Daerah

Gubernur Koster Doakan Kerahayuan Bali di Pura Ulun Danu Batur


Bangli, PancarPOS | Di tengah pusaran perubahan global yang kian agresif, Bali kembali menegaskan jati dirinya. Bukan lewat panggung politik, bukan pula melalui jargon pembangunan, tetapi dari ruang paling sakral: doa. Gubernur Bali, Wayan Koster, hadir langsung dalam Karya Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Kamis Wraspati Wage Watugunung, 2 April 2026, memohon satu hal yang menjadi napas Bali sejak dahulu: kerahayuan jagat.

Di pelataran pura yang menjadi salah satu pusat spiritual terpenting di Bali itu, Koster tidak sekadar hadir sebagai kepala daerah. Ia datang sebagai representasi kesadaran kolektif Bali bahwa keseimbangan alam, manusia, dan spiritualitas tidak bisa ditawar. Dalam suasana hening penuh makna, doa doa dipanjatkan, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan Bali yang sedang diuji oleh zaman.

Karya Ngusaba Kadasa bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah momentum penyucian semesta, penguatan energi spiritual, dan pernyataan tegas bahwa Bali berdiri di atas fondasi adat dan agama yang tak tergoyahkan. Di tengah berbagai tekanan modernisasi, dari pariwisata massal hingga persoalan lingkungan, ritual ini menjadi benteng terakhir yang menjaga Bali tetap Bali.

Kehadiran Koster dalam upacara ini menjadi pesan kuat bahwa pembangunan Bali tidak boleh kehilangan roh. Infrastruktur boleh dibangun, ekonomi boleh tumbuh, tetapi jika keseimbangan niskala diabaikan, maka Bali kehilangan jiwanya. Di sinilah letak keberanian kepemimpinan, menempatkan spiritualitas sebagai pusat, bukan pelengkap.

Turut hadir dalam persembahyangan tersebut, Pengemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Batur, Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, serta Pangelingsir Puri Agung Ubud Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati. Hadir pula Komjen Pol. Putu Jayan Danu Putra. Komposisi kehadiran ini mencerminkan satu hal bahwa Bali dijaga bersama oleh pemerintah, adat, dan kekuatan negara.

Usai persembahyangan, Koster tidak memilih menjauh. Ia justru turun ke tengah masyarakat, menyatu tanpa jarak, menyaksikan langsung Tari Wewalian yang dipentaskan di Madya Mandala. Di sinilah Bali berbicara melalui gerak tubuh, melalui irama, melalui simbol simbol sakral yang diwariskan lintas generasi.

Tari Rejang Dahabunga, Tari Batur, Tari Rejang Pemedak, Tari Baris Tumbak, hingga Tari Rejang Desa Tejakula tampil bukan sebagai hiburan, melainkan persembahan. Disusul Tari Baris Teruna, Baris Jojor, Baris Blongsong, Tari Bajra, Tari Presi, Tari Dadap, hingga Rejang Dee, semuanya mengalir sebagai energi spiritual yang menyatu dengan ritual.

Setiap tarian adalah doa. Setiap gerakan adalah simbol keseimbangan. Dan di tengah itu semua, kehadiran pemimpin daerah yang menyaksikan langsung tanpa sekat menjadi pesan penting bahwa Bali tidak boleh terputus dari akar budayanya.

Apa yang terjadi di Batur hari itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah pernyataan ideologis bahwa Bali menolak menjadi sekadar objek ekonomi. Bali memilih tetap menjadi subjek budaya dan spiritualitas. Dan dalam setiap langkah pembangunan, nilai nilai Tri Hita Karana harus tetap menjadi kompas utama.

Koster memahami satu hal mendasar bahwa jika Bali kehilangan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan, maka semua capaian fisik menjadi tidak berarti. Karena itu, doa kerahayuan jagat yang ia panjatkan bukan sekadar simbol, tetapi arah. Arah bahwa Bali akan terus dijaga, tidak hanya secara kasat mata, tetapi juga dalam dimensi yang tak terlihat. mas/ama/*


Back to top button