Ekonomi dan Bisnis

Pj. Bupati Lihadnyana Minta Inflasi Dikendalikan


Buleleng, PancarPOS | Laju inflasi di Kabupaten Buleleng sempat jadi sorotan pada tahun 2023. Betapa tidak, laju inflasi Buleleng saat itu mencapai 4,31 persen. Padahal laju inflasi nasional hanya 2,61 persen. Bahkan laju inflasi Provinsi Bali hanya 2,77 persen. Padahal pada tahun 2022 lalu, Buleleng baru saja menerima penghargaan sebagai daerah yang paling berhasil mengendalikan inflasi. Sehingga mendapatkan dana insentif daerah (DID). Laju inflasi kembali jadi perhatian Penjabat (Pj) Bupati Buleleng, Ketut Lihadnyana. Dia mengingatkan aga sistem perencanaan pembangunan di Buleleng disusun lebih komprehensif.

Menurutnya sistem perencanaan juga harus memperhitungkan laju inflasi. Karena laju inflasi akan berdampak ke berbagai hal. Sebagai ilustrasi saja. Laju inflasi yang terlalu tinggi, akan mengakibatkan harga komoditas pangan menjadi mahal. Dampaknya masyarakat tidak mampu membeli pangan, sementara gaji yang diterima stagnan. Pendapatan yang stagnan, yang diikuti dengan harga pangan melambung tinggi, akan memicu meningkatnya angka kemiskinan.

Untuk itu, Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana mengingatkan agar pengendalian laju inflasi dilakukan dengan serius. “Untuk menjaga daya beli, tingkat inflasi harus terjaga. Produksi harus terjaga. Termasuk aksesibilitas,” kata Lihadnyana pada acara Forum Konsultasi Publik di Gedung MR. I Gusti Ketut Pudja, Kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, Senin (5/2/2024). Menurutnya perencanaan pembangunan harus mempertimbangkan berbagai indikator. Termasuk di dalamnya indikator daya beli masyarakat.

Daya beli pun sangat kompleks. Bukan sekadar persoalan harga. Tapi juga ketersediaan bibit, pupuk, hingga infrastruktur pengairan maupun jalan produksi tani. “Harga pangan harus terjaga. Cek di hulunya, di produksinya. Berapa produksinya di Buleleng ini? Apa harganya naik atau tidak? Kalau dia naik, intervensi. Agar masyarakat memiliki kemampuan daya beli. Inilah yang dimaksud dengan sistem perencanaan yang komprehensif,” ujar Lihadnyana.

Selain itu, dia juga meminta agar penanganan stunting dilakukan secara komprehensif. Karena ada banyak factor yang mempengaruhi stunting. “Oleh karena itu, penanganan stunting ini harus direncanakan secara komprehensif juga. Tidak hanya langsung menangani orang yang busung lapar, tidak. Kita harus lakukan dari hulunya,” katanya. mas/ama/*

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan


Back to top button