Pupuk Cair Bio-Inokulum, Solusi Pertanian Organik Alternatif di Masa Pandemi Covid-19

Denpasar, PancarPOS | Dampak masa pandemi Covid-19 telah melumpuhkan semua sektor, kecuali Pertanian yang tetap tumbuh produktif untuk mendukung ketahanan pangan. Peluang tersebut tidak disia-siakan oleh berbagai kalangan untuk melakukan pengembangan sistem pertanian alternatif yang mampu menghasilkan kuantitas dan kualitas produksi yang sehat secara berkelanjutan. Salah satu sistem pertanian yang mendukung konsep tersebut adalah sistem pertanian organik dengan pengembangan pupuk organik cair Bio-Inokulum. Sistem pertanian itu dirancang oleh Dr. I Wayan Sunada, SP., M.Agb., sebagai Penemu Pupuk Organik POC Bio-Inokulum Plus dan PESNAB Bio-Inokulum.

Doktor jebolan Fakultas Pertanian Universitas Udayana yang kini menjabat Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali itu, menjelaskan, prinsip-prinsip dasar pertanian organik adalah menjaga ekosistem tetap sehat dengan penerapan asas efisiensi pada sistem budidaya. Selain itu, melakukan kegiatan produksi dengan konsep pertanian berkelanjutan, sehingga menghasilkan produk bebas pestisida, dan menjaga kelestarian lingkungan. “Pupuk organik ini merupakan pupuk dengan bahan dasar yang diambil dari alam, dalam jumlah dan jenis unsur hara yang terkandung secara alami. Jadi Bio-Inokulum ini merupakan pupuk organik cair dengan kandungan dan fungsi yang lengkap dapat juga digunakan sebagai pupuk organik cair, zat pengatur tumbuh, biopestisida, agen hayati, dan enzim-enzim pertumbuhan tanaman,” paparnya di Denpasar, Sabtu (20/3/2021).

Sambungnya, Bio-Inokulum ini juga dapat digunakan sebagai fermentor dalam pembuatan pupuk padat dan biourine. Dengan kandungan dan fungsi yang lengkap pada produk Bio-inokulum, membuat produk ini lain daripada produk lain. “Cukup menggunakan satu produk namun memiliki multifungsi sehingga dilakukan pengembangan pupuk organik cair Bio-Inokulum,” jelasnya, seraya menambahkan perkembangan Bio-Inukulum sedang diujicobakan pada demplot tanaman padi seluas 2 Ha berlokasi di Bogor, Provinsi Jawa Barat bertujuan untuk mendukung kerjasama program pusat dengan persiapan bantuan pupuk gratis yang akan menjadi program kegiatan di tahun 2022.

“Bio inokulum merupakan jawaban dari pengembangan trichoderma dengan pembuatan isolate dan juga memiliki aktivator dan pestisida nabati untuk pengendalian hama penyakit pada tanaman khususnya hortikultura yang dikembangkan,” ungkap Sunada. Lanjutnya, dari perjalanan Bio-Inukulum yang dimulai dari tahun 2018 sampai dengan saat ini telah memiliki hak paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia melalui pengajuan dengan judul invensi Proses Pembuatan Aktivator Bio-Inokulum. Setelah diberikan surat legalitas langsung atas nama dirinya sebagai penemu dan menerima surat leaglitas tersebut pada tanggal penerimaan 23 September 2020 dengan nomor penerimaan S00202006952.

“Dari penunjukan surat ini diharapkan Bio-Inokulum dapat mengembangkan lagi inovasi peningkatan produksi tanaman serta juga mendukung visi Gubernur Bali Nangun Sat Kerti Loka Bali untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan, sandang dan papan dengan mewujudkan kemandirian pangan, meningkatkan nilai tambah juga daya saing pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani Bali,” pungkasnya. tra/ama









