Dunia Seni Bali Berduka, Maestro I Made Budiana Tutup Usia, Tinggalkan Warisan Abadi bagi Seni dan Budaya

Denpasar, PancarPOS | Dunia seni rupa Bali berduka. Maestro seni lukis Bali, I Made Budiana, meninggal dunia pada Jumat (10/4/2026) dalam usia 67 tahun. Kepergian seniman kelahiran 27 Maret 1959 itu meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan kalangan seniman, tetapi juga bagi ekosistem seni, budaya, dan pariwisata Bali.
Ungkapan belasungkawa disampaikan Pemilik MahaArt Gallery sekaligus Ketua Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) dan Ketua Harian Persatuan Perusahaan Tour dan Travel Indonesia (PPIT) Bali, Agus Maha Usadha. Menurutnya, berpulangnya I Made Budiana merupakan kehilangan besar bagi Bali karena sosoknya telah mendedikasikan hidup untuk menjaga napas seni dan budaya Pulau Dewata.
“Kepergian Bli Made Budiana bukan hanya kehilangan bagi keluarga. Ini adalah kehilangan besar bagi ekosistem seni dan budaya Bali,” ujar Agus Maha Usadha dalam pernyataan resminya.
Selama puluhan tahun, almarhum dikenal sebagai salah satu maestro seni rupa Bali yang konsisten berkarya dan terus bereksperimen. Lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI) ASRI Yogyakarta tahun 1987 tersebut mengawali perjalanan sebagai pelukis abstrak sebelum berkembang menjadi perupa yang kaya gagasan dan inovatif dalam mengeksplorasi berbagai media.
Bagi I Made Budiana, seni bukan sekadar menghadirkan keindahan visual. Setiap karya yang lahir merupakan refleksi spiritualitas, hubungan manusia dengan alam semesta, serta penghayatan terhadap nilai-nilai Tri Hita Karana yang menjadi filosofi kehidupan masyarakat Bali.
Agus Maha Usadha mengungkapkan, hubungan I Made Budiana dengan MahaArt Gallery bukan hanya sebatas seniman dan galeri. Almarhum merupakan sahabat sekaligus sosok yang memiliki peran penting dalam lahirnya MahaArt Gallery.
Ia mengenang, bersama almarhum Made Wianta, Chusin S., Sucipto Adi, dan sejumlah maestro seni lainnya, I Made Budiana terlibat dalam berbagai diskusi panjang untuk membangun ruang kreatif bagi para seniman Bali. Dari berbagai perdebatan kreatif tersebut lahirlah nama MahaArt Gallery beserta konsep dan logonya yang dirancang melalui goresan tangan almarhum Made Wianta.
Galeri tersebut kemudian berdiri di Sector Arcade Bali Beach Golf Course, Sanur, diawali dengan pameran bersama para tokoh pendirinya yang menjadi tonggak penting perkembangan ruang apresiasi seni rupa di Bali.
Pada 2010, I Made Budiana juga meluncurkan buku autobiografi berjudul Melintas Cakrawala yang mendokumentasikan perjalanan kreatifnya sejak masa kanak-kanak hingga menyelesaikan pendidikan seni. Buku tersebut menjadi catatan penting perjalanan seorang seniman yang mengabdikan hidupnya untuk dunia seni rupa.
“Bagi MahaArt Gallery, Bli Made adalah guru sekaligus sahabat. Banyak seniman muda tumbuh karena belajar, berdialog, dan memperoleh inspirasi dari beliau,” kata Agus.
Menurutnya, bagi Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI), sosok I Made Budiana menjadi bukti bahwa pariwisata budaya yang bermartabat harus bertumpu pada kekuatan budaya dan para seniman sebagai pusat pengembangannya.
Sementara bagi PPIT Bali, karya-karya I Made Budiana telah menjadi bagian penting daya tarik wisata budaya Bali. Wisatawan mancanegara datang tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga mencari pengalaman spiritual dan budaya yang tercermin melalui karya-karya seni para maestro Bali.
Jejak I Made Budiana juga melampaui batas Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di berbagai negara seperti Jerman, Swiss, Singapura, Malaysia, Australia, dan Belanda. Salah satu pencapaian pentingnya adalah penyelenggaraan pameran tunggal di The Northern Territory Museum of Arts and Sciences, Darwin, Australia, pada 1989 yang menjadi tonggak pengakuan internasional terhadap seni rupa Bali.
Melalui karya-karyanya, nama Bali semakin dikenal sebagai pusat seni dan budaya dunia. Lukisan-lukisannya menjadi koleksi berbagai kurator, kolektor, dan pecinta seni dari Australia, Eropa, Amerika hingga Asia, sekaligus menjadi jembatan diplomasi budaya yang memperkenalkan identitas Bali kepada masyarakat internasional.
I Made Budiana juga dikenal sebagai salah satu anggota Kelompok 7 Sanggar Dewata Indonesia (SDI), bersama I Made Djirna, Nyoman Erawan, Nyoman Wibawa, Made Sudibia, Made Bendi Yudha, dan Made Ruta. Kelompok perupa veteran tersebut selama puluhan tahun memberikan warna penting dalam perkembangan seni rupa modern Bali.
Agus Maha Usadha menegaskan, meski kepergian I Made Budiana meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan, warisan yang ditinggalkannya akan terus hidup melalui ribuan karya seni, ratusan murid, serta nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi penerus.
“Bersama keluarga dan seluruh sahabat seniman, kami berkomitmen menjaga semangat, konsistensi, dan dedikasi beliau dalam dunia seni. Karya-karya Bli Made akan terus menjadi inspirasi agar generasi mendatang dapat belajar dan memahami bahwa seni adalah bagian penting dalam menjaga martabat Bali,” ujarnya.
Ia menambahkan, almarhum telah memberikan teladan bahwa keindahan lahir dari ketulusan, kreativitas, dan konsistensi dalam berkarya.
“Bali hari ini berduka, tetapi Bali juga berterima kasih. Terima kasih Bli Made, karena telah mengajarkan kami bahwa keindahan sejati lahir dari ketulusan dan kerja nurani. Bahwa keindahan berserak di sekitar kita dan segala hal memiliki peluang menjadi karya seni apabila dikerjakan dengan kreativitas, ketekunan, dan keikhlasan,” tuturnya.
Kepergian I Made Budiana menjadi kehilangan besar bagi dunia seni rupa Indonesia. Namun, dedikasi, pemikiran, dan karya-karyanya diyakini akan terus hidup, menginspirasi seniman-seniman muda, serta menjaga nama Bali tetap harum di panggung seni dunia. ama/ksm









