Tabanan, PancarPOS | Turunnya produktifitas bawang putih di Bali mendorong Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Drs. I Made Urip, M.Si., ikut menggenjot Denfarm Inovasi Budidaya Proliga Bawang Putih yang diujicoba di Banjar Batusesa, Desa Candikuning, Baturiti, Tabanan, Jumat (4/6/2021). Demfarm dengan varietas Tawangmangu Baru dan Lumbu Hijau dengan umur panen 100 sampai 140 hari setelah tanam itu, dimulai dari 4 sampai 9 Juni 2021 dengan penanaman bersama oleh Wakil Rakyat Sejuta Traktor tersebut, bersama Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Kapuslitbang) Hortikultura Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si., Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Dr.Ir. Catur Hermanto, M.Si., Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali Dr.Drh. I Made Rai Yasa, MP., Asisten II Bidang Pembangunan dan Perekonomian Setda Tabanan Anak Agung Gede Dalem Tresna Ngurah beserta Kadis Pertanian Tabanan Ir. I Nyoman Budana, MM., yang langsung mengucapkan terimakasih, karena di Tabanan diberikan dukungan pengembangan bawang putih dengan teknologi terbaru.

“Bawang putih ini agar tidak lagi ditinggalkan petani, karena potensinya cukup besar. Kami berterimakasih kepada Bapak Urip dan lainnya, dan agar Tabanan tetap terus diperhatikan,” harapnya. Di sisi lain, Kepala BPTP Bali Made Rai Yasa mengakui produksi bawang putih masih sangat minim, karena hanya 14 ribu ton per hektar. Padahal tahun 2020 tercatat kebutuhan Bali sekitar 7.815 ton per tahun dengan produksi sekitar 1.340 ton per tahun, sehingga masih minus 6.475 ton per tahun. Dengan asumsi Rp20 ribu per kg, maka kerugian uang Bali keluar sekitar Rp129, 5 miliar per tahun. Sebenarnya tahun 2017 sempat ada upaya pengembangan bawang putih, namun tidak ada umbi dan hanya menghasilkan daun karena kesalahan teknologi. Karena itulah dikatakan Made Urip terus mendorong penerapan teknologi melalui Puslitbang Hortikultura agar melakukan kajian melalui Denfarm, sebelum pengembangan bawang putih. “Seperti Bawang Putih Kesuna Kayu di Penebel akan dikembangkan dan diteliti ulang untuk dikaji dengan target menghasilkan umbi yang lebih besar agar mirip bawang putih dari China. Jika berhasil dengan baik diharapkan terus dikembangkan karena ada tenaga yang siap dan mampu mengembangkan bawang putih ini, sekaligus mengurangi impor bawang putih,” tandasnya, seraya menyebutkan targetnya paling tidak bisa mencapai 20 ton per hektar karena di daerah lain bisa 23 ton per hektar.

Asisten II Setda Tabanan, Agung Dalem mewakili Bupati Tabanan merasa sangat berbahagia dan berbangga karena Tabanan dipilih menjadi tempat pengembangan bawang putih. “Mudah-mudahan bersama Pak Kapus dan Pak Made Urip bisa mengidupkan kembali bawang putih di Tabanan. Karena dari 10 kecamatan punya potensi hortikultura di Penebel dan Baturiti, sehingga bisa mengembangkan bawang putih ini di Tabanan,” tutupnya. Sementara itu, Kapuslitbang Hortikultura Muhammad Taufiq menyampaikan kegiatan pertanian harus berjalan terus meskipun Covid-19, karena hanya sektor pertanian yang tumbuh positif, khsususnya di Bali untuk membantu perekonomian masyarakat yang juga didukung terus oleh Made Urip. Ia berharap melalui Denfarm ini bisa meningkatkan produksi bawang putih, karena masih kekurangan sekitar 400 ribu ton yang dipenuhi dari impor, termasuk di Bali yang jumlah produksinya sangat sedikit dibandingkan dengan kebutuhannya. “Sekarang perlu dilakukan sosialisasi benih, karena siungnya kecil-kecil dan produksinya masih sangat rendah. Karena itu harus terus melakukan penelian dan pengembangan untuk mendapatkan benih dan mutu yang lebih baik dan tidak seperti ini lagi. Selain itu jika ditanam juga cepat produksinya agar kita tidak lagi impor bawang putih,” bebernya, sekaligus menegaskan dengan teknologi Proliga atau Produksi Lipat Ganda yang dikembangkan di Bali dipastikan produksinya lebih bagus karena bisa sampai 20 ribu ton per hektar, sehingga bisa menjadi percontohan. “Karena itu kita juga harapkan bantuan dan dukungan dari Pak Made Urip untuk pengembangan bawang putih ini,” sebutnya.

Mendengar harapan tersebut, Made Urip menyambut positif upaya peningkatan produktifitas bawang putih di Bali, dan Tabanan menjadi percontohan pengembangan bawang putih. Kolaborasi kerjasama ini juga untuk menggenjot produksi bawang putih di Bali, apalagi Tabanan selama ini menjadi sentra bawang putih. “Saya juga waktu kecil sempat meburuh nanem (buruh tanam, red) bawang putih, karena dulu bagus hasilnya. Tapi sekarang setiap tahun mengalami penurunan produktifitas,” kenang Ketua DPP PDI Perjuangan tiga periode yang kali ini membidangi Pertanian dan Lingkungan Hidup itu, sembari mengatakan saat ini di Bali juga menghadapi pandemi Covid-19 yang telah memberi dampak luar biasa, karena hampir 70 persen bergantung di sektor pariwisata. Apalagi belum bisa diprediksi kapan berakhir, sehingga satu-satunya yang menjadi andalan hanya sektor pertanian, sehingga akan terus memberikan dukungan baik secara politik maupun buget anggarannya. “Mudah-mudahan sektor pertanian ini bisa memberikan kontribusi positif bagi perekonomian di Bali, karena subak abian dan basahnya masih cukup kuat sebagai penyangga ekonomi masyarakat di luar sektor pariwisata. Saya juga berharap jajaran pertanian dan tim teknis, agar terus membantu meningkatkan produktifitas sektor pertanian, seperti pengembangan bawang putih ini. Mudah-mudah bisa membangkitkan ekonomi Bali,” pungkas M-U sapaan akrab Anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI itu. ama/ksm






