pengelolaan yang disiplin dan terukur.
Menurutnya, pengembangan budidaya bandeng laut ini merupakan bagian dari implementasi konsep blue economy, yaitu pembangunan ekonomi berkelanjutan berbasis pemanfaatan sumber daya laut dan pantai secara bijaksana, bertanggung jawab, dan berkelanjutan dengan prinsip keharmonisan.
“Blue economy yang kita dorong harus selaras dengan visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Artinya ada keseimbangan antara manusia, ekosistem laut, aktivitas produksi, dan kegiatan ekonomi,” jelas Prof. Sedana.
Ia menekankan bahwa budidaya dalam KJA tidak boleh semata-mata mengejar produksi, tetapi harus menjaga keselarasan hubungan antara manusia dan lingkungan laut guna menjamin keberlanjutan sebagai bagian dari sustainable development. ama/ksm





