Olahraga dan Pendidikan

FGD Dharma Sevanam Pendidikan: Yayasan Rare Semesta Dorong Pelestarian Tradisi dan Budaya melalui Film Dokumenter


Karangasem, PancarPOS | Yayasan Rare Semesta menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dharma Sevanam Pendidikan” bertempat di Tapa Agung View Besakih. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pelestarian budaya dan tradisi melalui jalur pendidikan yang telah dipersiapkan oleh Yayasan Rare Semesta sejak tahun 2018, melalui koordinasi dengan berbagai tokoh adat serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi.

Kegiatan ini dihadiri oleh Perbekel Besakih, Kelihan Desa Adat Besakih, Kelihan Banjar Dinas dan Adat Besakih Kawan, Kepala SMP Negeri Satu Atap Besakih beserta guru pendamping, Pembina dan Ketua Yayasan Rare Semesta, Kepala PW Rare Semesta, Inisiator Kelas Belajar Merah Putih (KBMP), akademisi dan praktisi sebagai narasumber, serta peserta didik SMP Negeri Satu Atap Besakih. Pelibatan sivitas akademika SMP Negeri Satu Atap Besakih sebagai peserta utama bertujuan untuk menumbuhkan semangat peduli sejak dini terhadap pelestarian budaya luhur setempat.

Dalam sambutannya, Bd. Luh Putu Okta Kusumadewi, S.Tr.Keb., M.Pd. selaku Ketua Panitia Pelaksana menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud gerakan inisiatif untuk turut serta melestarikan budaya dan tradisi melalui jalur pendidikan. Ia menjelaskan bahwa Yayasan Rare Semesta diinisiasi sejak tahun 2012 dan resmi berbadan hukum pada 3 Agustus 2016, dengan tujuan utama memayungi pendirian Taman Kanak-Kanak di lingkungan Banjar Dinas Besakih Kawan. Dalam perkembangannya, yayasan ini memperluas fokus kegiatan pada bidang kesehatan, pendidikan, tradisi budaya, dan seni.

Yayasan Rare Semesta menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dharma Sevanam Pendidikan” bertempat di Tapa Agung View Besakih. (foto: ist)

Salah satu agenda utama yang disampaikan dalam FGD ini adalah progres program “Sinema Semesta”, kolaborasi antara Yayasan Rare Semesta dan GungD Art, yang saat ini tengah merampungkan proses finalisasi berbagai draft film dokumenter bermuatan budaya dan tradisi.

Film dokumenter tersebut disusun sebagai upaya pemaknaan tradisi yang adiluhung agar dapat dilestarikan melalui jalur pengetahuan dan pendidikan. Selanjutnya, draft film ini akan dilanjutkan melalui proses pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)/Hak Cipta bahkan Paten, sehingga dapat secara resmi menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.

Panitia menegaskan bahwa persembahan program ini merupakan wujud kepedulian dan kontribusi terhadap pelestarian tradisi budaya melalui media audiovisual. Kegiatan FGD ini secara khusus diarahkan sebagai ruang edukasi bagi peserta didik, guna memberikan pemahaman bahwa pelestarian budaya dan tradisi dapat pula dilaksanakan melalui pendekatan film dokumenter.

FGD ini menghadirkan tiga narasumber dari latar belakang pendidikan dan perfilman, yaitu:

1. I Gede Anggan Bayu Permana, S.Pd. dengan topik bahasan “Karya Ida Bhatara Turun Kabeh sebagai Media Pembelajaran Penguatan Adat dan Tradisi di Desa Besakih”

2. Dr. Ni Putu Hervina Sanjayanti, M.Pd. dengan topik bahasan “Peran Dokumenter Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih sebagai Media Pembelajaran Hindu”

3. I Gusti Made Aryadi, S.Sn., M.Sn. dengan topik bahasan “Tata Kelola Dokumenter Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih”

Selanjutnya, kegiatan diskusi dimoderatori oleh Ni Komang Anggi Nusa Indah. Panitia menyampaikan bahwa pada tahap diseminasi, setelah proses produksi film dokumenter rampung, akan turut diundang Narasumber Inti Dokumenter dari perwakilan Pemangku Pura Agung Besakih, Guru Besar rumpun Ilmu Budaya Universitas Udayana, serta praktisi Film Dokumenter, untuk memberikan penguatan dan masukan bagi kesempurnaan karya di masa mendatang.

Dalam penutup sambutannya, panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh tokoh adat, unsur pemerintahan desa, praktisi, akademisi, dan pegiat budaya yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini, serta menegaskan bahwa keberlanjutan program pelestarian budaya ini merupakan hasil sinergi bersama seluruh pemangku kepentingan.

Ketua Yayasan Rare Semesta, Putu Gede Asnawa Dikta, S.Pd., M.Pd. berharap kegiatan ini sebagai pemantik bagi generasi muda Besakih (pemegang tongkat estafet) agar bisa sejak dini sudah mulai turut andil dalam pelestarian budaya dan tradisi. Edukasi penting untuk dilakukan secara konsisten sehingga generasi mendatang tetap dapat melestarikan secara holistik. “Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan seluruh pihak, para tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, praktisi, dan akademisi. Terima kasih atas dukungan dan penghargaan dari Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, kolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)”.

Kepala SMPN Satu Atap Besakih, I Komang Aristana, S.Pd. memberikan apresiasi atas kolaborasi yang selalu mengedepankan pola edukasi berkelanjutan. “Terima kasih telah selalu melibatkan sivitas akademika Satap Besakih, yang notabena 86% merupakan para penerus budaya dan tradisi di Besakih”. Anak-anak Satap wajib mengenal wilayahnya, termasuk memahami apa yang menjadi budaya adiluhung. “Kegiatan ini sebagai momentum, untuk bersama-bersama menguatkan budaya dan tradisi melalui gerakan pendidikan”.

Kelihan Desa Adat Besakih (Bendesa), Jro Mangku Widiartha mengungkapkan bahwa tradisi upacara Karya Ida Bhatara Turun Kabeh merupakan prosesi yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Konsepsi di Pura Agung Besakih antar satu dengan pura yang lainnya memiliki keterhubungan yang utuh, sehingga alur ceritanya saling bertalian. “Kami mengapresiasi kegiatan ini sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian budaya/tradisi lokal yang adiluhung, apalagi jika dikemas menjadi bentuk dokumenter akan menjadi daya tarik yang lebih bernilai manfaat”

Perbekel Besakih, I Wayan Benya menyambut positif kegiatan ini dan mendorong agar dilanjutkan pada forum-forum diskusi lainnya untuk memperkaya wawasan tradisi dan budaya. Apalagi Pura Agung Besakih merupakan hulunya Pulau Bali, perlu adanya perhatian dan kepedulian bersama untuk melestarikan kebudayaan melalui berbagai aksi. tim/ama/ksm


Back to top button